About

Senin, 09 Desember 2013

Katarak

A.      ANATOMI DAN FISIOLOGI MATA
Mata memiliki struktur dan fungsi sebagai berikut:
a.   Sklera (bagian putih mata) : merupakan lapisan luar mata yang berwarna putih dan relatif kuat.
b.   Konjungtiva : selaput tipis yang melapisi bagian dalam kelopak mata dan bagian luar sklera
c.   Kornea : struktur transparan yang menyerupai kubah, merupakan pembungkus dari iris, pupil dan bilik anterior serta membantu memfokuskan cahaya.
d.   Pupil : daerah hitam di tengah-tengah iris.
e.   Iris : jaringan berwarna yang berbentuk cincin, menggantung di belakang kornea dan di depan lensa; berfungsi mengatur jumlah cahaya yang masuk ke mata dengan cara merubah ukuran pupil.
f.    Lensa : struktur cembung ganda yang tergantung diantara humor aqueus dan vitreus; berfungsi untuk membias cahaya sehingga difokuskan pada retina.
g.   Retina : lapisan jaringan peka cahaya yang terletak di bagian belakang bola mata; berfungsi mengirimkan pesan visuil melalui saraf optikus ke otak.
h.   Saraf optikus : kumpulan jutaan serat saraf yang membawa pesan visuil dari retina ke otak.
i.    Humor aqueus : cairan jernih dan encer yang mengalir diantara lensa dan kornea (mengisi segmen anterior mata), serta merupakan sumber makanan bagi lensa dan kornea; dihasilkan oleh prosesus siliaris.
j.    Humor vitreus : gel transparan yang terdapat di belakang lensa dan di depan retina (mengisi segmen posterior mata).

Bola mata terbagi menjadi 2 bagian, masing-masing terisi oleh cairan:
a.      Segmen anterior : mulai dari kornea sampai lensa.Segmen anterior berisi humor aqueus yang merupakan sumber energi bagi struktur mata di dalamnya.Segmen anterior sendiri terbagi menjadi 2 bagian:
·       Bilik anterior : mulai dari kornea sampai iris
·       Bilik posterior : mulai dari iris sampai lensa.
Dalam keadaan normal, humor aqueus dihasilkan di bilik posterior, lalu melewati pupil masuk ke bilik anterior kemudian keluar dari bola mata melalui saluran yang terletak ujung iris.
b.     Segmen posterior : mulai dari tepi lensa bagian belakang sampai ke retina.Segmen posterior berisi humor vitreus. Cairan tersebut membantu menjaga bentuk bola mata.


B.      Anatomi dan fisiologi Lensa
Anatomi Lensa
Lensa adalah struktur sirkuler, lunak dan bikonveks, avaskular, tidak berwarna dan hampir transparan sempurna. Tebalnya sekitar 4 mm dan diameter 9 mm, terletak di belakang iris, di depan badan vitreus. Titik pusat permukaan anterior dan posterior disebut polus anterior dan polus posterior, dan garis yang melewati kedua polus tersebut disebut aksis. Lensa tetap berada di tempatnya karena dari depan ditekan oleh akueos humor, dari belakang ditekan oleh vitreus humor dan digantung zonula atau ligamen suspensorium. Zonula adalah membran tipis yang menutupi permukaan dalam badan silier, prosessus siliaris dan lensa.Permukaan posterior lensa lebih cembung dibandingkan permukaan anterior dan lensa ini menempati fossa hialoidea badan vitreus.
Lensa terdiri atas 3 lapisan yaitu kapsul pada bagian luar, korteks dan nukleus pada bagian dalam.Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai dengan bertambahnya usia, serat-serat lamellar subepitel terus diproduksi sehingga lama kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastik. Nucleus dan korteks terbentuk dari lamella konsentris yang panjang dari serabut-serabut yang tepinya dihubungkan oleh bahan yang menyerupai perekat yang tertutup di dalam suatu kapsul tipis. Kapsul lensa adalah suatu membran yang semipermeabel yang akan memperbolehkan air dan elektrolit masuk. Kapsul ini merupakan membrane bening yang menutup lensa secara erat dan lebih tebal pada permukaan anterior.

Fisiologi Lensa
Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel atau terfokus ke retina.Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang.Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya.Kerjasama fisiologik tersebut antara korpus siliaris, zonula, dan lensa untuk memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring dengan pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan berkurang. Selain itu juga terdapat fungsi refraksi, yang mana sebagai bagian optik bola mata untuk memfokuskan sinar ke bintik kuning, lensa menyumbang +18.0- Dioptri.

C.    DEFENISI KATARAK
Katarak berasal dari bahasa Yunani “cataracta”yang berarti air terjun.
Katarak merupakan keadaan di mana terjadi kekeruhan pada serabut atau bahan lensa di dalam kapsul lensa (Sidarta Ilyas, 1998)
Katarak adalah proses terjadinya opasitas secara progresif pada lensa atau kapsul lensa, umumnya akibat dari proses penuaan yang terjadi pada semua orang lebih dari 65 tahun (Marilynn Doengoes, dkk. 2000).
Katarak adalah nama yang diberikan untuk kekeruhan lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan lensa), denaturasi protein lensa atau dapat juga akibat dari kedua-duanya yang biasanya mengenai kedua mata dan berjalan progesif. (Mansjoer,2000;62)
Jadi kesimpulan dari definisi diatas katarak adalah suatu keadaan patologik lensa di mana lensa rnenjadi keruh akibat hidrasi cairan lensa, atau denaturasi protein lensa. Kekeruhan ini terjadi akibat gangguan metabolisme normal lensa yang dapat timbul pada berbagai usia tertentu.

D.    KLASIFIKASI KATARAK
·       Katarak Kongenital
Katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun
Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun.Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat.
Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuri, toksoplasmosis, inklusi sitomegalik,dan histoplasmosis, penyakit lain yang menyertai katarak kongenital biasanya berupa penyakit-penyakt herediter seperti mikroftlmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik, displasia retina, dan megalo kornea.
Katarak kongenital digolongkan dalam katarak :
1.     kapsulolentikular, dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak polaris.
2.     katarak lentikular, termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja.

·       Katarak Juvenil
katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun
Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. Katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.
Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit lainnya seperti:
1. Katarak metabolic
Ø  Katarak diabetika dan galaktosemik (gula)
Ø  Katarak hipokalsemik (tetanik)
Ø  Katarak defisiensi gizi
Ø  Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom Lowe dan homosistinuria)
Ø  Penyakit Wilson
Ø  Katarak berhubungan dengan kelainan metabolik lain
2. Otot
Distrofi miotonik (umur 20-30 tahun)
3. Katarak traumatic
4. Katarak komplikata
Ø  Kelainan kongenital dan herediter (siklopia, koloboma, mikroftalmia, aniridia,
Ø  pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis)
Ø  Katarak degeneratif (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal), seperti Wagner dan
Ø  retinitis pigmentosa, dan neoplasma)
Ø  Katarak anoksik
Ø  Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal, ergot, naftalein, dinitrofenol,
Ø  triparanol (MER-29), antikholinesterase, klorpromazin, miotik, klorpromazin,
Ø  busulfan, besi)
Ø  Lain-lain kelainan kongenital, sindrom tertentu, disertai kelainan kulit
Ø  (sindermatik), tulang (disostosis kraniofasial, osteogenesis inperfekta,
Ø  khondrodistrofia kalsifikans kongenita pungtata), dan kromosom
Ø  Katarak radiasi


·     Katarak Senil
katarak setelah usia 50 tahun
Katarak senilis ini adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut, yaitu usia diatas 50 tahun.( Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3). Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti.Katarak senile ini jenis katarak yang sering ditemukan dengan gejala pada umumnya berupa distorsi penglihatan yang semakin kabur pada stadium insipiens pembentukkan katarak, disertai penglihatan jauh makin kabur.Penglihatan dekat mungkin sedikit membaik, sehingga pasien dapat membaca lebih baik tanpa kaca mata (second sight). Miopia artificial ini disebabkan oleh peningkatan indeks rafraksi lensa pada stadium insipient.( Vaughan, G, Asbury,T, Eva-Riordan, P, ed 14).
Tanda dan Gejala Katarak Senilis:
1.          Penglihatan kabur dan berkabut
2.          Merasa silau terhadap sinar matahari, dan kadang merasa seperti ada film didepan
3.          Mata
4.          Seperti ada titik gelap di depan mata
5.          Penglihatan ganda
6.          Sukar melihat benda yang menyilaukan
7.          Halo, warna disekitar sumber sinar
8.          Warna manik mata berubah atau putih
9.          Sukar mengerjakan pekerjaan sehari-hari
10.       Penglihatan dimalam hari lebih berkurang
11.       Sukar mngendarai kendaraan dimalam hari
12.       Waktu membaca penerangan memerlukan sinar lebih cerah
13.       Sering berganti kaca mata
14.       Penglihatan menguning
15.       Untuk sementara jelas melihat dekat
Katarak senile biasanya berkembang lambat selama beberapa tahun, Kekeruhan lensa dengan nucleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Katarak Senil Dapat Dibagi Atas Stadium:
1.       Katarak insipient :
Pada stadium ini akan terlihat hal-hal berikut: kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior ( katarak kortikal ). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks.
Katarak sub kapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan dan korteks berisi jaringan degenerative(benda morgagni)pada katarak insipient.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.(Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)

2.   Katarak Imatur :
Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa.Pada stadium ini terjadi hidrasi kortek yang mengakibatkan lensa menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa akan mmberikan perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi mioptik. Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris kedepan sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.( (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)

3.Katarak Matur:
Bila proses degenerasiberjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama-sama hasil desintegrasi melalui kapsul. Didalam stadium ini lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh karena deposit kalsium ( Ca ). Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat negatif.( (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2)
4. Katarak Hipermatur :
Katarak yang terjadi akibatkorteks yang mencair sehingga masa lensa ini dapat keluar melalui kapsul. Akibat pencairan korteks ini maka nukleus "tenggelam" kearah bawah (jam 6)(katarak morgagni). Lensa akan mengeriput. Akibat masa lensa yang keluar kedalam bilik mata depan maka dapat timbul penyulit berupa uveitis fakotoksik atau galukoma fakolitik (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2)

5.Katarak Intumesen :
Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa degenerative yang menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa disertai pembengkakan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal. Pencembungan lensa ini akan dapat memberikan penyulit glaucoma. Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopi lentikularis. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang meberikan miopisasi.
Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa. (Ilyas, Sidarta : Katarak Lensa Mata Keruh, ed. 2,)
6.     Katarak Brunesen :
Katarak yang berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama pada lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes militus dan miopia tinggi.Sering tajam penglihatan lebih baik dari dugaan sebelumnya dan biasanya ini terdapat pada orang berusia lebih dari 65 tahun yang belum memperlihatkan adanya katarak kortikal posterior. (Ilyas, Sidarta: Ilmu Penyakit Mata, ed. 3)
Klasifikasi katarak berdasarkan lokasi terjadinya:
1.     Katarak Inti (Nuclear)
Merupakan yang paling banyak terjadi.Lokasinya terletak pada nukleus atau bagian tengah dari lensa. Biasanya karena proses penuaan.
Keluhan yang biasa terjadi:
Ø  Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat, dan untuk melihat dekat melepas kaca matanya Setelah mengalami penglihatan kedua ini ( melihat dekat tidak perlu kaca mata ) penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning. Lensa lebih coklat
Ø  Menyetir malam silau dan sukar
Ø  Sukar membedakan warna biru dan ungu

2.     Katarak Kortikal
Katarak kortikal ini biasanya terjadi pada korteks.Mulai dengan kekeruhan putih mulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga mengganggu penglihatan.Banyak pada penderita DM.
Keluhan yang biasa terjadi:
Ø Penglihatan jauh dan dekat terganggu
Ø Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra

3.  Katarak Subkapsular
Mulai dengan kekeruhan kecil dibawah kapsul lensa, tepat pada lajur jalan sinar masuk.DM, renitis pigmentosa dan pemakaian kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama dapat mencetuskan kelainan ini.Biasanya dapat terlihat pada kedua mata.
Keluhan yang biasa terjadi:
Ø Mengganggu saat membaca
Ø Memberikan keluhan silau dan halo atau warna sekitar sumber cahaya
Ø Mengganggu penglihatan

·         Katarak Trauma
Katarak yang terjadi akibat trauma pada lensa mata. Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata.Sebagian besar katarak traumatik dapat dicegah.Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing, karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang korpus vitreum masuk dalam struktur lensa.
Pasien mengeluh penglihatan kabur secara mendadak.Mata jadi merah, lensa opak, dan mungkin disertai terjadinya perdarahan intraokular.Apabila humor aqueus atau korpus vitreum keluar dari mata, mata menjadi sangat lunak.Penyulit adalah infeksi, uveitis, ablasio retina dan glaucoma.
·         Katarak Sekunder
Menunjukkan kekeruhan kapsul posterior akibat katarak traumatik yang terserap sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak ekstrakapsular.
Epitel lensa subkapsul yang tersisa mungkin mencoba melakukan regenerasi serat-serat lensa, sehingga memberikan gambaran “telur ikan” pada kapsul posterior (manik-manik Elschnig).Lapisan epitel yang berproliferasi tersebut mungkin menghasilkan banyak lapisan, sehingga menimbulkan kekeruhan.Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik.Kontraksi serat-serat ini menimbulkan banyak kerutan-kerutan kecil di kapsul posterior, yang menimbulkan distorsi penglihatan.Semua ini menimbulkan penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.

E.       ETIOLOGI
Sebagian besar katarak terjadi karena proses degeneratif atau bertambahnya usia seseorang. Usia rata-rata terjadinya katarak adalah pada umur 60 tahun keatas. Akan tetapi, katarak dapat pula terjadi pada bayi karena sang ibu terinfeksi virus pada saat hamil muda.
Penyebab katarak lainnya meliputi :
·      Faktor keturunan.
·      Cacat bawaan sejak lahir. (congenital)
·      Masalah kesehatan, misalnya diabetes.
·      Penggunaan obat tertentu, khususnya steroid.
·      gangguan metabolisme seperti DM (Diabetus Melitus)
·      gangguan pertumbuhan,
·      Mata tanpa pelindung terkena sinar matahari dalam waktu yang cukup lama.
·      Rokok dan Alkohol
·      Operasi mata sebelumnya.
·      Trauma (kecelakaan) pada mata.
·      Disebabkan oleh paparan sinar radiasi
·      Faktor-faktor lainya yang belum diketahui.
F.       MANIFESTASI KLINIS
·     Penurunan ketajaman penglihatan dan silau serta gangguan fungsional yang diakibatkan oleh kehilangan penglihatan.
·     Pengembunan seperti mutiara keabuan pada pupil sehingga retina tak akan tampak dengan oftalmoskop
·     Pandangan menjadi kabur atau redup
·     Pupil tampak abu-abu atau putih
·     Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek
·     Peka terhadap sinar atau cahaya
·     Dapat melihat dobel pada satu mata (diplobia)
·     Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca
·     Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu
·     Kesulitan melihat pada malam hari
·     Melihat lingkaran di sekeliling cahaya atau cahaya terasa menyilaukan mata
·     Penurunan ketajaman penglihatan (bahkan pada siang hari)

G.      PATOFISIOLOGI
     Lensa yang normal adalah struktur posterior iris yang jernih, transparan, berbentuk seperti kancing baju, mempunyai kekuatan refraksi yang besar. Lensa mengandung tiga komponen anatomis.Pada zona sentral terdapat nucleus,diperifer ada korteks, dan yang mengelilingi keduanya adalah kapsul anterior dan posterior.Dengan bertambahnya usia, nekleus mengalami perubahan warna menjadi cokelat kekuningan. Disekitar opasitas terdapat densitas seperti duri dianterior dan posterior nucleus. Opasitas pada kapsul posterior merupakan bentuk katarak yang paling bermakna nampak seperti kristal salju pada jendela. Perubahan fisik dan kimia dalam lensa menyebabkan hilangnya transparansi.Perubahan pada serabut halus múltipel (zonula) yang memanjang dari badan silier kesekitar daerah diluir lensa,misalnya, dapat menyebabkan penglihatan mengalami distorsi. Perubahan kimia dalam protein lensa dapat menyebabkan koagulasi, sehingga mengabutkan pandangan dengan menghambat jalannya cahaya ke retina. Salah satu teori menyebutkan terputusnya protein lensa normal terjadi disertai influks air ke dalam lensa.Proses ini mematahkan serabut lensa yang tegang dan mengganggu transmisi sinar. Teori lain menyebutkan bahwa suatu enzim mempunyai peran dalam melindungi lensa dari degenerasi.Jumlah enzim akan menurun dengan bertambahnya usia dan tidak ada pada kebanyakan pasien yang menderita katarak.
Katarak biasanya terjadi di lateral, namun mempunyai kecepatan yang berbeda. Dapat disebabkan oleh kejadian trauma maupun sistemas, seperti diabetes, Namun sebenarnya merupakan konsekuensi dari proses penuaan yang normal.Kebanyakan katarak berkembang secara kronik dan “matang” ketika orang memasuki dekade ke tujuh. Katarak dapat bersifat kongenitaldan harus diidentifikasi awal, karena bila tidak terdiagnosa dapat menyebabkan ambliopia dan kehilangan penglihatan permanen. Factor yang paling sering berperan dalam terjadinya katrak meliputi radiasi sinar ultra violet B, obat-obatan, alcohol, merokok, diabetes, dan asupan vitamin anti oxidan yang kurang dalam jangka waktu lama
Lensa berisi 65% air, 35% protein, dan mineral penting.Katarak merupakan kondisi penurunan ambulan oksigen, penurunan air, peningkatan kandungan kalsium dan berubahnya protein yang dapat larut menjadi tidak dapat larut. Pada proses penuaan ,lensa secara bertahap kehilangan air dan mengalami peningkatan dalam usuran dan densitasnya.Peningkatan densitas diakibatkan oleh kompresi central serat lensa yang lebih tua. Saat serat lensa yang baru diproduksi dikortek, serat lensa ditekan menjadi central. Serat-serat lensa yang padat lama-lam menyebabkan hilangnya tranparansi lensa yang tidak terasa nyeri dan sering bilateral. Selain itu, berbagai penyebab katarak diatas menyebabkan ganguan metabolisme pada lensa mata. Gangguan metabolisme ini, menyebabkan perubahan kandungan bahan-bahan yang ada didalam lensa yang pada akhirnya menyebabkan kekeruhan lensa. Kekeruhan dapat berkembang diberbagai bagian lensa atau kapsulnya. Pada gangguan ini sinar yang masuk melalui kornea dihalangi oleh lensa yang keruh atau buram. Kondisi ini mengaburkan bayangan semu yang sampai pada retina. Akibatnya otak menginterprestasikan sebagai bayangan yang berkabut. Pada katarak yang tidak diterapi, lensa mata menjadi putih susu, kemudian berubah kuning, bahkan menjadi coklat atau hitam dan klien mengalami kesulitan dalam membedakan warna (Ns.Indriana N. Istiqomah,S.Kep : Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Mata)

H.  PENATALAKSAAN
Tidak ada terapi obat untuk katarak, dan tidak dapat diambil dengan pembedahan laser. Namun, masih terus dilakukan penelitian mengenai kemajuan prosedur laser baru yang dapat digunakan untuk mencairkan lensa sebelum dilakukan pengisapan keluar melalui kanula (Pokalo, 1992)
Bila penglihatan dapat dikoreksi dengan dilator pupil dan refraksi kuat sampai ke titik di mana pasien melakukan aktivitas sehari-hari, maka penanganan biasanya konservatif.
Pembedahan diindikasikan bagi mereka yang memerlukan penglihatan akut untuk bekerja ataupun keamanan.  Biasanya diindikasikan bila koreksi tajam penglihatan yang terbaik yang dapat dicapai adalah 20/50 atau lebih buruk lagi bila ketajaman pandang mempengaruhi keamanan atau kualitas hidup, atau bila visualisasi segmen posterior sangat perlu untuk mengevaluasi perkembangan berbagai penyakit retina atau sarf optikus, seperti diabetes dan glaukoma.
Pembedahan katarak adalah pembedahan yang paling sering dilakukan pada orang berusia lebih dari 65 tahun.Masa kini, katarak paling sering diangkat dengan anesthesia lokal berdasar pasien rawat jalan, meskipun pasien perlu dirawat bila ada indikasi medis.Keberhasilan pengembalian penglihatan yang bermanfaat dapat dicapai pada 95% pasien.
Ada 2 macam teknik pembedahan ;
1.        Ekstraksi katarak intrakapsuler : adalah pengangkatan seluruh lensa sebagai satu kesatuan.
2.        Ekstraksi katarak ekstrakapsuler : merupakan tehnik yang lebih disukai dan mencapai sampai 98 % pembedahan katarak.  Mikroskop digunakan untuk melihat struktur mata selama pembedahan.
Fakoemulsifisikasi merupakan penemuan terbaru pada ektraksi ekstrakapsuler yaitu pengambilan lensa melalui insisi yang lebih kecil dengan menggunakan alat ultrason frekuensi tinggi untuk memecah nucleus dan korteks lensa menjadi partikel kecil yang kemudian di aspirasi melalui alat yang sama yang juga memberikan irigasi kontinus. Teknik ini memerlukan waktu penyembuhan yang lebih pendek dan penurunan insidensi astigmatisme pasca operasi.Kedua teknik irigasi-aspirasi dan fakoemulsifikasi dapat mempertahankan kapsula posterior, yang nantinya digunakan untuk penyangga IOL (Implan lensa intrakuler).
Pengangkatan lensa
karena lensa kristalina bertanggung jawab terhadap sepertiga kekuatan fokus mata , maka bila lensa diangkat pasien memerlukan koreksi optikal yang dapat dilakukan dengan salah satu dari tiga metode:
a.             Kaca Mata Apakia mampu memberikan pandangan sentral yang baik.
          Pembesaran 25% - 30% menyebabkan penurunan dan distorsi pandangan perifer, yang menyebabkan kesulitan dalam memahami relasi special, membuat benda-benda nampak jauh lebih dekat dari yang sebenarnya.Kaca mata ini juga menyebabkan aberasi sferis, mengubah garis lurus menjadi lengkung.

b.             Lensa Kontak jauh lebih nyaman dan tidak terjadi pembesaran yang bermakna (5%-10%) , tak terdapat aberasi sferis, tidak ada penurunan lapang pandangan dan tidak ada kesalahan orientasi spasial.
c.             Implan Lensa Intraokuler (IOL) adalah lensa permanen plastic yang secara bedah diimplantasi kedalam mata. Mampu menghasilkan bayangan dengan bentuk dan ukuran normal karena mampu menghilangkan efek optikal lensa afakia yang menjengkelkan dan ketidak praktisan penggunaan lensa kontak, maka hamper 97% pembedahan katarak dilakukan bersamaan dengan pemasangan IOL.

I.         KOMPLIKASI
a.       Penyulit yg terjadi berupa : visus tdk akan mencapai 5/5 à ambliopia sensori
b.       Komplikasi yang terjadi : nistagmus dan strabismus
c.       Retinits pigmentosa
d.       Glaucoma
e.       Retinal detachment

J.      PERAN PERAWAT DALAM PENATALAKSANAAN KATARAK
Penatalaksanaan Keperawatan
1.     Peningkatan nutrisi
Penderita katarak dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung serat, untuk menghindari terjadinya konstipasi yang dapat menyebabkan hubungan dengan katarak.
2.     Memaksimalkan cara perawatan mata dan indera yang lain
(Long C, 2003)

Penatalaksanaan pasca bedah, seperti pembatasan aktivitas (Soeharjo, 2004)
a.      Mata tidak boleh kena air
b.     Menghindari mengendam saat defekasi
c.      Jangan menonton TV dalam jarak yang dekat
d.     Tidak boleh membaca dalam waktu yang lama
e.      Gunakan kaca mata  setiap hari untuk melindungi mata
f.      Mata tidak boleh digarut
g.     Kontrol ke poli mata pada waktu yang telah ditentukan

Tindakan Keperawatan
1.     Perawatan pasca bedah katarak
Menurut Effendi, (1998) perawatan sesudah pasca  operasi katarak  dilakukan setelah 24 jam, sebagai berikut: pertama ganti balutan, periksa mata dengan cermat terhadap adanya tanda penyulitan pasca operasi awal seperti kornea yang berawan ( karena edema )  bilik mata depan yang dangkal, atau hifema berikan tetesan mata Atrofin 1% dan salep mata tetrasiklin 1% setiap hari selama 5 hari, tambahkan salep mata hidrokortison sejak hari kedua pasca operasi. Pasien boleh pulang selama 5 hari, pemberian hidrokortison dapat diteruskan selama 2 sampai 3 minggu dan harus kembali pemeriksaan pasca operasi setelah 2 minggu.
Setelah berhasil operasi katarak, tubuh manusia berarti menyesuaikan diri dengan operasi dan sebagian  besar individu akan merasa melanjutkan kegiatan mereka sehari-hari. Tapi harus ada tindakan pencegahan dan perawatan pasca bedah bahwa mengadopsi setelah operasi katarak (Mansjoer, 2001)


2.     Tindakan pencegahan
a.      Dokter akan menyarankan untuk memakai kaca mata gelap selama satu minggu untuk melindungi mata dari setiap infeksi. Hal ini juga disarankan untuk tidak boleh menggosok mata.
b.     Jangan dibiarkan mata datang dikontak langsung dengan air dan sabun.
Dokter juga meyarankan untuk tetap tenang dan menghindari mata atau berenang.

c.      Mengambil tindakan pencegahan dan melihat bahwa mata tidak datang ke dalam kontak dengan debu kotoran. Juga menghindari mengemudi selama minimal satu minggu setelah operasi.

0 komentar:

Posting Komentar