About

Selasa, 04 November 2014

ANFIS SISTEM SENSORI DAN PERSEPSI PADA DEWASA-LANSIA

A. MATA  
                 1. Anatomi Mata
Mata adalah sistem optik yang memfokuskan berkas cahaya pada fotoresptor  yang mengubah energy cahaya menjadi impuls saraf.
Struktur Aksesori Mata
1.        Orbita adalah lekukan tulang yang berisi bola mata. Hanya seperlima rongga orbita yang terisi bola mata : sisa rongga berisi jaringan ikat dan adiposa, serta otot mata ekstrinsik yang berasal dari orbita dan menginsersi bola mata. Ada dua lubang pada orbit; foramen optic berfungsi untuk lintasan saraf dan arteri yang berkaitan dengan otot mata
2.        Tiga pasang otot mata (dua pasang otot rektus dan satu pasang otot oblik) memungkinkan mata untuk bergerak bebas kearah ventrikal, horizontal dan menyilang
3.        Alis mata melindungi mata dari keringat; kelopak mata (palpebrae) atas dan bawah melindungi mata dari kekeringan dan debu
4.        Fisura palpebral, atau ruang antara kelopak mata atas dan bawah, ukurannya bervariasi diantara individu dan menentukan penampakan mata
5.        Kantus medial terbentuk dari sambungan (juriction) medial kelopak mata atas dan bawah; kantus lateral terbentuk dari sambungan lateral kelopak mata atas dan bawah
6.        Karunkel adalah elevasi kecil pada sambungan medial. Bagian ini berisi kelenjar sebasea dan kelenjar keringat
7.        Konjungtiva adalah lapisan pelindung tipis epitelium yang melapisi setiap kelopak (konjungtiva palpebral) dan terlipat kembali di atas permukaan anterior bola mata (bulbar, atau okular, konjungtiva)
8.        Lempeng tarsal pada setiap kelopak mata adalah hubungan jaringan ikat yang rapat. KelenjarMelbornian, yang merupakan pembesaran kelenjar sebasea pada lempeng tarsal, mensekresi barier berminyak untuk mencegah air mata yang berlebihan pada kelopak mata bagian bawah
9.        Aparatus lakrimal penting untuk produksi dan pengaliran air mata. Air mata mengandung garam, mukosa dan lisozim, suatu bakteriosida. Cairan ini membasahi permukaan mata dan mempertahankan kelembabannya. Berkedip menekan kelenjar lakrimal dan menyebabkan produksi air mata. Air mata keluar melalui pungtum papilla lakrimal, yang menyambung kantong lakrimal. Kantong membuka kedalam duktus nasolakrimal yang pada gilirannya akan masuk kerongga nasal.
Struktur mata
1.        Lapisan terluar yang keras pada bola mata adalah tunika fibrosa. Bagian posterior tunika fibrosa adalah sklera opaque yang berisi jaringan ikat fibrosa putih
a.       Sklera memberi bentuk pada bola mata dan memberikan tempat perlekatan  untuk otot ekstrinsik
b.      Kornea adalah perpanjangan anterior yang transparan di bagian depan mata. Bagian ini mentransmisi cahaya dan memfokuskan berkas cahaya
2.        Lapisan tengah bola mata disebut tunika vaskular (uvea) dan tersusun dari koroid, badan siliaris dan iris.
a.      Lapisan koroid adalah bagian yang sangat terpigmentasi untuk mencegah refleksi internal berkas cahaya. Bagian ini juga sangat tervaskularisasi untuk memberikan nutrisi pada mata, dan elastic sehingga dapatmenarik ligamen suspensori.
b.      Badan siliaris, suatu penebalan di bagian anterior lapisan koroid, mengandung pembuluh darah dan otot siliaris. Otot melekat pada ligamen suspensorik, tempat perlekatan lensa. Otot ini penting dalam akomodasi penglihatan, atau kemampuan untuk mengubah focus dari objek berjarak jauh ke objek berjarak dekat di depan mata.
c.      Iris, perpanjangan sisi anterior koroid, merupakan bagian mata yang berwarna bening. Bagian ini terdiri dari jaringan ikat dan otot radialis serta sirkulasi, yang berfungsi untuk mengendalikan diameter pupil.
d.     Pupil adalah ruang terbuka yang bulat pada iris yang harus dilalui cahaya untuk dapat masuk ke interior mata.
3.        Lensa adalah struktur bikonveksi yang bening tepat di belakang pupil. Elastisitasnya sangat tinggi, suatu sifat yang akan menurun seiring proses penuaan.
4.        Rongga mata. Lensa pemisah interior mata menjadi dua rongga: rongga anterior dan rongga posterior.
a.       Rongga anterior terbagi menjadi dua ruang
1.      Ruang anterior : terletak di belakang kornea dan di depan iris: ruang posterior terletak di depan lensa dan di belakang iris
2.      Ruang tersebut berisi aqueous humor, suatu cairan bening yang diproduksi prosesus siliaris untuk mencukupi kebutuhan nutrisi lensa dankornea. Aqueous humor mengalir ke saluran Schlemm dan masuk ke sirkulasi darah vena
3.      Tekanan intra ocular pada aqueous humor penting untuk mempertahankan bentuk bola mata. Jika aliran aqueous humor terhambat, tekanan akan meningkat dan mengakibatkan kerusakan penglihatan, suatu kondisi yang disebut glaukoma.
b.      Rongga posterior terletak diantara lensa dan retina dan berisi vitreus humor. Semacam gel tranparan yang juga berperan untuk mempertahankan posisi retina terhadap kornea
5.      Retina, lapisan terdalam mata, adalah lapisan yang tipis dan transparan. Lapisan ini terdiri dari lapisan jaringan saraf dalam.
a. lapisan terpigmentasi luar pada retina melekat pada lapisan koroid. Lapisan ini adalah lapisan tunggal sel epitel kuboidal yang mengandung pigmen melanin dan berfungsi untuk menyerap cahaya berlebih dan mencegah refleksi internal berkas cahaya yang melalui bola mata. Lapisan ini juga menyimpan vitamin A
b. lapisan jaringan saraf dalam (optikal). yang terletak bersebelahan dengan lapisan terpigmentasi, adalah struktur kompleks yang terdiri dari berbagai jenis neuron yang tersusun dalam sedikitnya sepuluh lapisan terpisah.
(1) sel batang dan kerucut adalah reseptor fotosensitif yang terletak berdekatan dengan lapisan terpigmentasi. Sel batang adalah neuron silindris bipolar yang bermodifikasi menjadi dendrit sensitif cahaya. Setiap mata berisi sekitar 120 juta sel batang terletak terutama pada perifer retina. Sel batang tidak sensitif terhadap warna dan bertanggung jawab untuk penglihatan di malam hari. Sel kerucut berperan dalam persepsi warna. Sel ini berfungsi pada tingkat intensitas cahaya yang tinggi dan berperan dalam penglihatan di siang hari.
(2) neuron bipolar membentuk lapisan tengah dan menghubungkan sel batang  dan sel kerucut ke sel-sel ganglion.
(3) sel ganglion mengandung akson yang bergabung pada regia khusus dalam retina untuk membentuk saraf optik.
(4) sel horizontal dan sel amakrin merupakan sel lain yang ditemukan dalam retina, sel ini berperan untuk menghubungkan sinaps-sinaps lateral.
(5) cahaya masuk melalui lapisan ganglion, lapisan bipolar dan badan sel batang serta kerucut untuk menstimulasi prosesus dendrit dan memicu impuls saraf. Kemudian impuls saraf menjalar dengan arah terbaik melalui kedua lapisn sel saraf.
c. Bintik buta (diskus optik) adalah titik keluar saraf optik. Karena tidak ada fotoreseptor pada area ini. Maka tidak ada sensasi penglihatan yang terjadi saat cahaya jatuh ke area ini
d. Lutea makula adalah area kekuningan yang terletak agak lateral terhadap pusat
e. Fovea adalah pelekukan sentral makula lutea yang tidak memiliki sel batang dan hanya mengandung sel kerucut. Bagian ini adalah pusat visual mata : bayangan yang terfokus disini akan diinterpretasi dengan jelas dan tajam oleh otak.
f. jalur visual ke otak
(1) saraf optik terbentuk dari akson sel-sel ganglion yang keluar dari matan dan bergabung tepat disisi superior kelenjar hipofisis membentuk klasma optik.
(2) pada kiasma optik, serabut neuron yang berasal dari separuh bagian temporal (lateral) setiap retina tetap berada disisi yang sama sementara serabut neuron yang berasal dari separuh bagian nasal (medial) setiap retina menyilang ke sisi yang berlawanan.
(3) setelah kiasma optik, serabut akson membentuk traktus optik yang memanjang untuk bersinapsis dengan neuron dalam nuklei gerikulasi lateral talamus. Aksonnya menjalar ke korteks lobus oksipital.
(4) sebagian akson berhubungan dengan kolikuli superior, okulomotorik, dan nuklei pratektum untuk berpartisipasi dalam refleks pupilaris dan silliaris.

2. Fisiologi Mata pada Dewasa
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang  memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk  memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak (Junqueira, 2007).
Mata adalah organ fotosensitif yang sangat berkembang dan rumit, yang memungkinkan analisis cermat dari bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang dipantulkan objek. Mata terletak dalam struktur bertulang yang protektif di tengkorak, yaitu rongga orbita. Setiap mata terdiri atas sebuah bola mata fibrosa  yang kuat untuk mempertahankan bentuknya, suatu sistem lensa untuk memfokuskan bayangan, selapis sel fotosensitif, dan suatu sistem sel dan saraf yang berfungsi mengumpulkan, memproses, dan meneruskan informasi visual ke otak (Junqueira, 2007).
Untuk membawa sumber cahaya jauh dan dekat terfokus di retina, harus dipergunakan lensa yang lebih kuat untuk sumber dekat. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat maupun jauh dapat difokuskan di retina dikenal sebagai akomodasi. Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Otot siliaris adalah bagian dari korpus siliaris, suatu spesialisasi lapisan koroid di sebelah anterior. Pada mata normal, otot siliaris melemas dan lensa mendatar untuk penglihatan jauh, tetapi otot tersebut berkontraksi untuk memungkinkan lensa menjadi lebih cembung dan lebih kuat untuk penglihatan dekat. Serat-serat saraf simpatis menginduksi relaksasi otot siliaris untuk penglihatan jauh, sementara sistem saraf parasimpatis menyebabkan kontraksi otot untuk penglihatan dekat (Sherwood, 2001).
Proses visual dimulai saat cahaya memasuki mata, terfokus pada retina dan  menghasilkan sebuah bayangan yang kecil dan terbalik. Ketika dilatasi maksimal, pupil dapat dilalui cahaya sebanyak lima kali lebih banyak dibandingkan ketika sedang konstriksi maksimal. Diameter pupil ini sendiri diatur oleh dua elemen kontraktil pada iris yaitu papillary constrictor yang terdiri dari otot-otot sirkuler dan papillary dilator yang terdiri dari sel-sel epitelial kontraktil yang telah termodifikasi. Sel-sel tersebut dikenal juga sebagai myoepithelial cells (Saladin, 2006).
Jika sistem saraf simpatis teraktivasi, sel-sel ini berkontraksi dan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya dapat memasuki mata. Kontraksi dan dilatasi pupil terjadi pada kondisi dimana intensitas cahaya berubah dan ketika kita memindahkan arah pandangan kita ke benda atau objek yang dekat atau jauh. Pada tahap selanjutnya, setelah cahaya memasuki mata, pembentukan bayangan pada retina bergantung pada kemampuan refraksi mata (Saladin, 2006).
Beberapa media refraksi mata yaitu kornea (n=1.38), aqueous humour  (n=1.33), dan lensa (n=1.40). Kornea merefraksi cahaya lebih banyak dibandingkan lensa. Lensa hanya berfungsi untuk menajamkan bayangan yang ditangkap saat mata terfokus pada benda yang dekat dan jauh. Setelah cahaya mengalami refraksi, melewati pupil dan mencapai retina, tahap terakhir dalam proses visual adalah perubahan energi cahaya menjadi aksi potensial yang dapat diteruskan ke korteks serebri. Proses perubahan ini terjadi pada retina (Saladin, 2006).
Retina memiliki dua komponen utama yakni pigmented retina dan sensory retina. Pada pigmented retina, terdapat selapis sel-sel yang berisi pigmen melanin yang bersama-sama dengan pigmen pada koroid membentuk suatu matriks hitam yang mempertajam penglihatan dengan mengurangi penyebaran cahaya dan mengisolasi fotoreseptor-fotoreseptor yang ada. Pada sensory retina, terdapat tiga lapis neuron yaitu lapisan fotoreseptor, bipolar dan ganglionic. Badan sel dari setiap neuron ini dipisahkan oleh plexiform layer dimana neuron dari berbagai lapisan bersatu. Lapisan pleksiform luar berada diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic sedangkan lapisan pleksiformis dalam terletak diantara lapisan sel bipolar dan ganglionic (Seeley, 2006).
Setelah aksi potensial dibentuk pada lapisan sensori retina, sinyal yang terbentuk akan diteruskan ke nervus optikus, optic chiasm, optic tract, lateral geniculate dari thalamus, superior colliculi, dan korteks serebri (Seeley, 2006).
  
3 Fisiologi Mata pada Lansia
Pada indera penglihatan atau mata pada usia lansia mengalami perubahan struktur sehingga mengalami kemunduran dari fungsi secara normal, contoh pada bagian lensa terdiri sel-sel ynag secra normal sel-selnya selalu diaganti tetapi pada bagian tengah digantikan tetapi mengalami kesulitan ganda selain posisinya yang ditengah juga jauh dari aquos humerous sebagai suplai nitrisi, sehingga disebut sel tertua, karena bertambahnya usia maka sel bagian tengah ini mengalami kematian sehingga menjadi kaku, karena kaku maka menjadikan tidak lentur, lensa menjadi tidak mampu mengambil bentuk sferis (bulat) yang digunakan untuk akomodasi penglihatan jarak dekat.
Perubahan penglihatan dan fungsi mata dianggap normal dalam proses penuaan termasuk penurunan kemampuan dalam melakukan akomodasi, konstriksi pupil, akibat penuan, dan perubahan warna serta kekeruhan lansa mata, yaitu katarak.
Semakin bertambahnya usia, lemak akan berakumulasi di sekitar kornea dan membentuk lingkaran berwarna putih atau kekuningan di antara iris dan sklera. Kejadian ini disebut arkus sinilis, biasanya ditemukan pada lansia.
Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada penglihatan akibat proses menua:
1.   Terjadinya awitan presbiopi dengan kehilangan kemampuan akomodasi. Kerusakan ini terjadi karena otot-otot siliaris menjadi lebih lemah dan kendur, dan lensa kristalin mengalami sklerosis, dengan kehilangan elastisitas dan kemampuan untuk memusatkan penglihatan jarak dekat. Implikasi dari hal ini yaitu kesulitan dalam membaca huruf-huruf yang kecil dan kesukaran dalam melihat dengan jarak pandang dekat.
2.   Penurunan ukuran pupil atau miosis pupil terjadi karena sfingkter pupil mengalami sklerosis. Implikasi dari hal ini yaitu penyempitan lapang pandang dan mempengaruhi penglihatan perifer pada tingkat tertentu.
3.   Perubahan warna dan meningkatnya kekeruhan lensa kristal yang terakumulasi dapat menimbulkan katarak. Implikasi dari hal ini adalah penglihatan menjadi kabur yang mengakibatkan kesukaran dalam membaca dan memfokuskan penglihatan, peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, berkurangnya penglihatan pada malam hari, gangguan dalam persepsi kedalaman atau stereopsis (masalah dalam penilaian ketinggian), perubahan dalam persepsi warna.
4.   Penurunan produksi air mata. Implikasi dari hal ini adalah mata berpotensi terjadi sindrom mata kering.
5.   Pada masa dewasa akhir penurunan indera penglihatan bisa mulai dirasakan dan terjadi mulai awal masa dewasa tengah. Adaptasi terhadap gelap lebih menjadi lambat, yang berarti bahwa orang yang lanjut usia membutuhkan waktu lama untuk memulihkan kembali penglihatan mereka ketika keluar dari ruangan yang terang menuju ke tempat yang agak gelap.

b>  Telinga 
1. Anatomi Telinga
Struktur Telinga
Telinga merupakan alat pendengaran sekaligus keseimbangan didalam tubuh kita. dibagi menjadi bagian luar, tengah dan dalam.
1. Telinga luar terdiri dari pinna (aurikula) dan kanalis auditorius eksternus, dipisahkan dari telinga tengah oleh struktur seperti cakram yang dinamakan membrana timpani (gendang telinga). Telinga terletak pada kedua sisi kepala kurang lebih setinggi mata. Aurikulus melekat ke sisi kepala oleh kulit dan tersusun terutama kartilago, kecuali lemak dan jaringan bawah kulit pada lobus telinga. Aurikulus membantu pengumpulan gelombang suara dan perjalanannya sepanjang kanalis auditorus eksternus. Tepat didepan meatus ujung jari di meatus auditorus eksternus ketika membuka dan menutup mulut.
2. Membran Timpani (gendang telinga) adalah perbatasan telinga tengah. Membran timpani membentuk kerucut dan dilapisi kulit pada permukaan eksternal dan membran mukosa pada permukaan internal. Membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah. Dan memiliki tegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis.
3. Telinga Tengah  terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen yang membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dan telinga dalam). Jendela bulat memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis, dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin.
Tuba Eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan faring. Lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35mm,.normalnya, tuba eustachius tertutup. Namun, dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsava atau menguap dan menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dannmenyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.
4. Telinga Dalam (internal) berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, disisi medial telinga tengah. Telinga dalam terdiri dari dua bagian : labirin tulang dan labirin membranosa didalam labirin tulang.
a. labirin tulang adalah ruang berliku berisi perlimfe. Suatu cairan yang menyerupai cairan serebrospinal. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang temporal dan terbagi menjadi tiga bagian yaitu vestibula, saluran semisirkular dan koklea yang berbentuk seperti siput.
1. Vestibula adalah bagian sentral labirin tulang yang menghubungkan saluran semisirkular dengan koklea. Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan fenestra cochleae yang berhubungan dengan telinga tengah. Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perlimfe.
2. Rongga tulang saluran semisirkular menonjol dari bagian posterior vestibula. Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang ventrikal di setiap sudut kanannya. Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua saluran diatas.
b. labirin membranosa adalah serangkaian tuba berongga dan kantong yang terletak dalam labirin tulang dan mengikuti kontur labirin tersebut. Bagian ini mengandung cairan endolimfe, cairan yang menyerupai cairan intraselular.
Labirin membranosa dalam regia vestibula merupakan lokasi awal dua kantong, utrikulus dan sakulus yang dihubungkan dengan duktus endolimfe sempit dan pendek. Duktus semisirkular yang berisi endolimfe terletak dalam saluran semisirkular pada laburun tulang yang mengandung perilimfe. Setiap duktus semisirkular, utrikulus dan sakulus mengandung reseptor untuk ekuilibrium statis (bagaimana cara kepala berorientasi terhadap ruang bergantung pada gaya gravitasi) dan ekuilibrium dinamis (apakah kepala bergerak atau diam dan kecepatan serta arah gerakan). Utrikulus terhubung dengan duktus semisirkular sedangkan sakulus terhubung dengan duktus koklear dalam koklea.

2. Fisiologi Telinga pada Dewasa
Beberapa organ yang berperan penting dalam proses pendengaran adalah membran tektoria, sterosilia dan membran basilaris. Interaksi ketiga struktur penting tersebut sangat berperan dalam proses mendengar. Pada bagian apikal sel rambut sangat kaku dan terdapat penahan yang kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya, sehingga bila mendapat stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan.
Pada bagian puncak stereosillia terdapat rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia yang tinggi dengan stereosilia yang lebih rendah, sehingga pada saat terjadi defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan-gabungan yang lain, sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan mengakibatkan terbukanya kanal ion pada membran sel, maka terjadilah depolarisasi.
Gerakan yang berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai tersebut berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara intra sel, perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut. Potensial listrik koklea disebut koklea mikrofonik, berupa perubahan potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai pembangkit pembesaran gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel rambut luar (May, Budelis, & Niparko, 2004).
Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan dengan amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi stimulus yang diterima. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum pada bagian basal koklea, sedangkan stimulus berfrekuensi rendah (125 kHz) mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks.
Gelombang yang timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat mencapai bagian apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui bagian basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan meningkatkan gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan ini disebut sebagai cochlear amplifier.
Skema proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh telinga luar, lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan ke telinga dalam dan di proyeksikan pada membran basilaris, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.
Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran. (Keith, 1989).

3. Fisiologi Telinga pada Lansia
Penurunan pendengaran merupakan kondisi yang secara dramatis dapat mempengaruhi kualitas hidup. Kehilangan pendengaran pada lansia disebut presbikusis. Pada lansia lobule daun telinga memanjang dan terlihat kerutan dan saluran telinga menjadi sempit dan rambut yang melapisi saluran telinga lebih kasar dan kaku.
Berikut ini merupakan perubahan yang terjadi pada pendengaran akibat proses menua:
1.      Pada telinga bagian dalam terdapat penurunan fungsi sensorineural, hal ini terjadi karena telinga bagian dalam dan komponen saraf tidak berfungsi dengan baik sehingga terjadi perubahan konduksi. Implikasi dari hal ini adalah kehilangan pendengaran secara bertahap. Ketidak mampuan untuk mendeteksi volume suara dan ketidakmampuan dalam mendeteksi suara dengan frekuensi tinggi seperti beberapa konsonan (misal f, s, sk, sh, l).
2.      Pada telinga bagian tengah terjadi pengecilan daya tangkap membran timpani, pengapuran dari tulang pendengaran, otot dan ligamen menjadi lemah dan kaku. Implikasi dari hal ini adalah gangguan konduksi suara.
3.      Pada telinga bagian luar, rambut menjadi panjang dan tebal, kulit menjadi lebih tipis dan kering, dan peningkatan keratin. Implikasi dari hal ini adalah potensial terbentuk serumen sehingga berdampak pada gangguan konduksi suara.
4.      Presbiakusis (gangguan dalam pendengaran). Hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50% terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.

Faktor lain yang mempengaruhi pendengaran populasi manula, seperti pemajanan sepanjang terhadap suara keras (mis. jet, senjata api, mesin gergaji mesin). Beberapa obat, seperti aminoglik dan bahkan aspirin, mempunyai efek ototoksik gangguan ginjal dapat menyebabkan perlambatan pengeluaran obat pada manula. Banyak manula menelan quinin untuk mengatasi kram tungkai, yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran.

0 komentar:

Posting Komentar