About

Senin, 03 November 2014

Demensia

1 Pengertian Demensia
Istilah demensia  berasal dari bahasa asing emence yang pertama kali dipakai oleh Pinel (1745 - 1826). Pikun sebagaimana orang awam mengatakan merupakan gejala lupa yang terjadi pada orang lanjut usia. Pikun ini termasuk gangguan otak yang kronis. Biasanya (tetapi tidak selalu) berkembang secara perlahan-lahan, dimulai dengan gejala depresi yang ringan atau kecemasan yang kadang-kadang disertai dengan gejala kebingungan, kemudian menjadi parah diiringi dengan hilangnya kemampuan intelektual yang umum atau demensia. Jadi istilah pikun yang dipakai oleh kebanyakan orang, terminologi ilmiahnya adalah demensia. (Schaei & Willis, 1991 dalam Hartati & Widayanti, 2010).
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada intelegensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi, penyesuaian, dan kemampuan bersosialisasi. (Arif Mansjoer, 1999). Menurut Nugroho (2008), demensia adalah sindroma klinis yang meliputi hilangnya fungsi intelektual dan memori yang sedemikian berat sehingga menyebabkan disfungsi hidup sehari -hari. Demensia merupakan keadaan ketika seseorang mengalami penurunan daya ingat dan daya pikir lain yang secara nyata mengganggu aktivitas kehidupan sehari hari.
Grayson (2004) menyatakan bahwa demensia bukanlah sekedar penyakit biasa, melainkan kumpulan gejala yang disebabkan beberapa penyakit atau kondisi tertentu sehingga terjadi perubahan kepribadian dan tingkah laku.
Jadi, Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, bahasa,  penilaian (persepsi) dan kemampuan untuk memusatkan perhatian,gangguan dalam bersosialisasi, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.    

2 Epidemiologi
Penelitian yang dilakukan pada tahun 1998 menyatakan bahwa alzheimer menyerang mereka yang berusia di atas 50 tahun, sementara di Indonesia usia termuda yang mengalami penyakit ini berusia 56 tahun. Kira-kira 5% usia lanjut 65 - 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 - 1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 - 15% atau sekitar 3 - 4 juta orang. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 50 - 70%. Demensia vaskuler yang secara kausatif dikaitkan dengan penyakit serebrovaskuler penyebab kedua sekitar 15 - 20% sisanya 15 - 35% disebabkan demensia lainnya ( Wibowo, 2007 dalam Sri Hartati, 2010). Erkinjutti (2004) melaporkan kejadian demensia vaskuler pada populasi usia lebih dari 65 tahun sekitar 1,2 - 4,2% dan pada kelompok usia diatas 65 tahun menunjukkan peningkatan angka kejadian dari 0,7% dalam kelompok usia 65 - 69 tahun hingga mencapai 8,1% pada kelompok usia diatas 90 tahun. (Sri Hartati, 2010).
Menurut Hendrie dkk. yang melakukan penelitian di tahun 1995, meskipun faktor genetik memegang peranan yang penting terjadi demensia, nampaknya faktor lingkungan juga memberikan sumbangan besar pada faktor resikonya. Faktor lingkungan tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Menurut penulis, gaya hidup yang tidak sehat yang merupakan faktor resiko yang utama berbagai penyakit, misalnya stroke, penyakit jantung, hipertensi, diabetes mellitus. Di sisi lain menurut Final Report dari pemerintah Australia (2005) penyakit tersebut merupakan faktor resiko besar untuk terjadinya demensia. Penelitian yang dilakukan tahun-tahun sebelumnya menyatakan bahwa sekitar 70% penderita stroke mengalami gangguan kognitif (ringan - berat) dan sekitar 25-30% diantaranya berkembang menjadi demensia. Stroke kemungkinan secara langsung menyebabkan demensia atau stroke merupakan factor presipitasi proses degeneratip pada demensia seperti pada demensia Alzheimer (dalam Wibowo, 2007 dalam Sri Hartati, 2010).
Wilson, dkk, (1999) menyebutkan bahwa prevalensi demensia meningkat dengan cepat seiring bertambahnya usia, menyebabkan sakit sekitar 2% populasi antara usia 65-70 tahun dan 20% orang di atas usia 80 tahun. Dan data WHO tahun 2010 menunjukkan, di tahun 2010 jumlah penduduk dunia yang terkena demensia sebanyak 36 juta orang. Jumlah penderitanya diprediksi akan melonjak dua kali lipat di tahun 2030 sebanyak 66 juta orang.

3 Klasifikasi
1.      Klasifikasi berdasarkan umur
Beberapa ahli memisahkan demensia yang terjadi sebelum usia 65 tahun (demensia prasenilis) dan yang terjadi setelah usia 65 tahun (demensia senilis). Perbedaan ini berdasarkan asumsi yang penyebabnya berbeda-beda; degenerasi neural yang jarang pada orang muda dan penyakit vaskuler atau keadaan lanjut usia pada orang tua. Meskipun ekspresi penyakit dapat berbeda pada usia yang berbeda, kelainan utama pada pasien demensia dari semua usia adalah sama, dan pembedaan berdasarkan kenyataan (Wilson, dkk, 1999).

2.      Klasifikasi berdasarkan perjalanan penyakit
a.       Demensia Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang dapat diobati. Yang termasuk faktor penyebab yang dapat bersifat reversibel adalah keadaan/penyakit yang muncul dari proses inflamasi (ensefalopati SLE, sifilis), atau dari proses keracunan (intoksikasi alkohol, bahan kimia lainnya), gangguan metabolik dan nutrisi (hipo atau hipertiroid, defisiensi vitamin B1, B12, dll).
b.      Demensia Non Reversibel
Merupakan demensia dengan faktor penyebab yang tidak dapat diobati dan bersifat kronik progresif. Beberapa penyakit dasar yang dapat menimbulkan demensia ini adalah penyakit Alzheimer, Parkinson, Huntington, Pick, Creutzfelt-Jakob, serta vaskular.

3.      Klasifikasi berdasarkan kelainan asal
a.       Demensia Kortikal
Merupakan demensia yang muncul dari kelainan yang terjadi pada korteks serebri substansia grisea yang berperan penting terhadap proses kognitif seperti daya ingat dan bahasa. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia kortikal adalah Penyakit Alzheimer, Penyakit Vaskular, Penyakit Lewy Bodies, sindroma Korsakoff, ensefalopati Wernicke, Penyakit Pick, Penyakit Creutzfelt-Jakob.
Demensia kortikal ditandai dengan hilangnya fungis kognitif seperti bahasa, persepsi, kalkulasi.
b.      Demensia Subkortikal
Merupakan demensia yang termasuk non-Alzheimer, muncul dari kelainan yang terjadi pada korteks serebri substansia alba. Biasanya tidak didapatkan gangguan daya ingat dan bahasa. Beberapa penyakit yang dapat menyebabkan demensia subkortikal adalah penyakit Huntington, hipotiroid, Parkinson, kekurangan vitamin B1, B12, Folate, sifilis, hematoma subdural, hiperkalsemia, hipoglikemia, penyakit Coeliac, AIDS, gagal hepar, ginjal, nafas, dll.
Demensia subkortikal menunjukkan perlambatan kognitif dan proses informai (“bradiphrenia”), dan gangguan motivasi, suasana hati, dan bangun.

4.      Klasifikasi berdasarkan kerusakan struktur otak
Ada dua tipe demensia yang paling banyak ditemukan, yaitu Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskular.
a.       Demensia Alzheimer
Penyakit Alzheimer adalah penyakit degenerasi neuron koligenik yang merusak dan menimbulkan kelumpuhan, yang terutama menyerang orang berusia 65 tahun ke atas. Penyakit Alzheimer ditandai oleh hilangnya ingatan dan fungsi kognitif secara progresif. Penyebab degenerasi neuron kolinergik pada penyakit Alzheimer tidak diketahui (Price dan Wilson, 1995 dalam Arif Muttaqin, 2008). Sedangkan Grayson, C. (2004) menyebutkan bahwa Alzheimer adalah kondisi dimana sel saraf pada otak mengalami kematian sehingga membuat signal dari otak tidak dapat di transmisikan sebagaimana mestinya.
Demensia Alzheimer merupakan penyebab demensia yang paling sering ditemukan pada sekitar 50-60 % kasus demensia, yaitu demensia akibat hilangnya jaringan kortikal terutama pada lobus temporalis, parietalis, dan frontalis. Hal ini menyertai sebagian kasus dengan bertambahnya jarak antara girus dan pembesaran ventrikel (Wilson, dkk, 1999). Pada penyakit ini terjadi deposit protein abnormal yang menyebabkan kerusakan sel otak dan penurunan jumlah neuron hippokampus yang mengatur fungsi daya ingat dan mental. Kadar neurotransmiter juga ditemukan lebih rendah dari normal.
Tanda histologik adalah adanya beberapa kekacauan neurofibrialis dan plak sinilis. Plak dan kekacauan neurofibrialis ditemukan dalam otak orang tua yang normal tetapi meningkat jumlahnya pada penyakit Alzheimer, terutama dalam hipokampus dan lobus temporalis. Terkenanya hippocampal mungkin bertanggung jawab terhadap gangguan ingatan yang mungkin sebagian diperantarai oleh berkurangnya aktivitas kolinergik (Wilson, dkk, 1999).
Penyakit demensia alzheimer menurut Nugroho (2008) dapat berlangsung dalamtiga stadium yaitu stadium awal, stadium menengah, dan stadium lanjut.
1)      Stadium awal atau demensia ringan
Ditandai dengan gejala yang sering diabaikan dan disalahartikan sebagai usia lanjut atau sebagai bagian normal dari proses menua. Umumnya klien menunjukkan gejala kesulitan dalam berbahasa, mengalami kemunduran daya ingat secara bermakna, disorientasi waktu dan tempat, sering tersesat ditempat yang biasa dikenal, kesulitan membuat keputusan, kehilangan inisiatif dan motivasi, dan kehilangan minat dalam hobi dan agitasi.
2)      Stadium menengah atau demensia sedang
Ditandai dengan proses penyakit berlanjut dan masalah menjadi semakin nyata. Pada stadium ini, klien mengalami kesulitan melakukan aktivitas kehidupan sehari- hari dan menunjukkan gejala sangat mudah lupa terutama untuk peristiwa yang baru dan nama orang, tidak dapat mengelola kehidupan sendiri tanpa timbul masalah, sangat bergantung pada orang lain, semakin sulit berbicara, membutuhkan bantuan untuk kebersihan diri (ke toilet, mandi dan berpakaian), dan terjadi perubahan perilaku, serta adanya gangguan kepribadian.
3)      Stadium lanjut atau demensia berat
Ditandai dengan ketidakmandirian dan inaktif total, tidak mengenali lagi anggota keluarga (disorientasi personal), sukar memahami dan menilai peristiwa, tidak mampu menemukan jalan di sekitar rumah sendiri, kesulitan berjalan, mengalami inkontinensia (berkemih atau defekasi), menunjukkan perilaku tidak wajar dimasyarakat, akhirnya bergantung dikursi roda atau tempat tidur.
Penyebab demensia alzheimer masih belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori menjelaskan kemungkinan adanya faktor genetik, radikal bebas, toksin amiloid, pengaruh logam alumunium, dan akibat infeksi virus. Faktor predisposisi dan resiko dari penyakit ini adalah usia, riwayat penyakit alzheimer (keturunan), kelamin, pendidikan. Faktor resiko yang kemungkinan juga berpengaruh ialah adanya keluarga dengan sindrom Down, fertilitas yang kurang, kandungan alumunium pada air minum, dan defisiensi kalsium.

b.      Demensia Vaskular
Demensia tipe vascular disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi dapat diduga sebagai demensia vaskular. Ditemukan umumnya pada laki-laki, khususnya dengan riwayat hipertensi dan factor kardiovaskuler lainnya. Demensia ini berhubungan dengan penyakit serebro dan kardiovaskuler seperti hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung, diabetes, dll. Gangguan terutama mengenai pembuluh darah serebral berukuran kecil dan sedang yang mengalami infark dan menghasilkan lesi parenkhim multiple yang menyebar luas pada otak. Penyebab infark berupa oklusi pembuluh darah oleh plaq arteriosklerotik atau tromboemboli dari tempat lain( misalnya katup jantung).
Demensia Vaskular merupakan penyebab kedua demensia yang terjadi pada hampir 40 % kasus. Gambaran klinis dapat berupa gangguan fungsi kognitif, gangguan daya ingat, defisit intelektual, adanya tanda gangguan neurologis fokal, aphasia, disarthria, disphagia, sakit kepala, pusing, kelemahan, perubahan kepribadian, tetapi daya tilik diri dan daya nilai masih baik.
24  Etiologi
1.      Penyebab utama dari penyakit Demensia adalah penyakit alzheimer, yang penyebabnya sendiri belum diketahui secara pasti, namun diduga penyakit Alzheimer disebabkan karena adanya kelainan faktor genetik atau adanya kelainan gen tertentu. Pada penyakit alzheimer, beberapa bagian otak mengalami kemunduran, sehingga terjadi kerusakan sel dan berkurangnya respon terhadap bahan kimia yang menyalurkan sinyal di dalam otak. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi.
2.      Penyebab kedua dari Demensia yaitu, serangan stroke yang berturut-turut. Stroke tunggal yang ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah yang disebut dengan infark. Demensia yang disebabkan oleh stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak.
Wilson, dkk, (1999) menyebutkan bahwa pada sebagian besar kasus, penyakit Alzheimer bertanggung jawab terhadap 50-90 %  dan penyakit vaskuler terhadap 5-10 % kasus-kasus demensia yang dirujuk ke rumah sakit. Infark serebral mendukung hilangnya intelektual pada lebih 15% pasien dengan penyakit Alzheimer yang ditemukan pada autopsy (demensia campuran). Demensia yang dianggap karena penyalahgunaan etenol bertanggung jawab terhadap 5-10% kasus. Gangguan metabolik, neoplasma serebral, hematoma subdural, dan hidrosefalus tekanan normal bertanggung jawab sekitar 10% kasus, dan khorea Huntington bertanggung jawab sekitar 2%. Penyebab sisi lainnya, meliputi penyakit Creutzfeldt-Jakob, yang jarang, bertanggung jawab kurang dari 1% kasus. Pada infeksi virus imunodefisiensi manusia (HIV), demensia terjadi 30-40% pasien. Penyakit Lewy body difus disadari sebagai penyebab demensia degenerative.
Adapun kemungkinan penyebab demensia adalah sebagai berikut:
1.      Demensia Degeneratif, seperti: Penyakit Alzheimer, Demensia frontotemporal (misalnya; Penyakit Pick), Penyakit Parkinson, Demensia Jisim Lewy, Ferokalsinosis serebral idiopatik (penyakit Fahr), kelumpuhan supranuklear yang progresif.
2.      Lain-lain, seperti: Penyakit Huntington, Penyakit Wilson, Leukodistrofi metakromatik,  Neuroakantosistosis.
3.      Kelainan Psikiatrik, seperti: Pseudodemensia pada depresi, penurunan fungsi kognitif pada skizofrenia lanjut.
4.      Fisiologis, seperti: Hidrosefalus tekanan normal
5.      Kelainan Metabolik, seperti: Defisiensi vitamin (misalnya vitamin B12, folat), Endokrinopati (misalnya hipotiroidisme), gangguan metabolisme kronik (contoh : uremia).
6.      Tumor, seperti: Tumor primer maupun metastase(misalnya meningioma atau tumor metastasis dari tumor payudara atau tumor paru).
7.      Trauma, seperti: Dementia pugilistica, posttraumatic dementia, Subdural hematoma
8.      Infeksi, seperti: Penyakit Prion (misalnya penyakit Creutzfeldt-Jakob, bovine spongiform encephalitis, (Sindrom Gerstmann- Straussler), Acquired immune deficiency syndrome (AIDS), Sifilis.
9.      Kelainan jantung, vaskuler dan anoksia, seperti: Infark serebri (infark tunggak maupun mulitpel atau infark lakunar), Penyakit Binswanger (subcortical arteriosclerotic encephalopathy), Insufisiensi hemodinamik (hipoperfusi atau hipoksia)
10.  Penyakit demielinisasi, seperti: Sklerosis multiple
11.  Obat-obatan dan toksin, seperti: Alkohol, Logam berat, Radiasi, Pseudodemensia akibat pengobatan (misalnya penggunaan antikolinergik), Karbon monoksida.

5  Patofosiologi
Keadaan demensia pada usia lanjut terjadi tidak secara tiba-tiba, tetapi berangsur-angsur melalui sebuah rangkaian kesatuan yang dimulai dari “senescence” berkembang menjadi predemensia, dan selanjtnya baru menjadi demensia.
Pengenalan diri demensia berarti bias mengenali :
·         Kondisi normal
      Kondisi kognitif pada lanjut usia yang terjadi dengan adanya penambahan usia dan bersifat wajar, seperti keluhan mudah lupa secara subjektif, tidak ada gangguan kognitif maupun demensia.
·         Kondisi predemensia
      Kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan cirri mudah lupa yang makin nyata dan dikenali (diketahui dan diakui) oleh orang dekatnya. Mudah lupa subjektif dan objektif serta ditemukan performal kognitif yang rendah tetapi belum ada tanda-tanda demensia
·         Kondisi demensia
      Kondisi gangguan kognitif pada lanjut usia dengan berbagai jenis gangguan mudah lupa yang konsisten, disorientasi terutama dalam hal waktu, gangguan pada kemampuan pendapat dan pemecahan masalah, gangguan dalam hubungan dengan masyarakat, gangguan dalam aktivitas di rumah, dan minat intelektual, serta gangguan dalam pemeliharaan diri.

6    Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala demensia  menurut Hurley(1998) adalah sebagai berikut:
1.      Rusaknya seluruh jajaran fungsi kognitif.
2.      Awalnya gangguan daya ingat jangka pendek.
3.      Gangguan kepribadian dan perilaku (mood swings).
4.      Defisit neurologi dan fokal.
5.      Mudah tersinggung, agitasi dan kejang.
6.      Gangguan psikotik : halusinasi, ilusi, waham, dan paranoid.
7.      Keterbatasan dalam ADL (Activities of Daily Living)
8.      Kesulitan mengatur penggunaan keuangan.
9.      Tidak bisa pulang kerumah bila bepergian.
10.  Lupa meletakkan barang penting.
11.  Sulit mandi, makan, berpakaian dan toileting.
12.  Mudah terjatuh dan keseimbangan buruk.
13.  Tidak dapat makan dan menelan.
14.  Inkontinensia urine.
15.  Dapat berjalan jauh dari rumah dan tidak bisa pulang.
16.  Menurunnya daya ingat yang terus terjadi. Pada penderita demensia, “lupa” menjadi bagian keseharian yang tidak bisa lepas.
17.  Gangguan orientasi waktu dan tempat, misalnya: lupa hari, minggu, bulan, tahun, tempat penderita demensia berada.
18.  Penurunan dan ketidakmampuan menyusun kata menjadi kalimat yang benar, menggunakan kata yang tidak tepat untuk sebuah kondisi, mengulang kata atau cerita yang sama berkali-kali.
19.  Ekspresi yang berlebihan, misalnya menangis berlebihan saat melihat sebuah drama televisi, marah besar pada kesalahan kecil yang dilakukan orang lain, rasa takut dan gugup yang tak beralasan. Penderita demensia kadang tidak mengerti mengapa perasaan-perasaan tersebut muncul.
20.  Adanya perubahan perilaku, seperti : acuh tak acuh, menarik diri dan gelisah.



GANGGUAN PSIKOLOGIS
GANGGUAN PERILAKU
NO
Jenis
Bentuk
Jenis
Bentuk
1.



Waham (delusi)

·    Isi pikiran yang salah diyakini kebenarannya
·    Tidak dapat dikoreksi melalui bukti-bukti yang ada

Wandering
·     Mondar-mandir
·     Mencari-cari/membututi pengasuh/keluarga/orang lain kemanapun pergi
·     Berjalan mengelilingi rumah
·     Keluar rumah/kabur/keluyuran
2.

Halusinasi
·    Halusinasi dengar
·    Halusinasi penglihatan
·    Halusinasi haptic
Restlessness
·     Sangat gelisah sehingga tidak bisa diam walau sejenak
3.
Misidentifikasi/mispersepsi
·    Merasa bukan dirinya
·    Merasa istri/suami bukan lagi pasangan hidupnya
·    Tidak dapat mengidentifikasi kejadian
Agitasi
·     Aktivitas verbal maupun motorik yang berlebihan dan tidak selaras seperti marah-marah, mengamuk, mengomel terus
4.
Depresi
·    Murung, sedih, menangis
·    Ingin mengakhiri hidupnya
Agresifitas
·     Agresifitas fisik seperti memukul, menendang, mendorong, mencakar, menggigit orang lain
·     Agresifitas verbal seperti berteriak, menjerit
5.
Apatis
·    Tidak ada minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai
·    Perawatan diri terganggu
·    Interaksi sosial menjadi sangat berkurang
Disihibisi
·     Kelakuan yang tidak sesuai dengan budaya dan norma-norma sosial yang berlaku seperti menjadi kurang sopan, kurang terpuji, memalukan, dsb
6.
Cemas
·    Menanyakan hal yang sama berulang-ulang
·    Meremas-remas tangan
·    Tidak dapat duduk diam



Sedangkan berdasarkan tahapan-tahapan pada demensia, tanda dan gejalanya adalah:
1.    Stadium I / awal
Berlangsung 2-4 tahun dan di sebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun.” Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang di alami,” dan tidak menggangu aktivitas rutin dalam keluarga.
2.      Stadium II / pertengahan
Berlangsung 2-10 tahun dan di sebut pase demensia. Gejalanya antara lain, disorientasi, gangguan bahasa (afasia). Penderita mudah bingung, penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, Gangguan kemampuan merawat diri yang sangat besar, Gangguan siklus tidur ganguan, Mulai terjadi inkontensia, tidak mengenal anggota keluarganya, tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi ” Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungan ”.
3.      Stadium III / akhir
Berlangsung 6-12 tahun. ” Penderita menjadi vegetatif, tidak bergerak dangangguan komunikasi yang parah (membisu), ketidakmampuan untuk mengenali keluarga dan teman-teman, gangguan mobilisasi dengan hilangnya kemampuan untuk berjalan, kaku otot, gangguan siklus tidur-bangun, dengan peningkatan waktu tidur, tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil. Kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan orang lain dan kematian terjadi akibat infeksi atau trauma (Stanley, 2007 dalam (http://repository.usu.ac.id)

7 Penatalaksanaan
1.      Farmakoterapi
Sebagian besar kasus demensia tidak dapat disembuhkan.
a.       Untuk mengobati demensia alzheimer digunakan obat - obatan antikoliesterase seperti Donepezil, Rivastigmine, Galantamine, Memantine.
b.      Dementia vaskuler membutuhkan obat -obatan anti platelet seperti Aspirin, Ticlopidine, Clopidogrel untuk melancarkan aliran darah ke otak sehingga memperbaiki gangguan kognitif.
c.       Demensia karena stroke yang berturut-turut tidak dapat diobati, tetapi perkembangannya bisa diperlambat atau bahkan dihentikan dengan mengobati tekanan darah tinggi atau kencing manis yang berhubungan dengan stroke.
d.      Jika hilangnya ingatan disebabakan oleh depresi, diberikan obat anti-depresi seperti Sertraline dan Citalopram.
e.       Untuk mengendalikan agitasi dan perilaku yang meledak-ledak, yang bisa menyertai demensia stadium lanjut, sering digunakanobat anti-psikotik (misalnya Haloperidol , Quetiapine dan Risperidone). Tetapi obat ini kurang efektif dan menimbulkan efek samping yang serius. Obat anti-psikotik efektif diberikan kepada penderita yang mengalami halusinasi atau paranoid.
2.      Dukungan atau Peran Keluarga
a.       Mempertahankan lingkungan yang familiar akan membantu penderita tetap memiliki orientasi. Kalender yang besar, cahaya yang terang, jam dinding dengan angka-angka yang besar atau radio juga bisa membantu penderita tetap memiliki orientasi.
b.      Seluruh anggota keluargapun diharapkan aktif dalam membantu Lansia agar dapat seoptimal mungkin melakukan aktifitas sehari-harinya secara mandiri dengan aman.
c.       Membuat catatan kegiatan sehari-hari dan minum obat secara teratur. Ini sangat membantu dalam menekan laju kemunduran kognitif yang akan dialami penderita demensia.
d.      Menjalani kegiatan mandi, makan, tidur dan aktivitas lainnya secara rutin, bisa memberikan rasa keteraturan kepada penderita.
e.       Kesabaran adalah sebuah tuntutan dalam merawat anggota keluarga yang menderita demensia.
f.       Dukungan emosional dalam keluarga memiliki fungsi bahwa keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi.
g.      Meminta bantuan organisasi yang memberikan pelayanan sosial dan perawatan, akan sangat membantu.
3.      Terapi Simtomatik
Pada penderita penyakit demensia dapat diberikan terapi simtomatik, meliputi :
a.       Diet
b.      Latihan fisik yang sesuai
c.       Terapi rekreasional dan aktifitas
d.      Penanganan terhadap masalah-masalah

8 Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik
1.      Pemeriksaan laboratorium rutin
Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan begitu diagnosis klinis demensia ditegakkan untuk membantu pencarian etiologi demensia khususnya pada demensia reversible, walaupun 50% penyandang demensia adalah demensia Alzheimer dengan hasil laboratorium normal, pemeriksaan laboratorium rutin sebaiknya dilakukan. Pemeriksaan laboratorium yang rutin dikerjakan antara lain: pemeriksaan darah lengkap, urinalisis, elektrolit serum, kalsium darah, ureum, fungsi hati, hormone tiroid, kadar asam folat.
2.      Imaging
Computed Tomography (CT) scan dan MRI (Magnetic Resonance Imaging) telah menjadi pemeriksaan rutin dalam pemeriksaan demensia walaupun hasilnya masih dipertanyakan.
3.      Pemeriksaan EEG
Electroencephalogram (EEG) tidak memberikan gambaran spesifik dan pada sebagian besar EEG adalah normal. Pada Alzheimer stadium lanjut dapat memberi gambaran perlambatan difus dan kompleks periodik.
4.      Pemeriksaan cairan otak
Pungsi lumbal diindikasikan bila klinis dijumpai awitan demensia akut, penyandang dengan imunosupresan, dijumpai rangsangan meningen dan panas, demensia presentasi atipikal, hidrosefalus normotensif, tes sifilis (+), penyengatan meningeal pada CT scan.
5.      Pemeriksaan genetika
Apolipoprotein E (APOE) adalah suatu protein pengangkut lipid polimorfik yang memiliki 3 allel yaitu epsilon 2, epsilon 3, dan epsilon 4. Setiap allel mengkode bentuk APOE yang berbeda. Meningkatnya frekuensi epsilon 4 diantara penyandang demensia Alzheimer tipe awitan lambat atau tipe sporadik menyebabkan pemakaian genotif APOE epsilon 4 sebagai penanda semakin meningkat.
6.      Pemeriksaan neuropsikologis
Pemeriksaan neuropsikologis meliputi pemeriksaan status mental, aktivitas sehari-hari / fungsional dan aspek kognitif lainnya. Pemeriksaan neuropsikologis penting untuk sebagai penambahan pemeriksaan demensia, terutama pemeriksaan untuk fungsi kognitif, minimal yang mencakup atensi, memori, bahasa, konstruksi visuospatial, kalkulasi dan problem solving. Pemeriksaan neuropsikologi sangat berguna terutama pada kasus yang sangat ringan untuk membedakan proses ketuaan atau proses depresi.
7.      Sebagai suatu esesmen awal pemeriksaan Status Mental Mini (MMSE) adalah test yang paling banyak dipakai. Tetapi sensitif untuk mendeteksi gangguan memori ringan.
Pemeriksaan status mental MMSE Folstein adalah test yang paling sering dipakai saat ini, penilaian dengan nilai maksimal 30 cukup baik dalam mendeteksi gangguan kognisi, menetapkan data dasar dan memantau penurunan kognisi dalam kurun waktu tertentu. Nilai di bawah 27 dianggap abnormal dan mengindikasikan gangguan kognisi yang signifikan pada penderita berpendidikan tinggi.
Penyandang dengan pendidikan yang rendah dengan nilai MMSE paling rendah 24 masih dianggap normal, namun nilai yang rendah ini mengidentifikasikan resiko untuk demensia.
8.      Clinical Dementia Rating (CDR) merupakan suatu pemeriksaan umum pada demensia dan sering digunakan dan ini juga merupakan suatu metode yang dapat menilai derajat demensia ke dalam beberapa tingkatan. Penilaian fungsi kognitif pada CDR berdasarkan 6 kategori antara lain gangguan memori, orientasi, pengambilan keputusan, aktivitas sosial/masyarakat, pekerjaan rumah dan hobi, perawatan diri. Nilai yang dapat pada pemeriksaan ini adalah merupakan suatu derajat penilaian fungsi kognitif yaitu; Nilai 0, untuk orang normal tanpa gangguan kognitif. Nilai 0,5, untuk Quenstionable dementia. Nilai 1, menggambarkan derajat demensia ringan, Nilai 2, menggambarkan suatu derajat demensia sedang dan nilai 3, menggambarkan suatu derajat demensia yang berat. (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003)

9 Komplikasi
1.      Peningkatan risiko infeksi di seluruh bagian tubuh :
a.       Ulkus Dekubitus
b.      Infeksi saluran kencing
c.       Pneumonia
2.      Thromboemboli, infark miokardium.
3.      Kejang
4.      Kontraktur sendi
5.      Kehilangan kemampuan untuk merawat diri
6.      Malnutrisi dan dehidrasi akibat nafsu makan kurang dan kesulitan menggunakan peralatan
7.      Kehilangan kemampuan berinteraksi
8.      Harapan hidup berkurang
9.      Kematian 

10 Pencegahan
                  Hal yang dapat kita lakukan untuk menurunkan resiko terjadinya demensia diantaranya adalah menjaga ketajaman daya ingat dan senantiasa mengoptimalkan fungsi otak, seperti :
1.      Mencegah masuknya zat-zat yang dapat merusak sel-sel otak seperti alkohol dan zat adiktif yang berlebihan.
2.      Membaca buku yang merangsang otak untuk berpikir hendaknya dilakukan setiap hari.
3.      Melakukan kegiatan yang dapat membuat mental kita sehat dan aktif :
a.       Kegiatan rohani & memperdalam ilmu agama.
b.      Tetap berinteraksi dengan lingkungan, berkumpul dengan teman yang memiliki persamaan minat atau hobi.
4.      Melakukan aktivitas social, seperti menjalin tali kekeluargaan, persahabatan, menghadiri undangan pesta dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya dapat menjaga dan meningkatkan kemampuan otak, khususnya bagian otak yang mengatur fungsi komunikasi.
5.      Gaya hidup sehat, yaitu dengan cara berolahraga secara teratur, menghindari kebiasan-kebiasaan buruk seperti merokok dan menkonsumsi alkohol. Mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, makanan yang sangat baik untuk kesehatan otak diantaranya adalah coklat hitam, buah alpukat, blueberry, ikan salmon dn telur.
6.      Stres bisa membuat otak bekerja keras. Sebuah penelitian di Swedia pada tahun 2010 menunjukkan bahwa wanita yang sering stres lebih berkemungkinan menderita demensia ketika tua. Untuk itu, sebaiknya jangan mudah stres.
7.      Mendapatkan tidur yang cupu sangat penting bagi kesehatan tubuh dan otak. Pasien yang mengalami kesulitan tidur seringkali dikaitkan dengan munculnya penyakit Alzheimer di kemudian hari.
8.      Menjaga jantung juga penting untuk menjaga kesehatan otak. Semua ini mengenai peredaran darah yang lancar. Otak menggunakan sekitar 20 persen oksigen pada darah yang mengalir ke seluruh tubuh. Untuk itu, jangan lupa untuk berolahraga untuk menjaga jantung tetap sehat.

0 komentar:

Posting Komentar