About

Senin, 03 November 2014

Pendekatan Teoritis Keperawatan Keluarga

1.   Teori – teori Keperawatan Keluarga
Fungsi teori adalah untuk membedakan, menjelaskan, atau  memperkirakan kejadian signifikan yang terjadi dalam keperawatan. Teori keperawatan keluarga menyediakan informasi pengetahuan bagi praktik, dan praktik keluarga yang pada gilirannya membantu perkembangan teori keperawatan.
Teori/ model keperawatan adalah teori yang paling sedikit berkembang dalam  keperwatan keluarga. Metaparadigma ilmu keperawatan terdiri atas empat konsep, yaitu manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan. Beberapa ahli teori keperawatan telah merevisi ulang teori awal mereka guna mengakomodasi asuhan keperawatan untuk keluarga dan kumpulan lainnya (seperti komunitas) sebagai klien keperawatan.
Perkembangan model dan teori keperawatan sangat memengaruhi ilmu keperawatan dimulai dengan tulisan Florence Nightingale dan berlanjut dengan karya ahli teori keperawatan pada zaman ini. Model keperawatan yang secara khusus telah disesuaikan dengan praktik keperawatan keluarga mencakup model keperawatan yang disusun oleh Imogene King, Suster Callista Roy, Betty Newman, Dorothea Orem, Martha Rogers dan Margaret Newman.
1.        Model lingkungan Nightingale
Florance Nightingale sebenarnya tidak menyajikan suatu teori keperawatan atau keperawatan keluarga. Meskipun demikian, ia menyebutkan keluarga disebagian besar tulisannya dan dikebanyakan praktik keperawatannya. Nightingale meningkatkan layanan baik layanan perawat-kebidanan maupun layanan kesehatan diberikan dirumah dan menulis “Catatan Keperawatan” untuk wanita yang ditugaskan merawat anggota keluarga yang sakit dan menjaga kesehatan anak di rumah. Dalam sebuah dokumen yang berjudul “Training Nurses for the Sick Poor” (Nightingale, 1949) ia mengatakan perawat untuk terlibat dalam perawatan orang sakit dan keperawatan kesehatan di lingkungan rumah. Nightingale melakukan berbagai upaya untuk mendorong wanita awam memberikan asuhan keperawatan yang baik dirumah mereka diikuti dengan upayanya membuat program pelatihan untuk perawat ‘profesional’.
2.        Teori Pencapaian Tujuan King
Imogene King (1981, 1987) mengembangkan model proses transaksi pada sistem yang saling memengaruhi yang disebut sebagai Teori Pencapaian Tujuan. Dalam model King (1981), tujuan perawat adalah membantu individu memelihara kesehatan mereka sehingga dapat mengerjakan perannya. Model King berfokus pada interaksi perawat-pasien, yang merupakan forum untuk mengidentifikasi tujuan, masalah dan kekhawatiran individu. Dalam karya awalnya, King memasukkan pendekatan keluarga sebagai ruang lingkup. Konsep King mengenai klien individu dapat diperluas hingga memasukkan keluarga karena modelnya mencakup konsep yang relevan dengan keluarga seperti persepsi, interaksi, komunikasi, transaksi, ruang, waktu, tumbuh kembang dan stress (Whall & Fawcett; 1991a). King secara luas mendefinisikan keluarga sebagai kelompok kecil individu yang diikat bersama untuk sosialisasi anggotanya dan untuk menurunkan nilai dan norma perilaku di sepanjang rentang kehidupan (King, 1983; Frey & Sieloff 1995). Keluarga dipandang baik sebagai suatu sistem interpersonal maupun sistem sosial. Sejak awal tahun 1989, perawat menggunakan model King dalam memberikan asuhan keluarga.
3.        Model Adaptasi Roy
Dalam karya awal Roy (1976), keluarga dipandang sebagai ruang lingkup individu. Kemudian Roy dan Roberts (1981) mengubah penjabaran “konsep keluarga sebahgai konteks” menjadi “keluarga sebagai suatu sistem adaptif meliputi individu, memiliki input, kendali interna dan proses umpan balik dan output” (Whell&Fewcett, 1991a, hlm. 23). Roy menjelaskan bahwa keluarga, individu, kelompok, organisasi sosial, dan komunitas, dapat menjadi unit analisis dan fokus praktik keperawatan. Hanna dan Roy (2001) membahas kesinambungan pengembangan model Roy tekait dengan keperawatan keluarga dan mencatat bahwa keluarga dapat dijabarkan sebagai ruang lingkup individu atau keluarga dapat dijabarkan sebagai orang atau kelompok yang saling terkait.
4.        Model Sistem Kesehatan Newman
Newman membahas keluarga sebagai klien sejak awal perkembangan model. Aspek utama dalam model ini adalah variabel fisiologis, sosiobudaya, perkembangan dan spiritual, sturuktur dasar dan sumber energi, garis ketahanan, garis pertahanan normal, garis pertahanan fleksibel, stresor, reaksi, pencegahan primer, sekunder dan tersier, faktor intra-,inter-, dan ekstrapersonal dan rekonstitusi (George, 1995). Newman (1983) mendefinisikan keluarga sebagai “sebuah kelompok yang terdiri atas dua orang atau lebih yang menciptakan dan mempertahankan budaya umum. Menurut Newman, keluarga dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri atas subsistem anggota keluarga. Fokus teori Newman adalah pada hubungan antar individu anggota keluarga. Tujuan keluarga adalah mempertahankan stabilitas dengan menjaga integritas struktur dasar keluarga tersebut (Whall & Faweet, 1991b). Anderson dan Tomlinson (1992) menyajikan paradigma Sistem Kesehatan Keluarga yang menggabungkan beberapa konsep kesehatan keluarga, praktik keperawatan, dan Model sistem Perawatan Kesehatan Newman.
Model keperawatan konseptual Newman makin bertambah penting pada abad ke-21 karena penekanan pelayanan kesehatan terus bergerak ke arah pelayanan kesehatan berbasis komunitas.
5.        Model Perawatan Diri Orem
Model perawatan diri menurut Dorothea Orem (1971) beranggapan bahwa asuhan keperawatan dibutuhkan jika seorang dewasa tidak mampu melaksanakan perawatan diri secara memadai untuk mempertahankan kehidupan, memelihara kesehatan, pulih dari penyakit atau cedera (Orem,1991). Enam konsep ujtama dalam konsep Orem adalah perawatan diri, agensi perawatan diri, kebutuhan keperawatan diri scera teraupetik, defisit perawatan diri, institusi dan sistem keperawatan. Dalam penelitian awalnya, Orem tidak membahas  keluarga dalam teori perawatan selain untuk menunjukan bahwa perawat perlu bekerja sama dengan anggota keluarga guna membantu anggota keluarag melakukan perawatan diri. Orem (1983a, 1983b) menggambarkan keluarga sebagai unit pengondisian dasar tempat individu belajar budaya, peran dan tanggung jawab. Dalam teori Orem, keluarga sebagian besar dipandang sebagai ruang lingkup klien individu dan bukan sebagai penerima pelayanan kesehatan itu sendiri. Model perawatan diri Orem dapat diperluas hingga memasukan keluarga sebagai unit perawatan. Gray (1996) menyatakan bahwa setiap individu anggota keluarga dapat dipandang sebagai agens perawatan diri yang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi kesehatannya sendiri. Anggota keluarga baik secara individu atau kelompok dapat melakukan atau menjalankan keharusan perawatan diri yang meliputi sikap mengenai kesehatan dan kemampuan untuk melaksanakan perilaku perawatan diri. Perawatan diri dapat digunakan untuk membantu perkembangan promosi kesehatan dalam keluarga dan untuk mengenali serta mengevaluasi beberapa area yang mungkin mengalami penurunan kesehatan.
6.        Ilmu Tentang Manusia sebagai Kesatuan Rogers
Martha Rogers (1970, 1986, 1990) memandang manusia sebagai kesatuan lapang energi multidimensional yang terloibat dalam suatu proses mutual berkelanjutan dengan lingkungannya. Menurut Rogers keperawatan adalah ilmu humanistik dan humanitarian yang diarahkan untuk menjelaskan dan menggambarkan tentang manusia dalam kesatuan yang sinergis dan dalam menyusun hipotesis umum dan perkiraan prinsip yang menjadi landasan praktik yang dapat dipahami. Ilmu keperawatan adalah ilmu kemanusiaan-ilmu yang mempelajari tentang manusia yang tidak dapat disederhanakan lagi dan lingkungannya. Menurut Falco dan Lobo perubahan berlangsung dengan pemolaan ulang yang berkelanjutan baik di medan manusia maupun lingkungan dengan meresenansikan ayunan gelombang yang lebih panjang dengan frekuensi rendah menjadi gelombang yang lebih pendek dengan frekuensi tinggi. Perubahan mencerminkan interkasi mutual yang terjadi berbarengan antara dua medan di berbagai koordinat. Fawcett (1991), memperluas model Rogers, menyatakan bahwa keluarga adalah medan energi sistem terbuka yang konsisten yang selalu berubah sebagai respons terhadap interaksinya dengan lingkungan. Casey (1996) menerapkan teori Rogers pada keperawatan keluarga, dengan mempertimbangkan unit keluarga sebagai kesatuan. Casey menjabarkan konsep keluarga, dari perspektif Roger sebagai suatu sistem terbuka yang terus menerus berinteraksi dengan lingkungan melalui pertukaran materi dan energi, yang makin lama makin kompoleks, yang saling bergantung tetapi sama-sama membentuk kesatuan yang berbeda yang secara terus menerus dipengaruhi oleh informasi di dalam lingkungan dan bergantung pada permeabilitas batasanyya, keluarga berespon terhadap input secara konstan, yang saling bergantung tetapi sama-sama membentuk kesatuan yang berbeda yang secara terus menerus dipengaruhi oleh informasi di dalam lingkungan dan bergantung pada permeabilitas batasanyya, keluarga berespon terhadap input secara konstan. Kerangka konsep Rogers telah digunakan oleh para peneliti keperawatan sebagai sebuah dasar untuk teori keperawatan mendasar dan sebagai dasar untuk praktik keperawatan keluarga.
7.        Model Pengembangan Kesadaran Newman
Model pengembangan kesadaran Newman (1994) terinspirasi oleh pengalamannya dengan penyakit pada keluarga saat ia masih muda dan masih dipengaruhi oleh ahli teori keperawatan yang lebih awal, terutama konsep Rogers tentang manusia sebagai kesatuan dan pentingnya pola, serta Newman juga memadukan gagasan dari para ahli teori dan berbagai disiplin yang lain. Dalam model Newman kesehatan didefiniskan sebagai kesadaran yang meluas dan bukan merupakan bercabangan dengan penyakit. Empat konsep inti awal pada model Newman adalah pergerakan, waktu, ruang dan kesadaran. Pergerakan disebut sebagai suatu initi materi, dan waktu berhubungan dengan ritme fenomena kehidupan. Ruang dan kesadaran tidak didefiniskan secara terpisah karena terpadu dengan pergerakan dan waktu. Konsep terbaru Newman mencakup pengembangan kesadaran, pola, pengenalan pola dan transformasi. Newman berpendapat bahwa model pengembangan kesadarannya sangat sesuai dengan keperawatan kesehatan keluarga, karena diterapkan pada keluarga, pergerakan membahas kebebasan pergerakan individu dalam sistem keluarga sebagaimana pergerakan anggota keluarga di luar keluarga. Newman menuliskan bahwa “pola yang akan muncul dapat berupa aliran energi dan menggambarkan area tempat energi dihambat, area tempat energi hilang atau menyebar atau area tempat dibangunnya energi atau tempat kelebihan energi. Pada saat keseluruhan pola keluarga muncul kapasitas informasi keluarga akan meningkat dengan turut serta dalam proses identifikasi”.
8.        Evolusi Teori Keperawatan Keluarga
Teori keperawatan keluarga terus berkembang sejalan dengan penelitian dan praktik keperawatan, termasuk keperawatan keluarga (Reed,1995). Banyak dari perdebatan berfokus pada konseptualisasi baru konsep metaparadigma keperawatan dan mencerminkan pengaruh perspektif pascamodernisasi dan neomodernisasi.Thorne dan rekan (1998) menyatakan bahwa perkembangan teori keperawatan akan terbantu dengan menyatukan definisi konsep metaparadigma dan mengurangi pengutuban di kalangan pendukung ahli teori keperawatan tertentu. Penjelasan mereka tentang inti konsep keperawatan termasuk didalamnya keluarga sebagai klien, untuk praktik keperawatan keluarga yang menekankan promosi kesehatan dan mengenali ruang lingkup asuhan. Selain itu terdapat peralihan yang drastis pada keperawatan keluarga menuju perspektif berbasis kekeuatan pada saat bekerja dengan keluarga (Feeley & Gottlieb, 2000), yang bertentangan dengan perspektif berdasarkan kekurangan atau pendekatan yang berfokus pada masalah di masa lampau. Feeley dan Gottlieb (2000) menampilkan model keperawatan McGill sebagai sebuah contoh model yang berfokus pada kapasitas, kompetensi, dan sumber daya keluarga.

2.    Teori Ilmu Sosial Keluarga
Berikut ini tiga buah teori utama ilmu sosial keluarga yang berguna dalam memahami keluarga dan keperawatan keluarga
1.        Teori struktural-fungsional
Mendefinisikan keluarga sebagai sebuah sistem sosial dan oleh beberapa ahli keluarga ddianggap sebagai bentuk paling awal dari teori sistem (Broderick,1993).Fokus utamanya adalah bagaimana pola keluarga dikaitkan dengan lembaga masyarakat lain dan dengan keseluruhan struktur dalam masyarakat.Penekanan diletakan pada fungsi dasar keluarga  yaitu ekonomi ,reproduksi ,perlindungan ,budaya ,sosialisasi ,pewarisan status, hubungan dan fungsi kesehatan (Hanson & Boyd, 1996).
Isu utama ahli teori struktural fungsional adalah seberapa baik struktur keluarga memungkinkan keluarga melaksanakan fungsinya.Pendekatan ini menunjukkan keluarga sebagai suatu unit yang terbuka terhadap pengaruh dari luar, namun pada saat yang sama, disebutkan dengan mempertahankan batasnya.Keluarga tampak sebagai institusi yang mengadaptasi secara pasif daripada sebuah agen pengubah.Kerangka cendrung menekankan gambaran statis tentang struktur masayarakat dan mengabaikan perubahan sebagai dinamika struktural.Asumsi prespektifnya mencakup:
a.          Keluarga adalah suatu sistem sosial dengan kebutuhan fungsi
b.         Keluarga adalah suatu kelomok kecil yang memiliki gambaran umum yang biasa ada pada semua kelompok kecil
c.          Sistem sosial seperti keluarga memenuhi fungsi melayani individu selain fungsi melayani masyarakat
d.         Individu bertindak sesuai dengan serangkaian norma dan nilai yang terinternalisasi yang dipelajari terutama dalam keluarga melalui sosialisasi
Kekuatan utama pendekatan struktural fungsional bagi praktik keperawatan keluarga adalah bahwa pendekatan ini bersifat komprehensif dan memandang keluarga dalam konteks komunitas yang lebih laus.Kelemahan utama pendekatan ini adalah pandangan statisnya ,yang cendrung memndang keluarga pada satu waktu bukan sebagi sebuah sistem yang berubah seiring dengan waktu.
2.        Teori Sistem
Teori sistem adalah suatu kerangka yang paling berpengaruh dan produktif .Sebuah sistem terdiri dari serangkaian unsur yang saling terkait , Setiap sistem dikenali sebagia suatu yang berbeda dari lingkungan tempat munculnya sistem tersebut.Sistem terbuka menganti energi dan materi dengan lingkungan  (negentropi) semetara sistem tertutup terpisah dari lingkunagnnya (entropi).Asumsi perspektif sistem yang diterapkan pada sistem keluarga meliputi :
a.          Sistem keluarga lebih besar daripada dan berbeda dari jumlah bagiannya.
b.         Terdapat hirarki dalam sistem keluarga dan antara subsistem dan keluarga serta komunitas
c.          Terdapat batasan didalam sistem keluarga (batasan tertutup dan terbuka ataupun acak)
d.         Sistem keluarga mengalami peningkatan kompleksitas sepanjang waktu
e.          Sistem keluarga berubah secara konstan sebagi respon dan ketengangan dari lingkungan
f.          Pola sistem keluarga berbentuk sirkulasi
g.         Sistem keluarga adalah suatu keseluruhan yang terorganisir dengan individu dalam keluarga dan saling berketergantungan
h.         Sistem keluarga memiliki gambaran homeostatis untuk mempertahankan pokla stabil

Empat kekuatan utama pada kerngka sistem umum yaitu :
a.          Teori utama yang mencakup rangkaian fenomena yang luas
b.         Teori yang berbasis kontekstual, yang memandang kerluarga dalam konteks suprasistemnya
c.          Teori yang berfokus pada interaksi
d.         Teori holistik

Dua keterbatasan pemakaian orientasi teoritis ini dalam praktik keperawatan keluarga :
a.          Teorinya sangat luas dan sanagt umum, dan harus disususn konsep dan pedoman praktik yang spesifik di luar teori
b.         Pendekatan mungkin tidak terlalu membantu ,seperti teori yang ditujukan untuk individu

3.        Teori perkembangan keluarga
Asumsi dasar model perkembangan meliputi :
1.      Tugas yang berbasis perkembangan terjadi pada periode terentu
2.       Keberhasilan pencapain tugas peerkembangan mengarah pada kebahagiaan dan keberhasilan tugas selanjutnya
3.      Kegagalan pencapaian tugas perkembangan mengarah pada ketidakbahagiaan , penolakan/kesulitan dalam mencapai tugas selanjutnya

Tahap perkembangan keluarga yang dituliskan oleh Evelyn Duvall,1997 berdasarkan pada usia anak sulung.Ia mengidentifikasi seluruh keluarga yang perlu dicapai pada tahap perkembangan untuk pasangan hetero seksual yang memiliki anak. Tahapan dimulai dari pernikahan pasangan dan diakhiri dengan kematian .Konsep perkembangan meliputi perpindahan tingkat fungsi yang lebih tinggi yang menyiratkan kemajuan satu arah .Ketidakseimbangan terjadi pada masa transisi dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Teori perkembanganadalah suatu upaya untuk memperluas  kerangka struktural fungsional (analisis berskala besar) dan interaksi sosial (analisis berskala kecil). Teori perkembangan keluarga menjelaskan tentang bagaimana dan apa perubahan perkembangan dasar yang terjadi pada manusia dan kelompok sepanjang waktu .Pencapaian tugas perkembangan keluarga membantu anggota keluarga untuk mencapai tugas mereka.
Perawat keluarga harus mengenali bahwa dalam setiap keluarga terdapat tugas perkembangan individu dan keluarga yang perlu dicapai pada setiap tahap siklus kehidupan individu.
Kekuatan utama pendekatan perkembangan keluarga yaitu pendekatan tersebut memberikan dasar untuk merupakan apa yang akan dialami keluarga pada suatu periode dalam siklus keperawatan keluarga.Kelemahannya adalah fakta bahwamodel tersebut dikembangkan pada saat keluarga inti tradisional masih ditekankan

4.        Teori  Interaksional keluarga
Pendekatan interaksional keluarga berasal dari sebuah teori utama dalam spikologi sosial dan sosiologi yang merupakan interaksi metabolik ;saat ini, istilah interaksi simbolik mewakili bermacam-macam teori keluarga ,interaksi simbiolik berasal dari pragmatis dan psikolog sosial yaitu George Herbert Mead.
Blumer 1969 : Kuhn; 1964 membuat tiga asunmsi dasar yang sangat penting untuk teori interaksi simbolkik :
a)      Manusia mnelakukan tindakan berdasarkan pada makna hal tersebut bagi mereka
b)      Makna dari tindakan tersebut berasal dari interaksi sosial yang dimliki seseorang dengan kawannya.
c)      Makna ditangani dan dimodifikasi melalui  sebuah proses interpretasi  yang digunakan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang dia temui.
Asumsi ini bersama-sama membentuk fokus utama pada interaksi simbolik, yaitu menghasilkan dan mendapatkan makna.Para ahli teori interaksi simbolik mengenali pengarugh budaya dan masyarakat dalam keluarga saat keluarga merumuskan makna ( crotty, 1998).Arti hal tersebut bagi keluarga yaitu anggota keluarga menciptakan makna guna membantu mereka memahami dunia mereka. Makna dibangun oleh anggota keluarga yang relevan dengan situasi yang dihadapi oleh keluarga.
Beberapa varian teori interaksi simbolik yang berfokus pada komunikasi dan peran telah dikembangkan. Pendekatan struktural menekankan konsep peran.Peran dipelajari dan dijalankan oleh individu dalam sebuah struuktur sosial.
Anggota keluarga memainkan peran mereka berdasakan harapan terhadap peran tersebut yang dipelajari melalui proses sosialisai, dengan demikian metafora sering digunakan untuk menjelaskan pengikut strukturalime yaitu aktor yang tengah berlaga ( turnar, 1991)
Pendekatan untuk memahami dinamika internal ini adalah yang paling relevan untuk kepaearawatan keluarga.Oleh karena itu, kekuatan utama dari pendekatan tersebut adalah fokusnya pada fokus internal dfi dalam keluarga dan pemahan terhadap proses ini .Btasan utama dalam pendekatan ini yaitu ahli teori interaksional secara umum gagal untuk memasukan dampak lembaga sosial.

5.        Teori stres keluarga
Model stres keluarga terutama berhubungan dengan pelayanan kesehatan karena penyebaran penyakit yang berkaitan dengan stres yang berkaitan dengankeluarga (Artinian,1994).Asumsi model keperawatan keluarga terdiri atas (Artinian,1994):
a.          Peristiwa yang tidak diharapkan/tidak direncanakanbiasanya dianggap sebagai peristiwa yang menimbulkan stress
b.         Peristiwa dalam keluarga
c.          Kurangnya pengalaman terdahulu dalam menghadapi peristiwa yang menimbulkan stress menyebabkan peningkatan presepsi stress
d.         Peristiwa yang menimbulkan stress ambigu dapat lebih membuat stress dibandingkan dengan peristiowa non ambigu
Area pengkajian harus mencakup variabel utama dalam teori itu sendiri. Model ini mekankan bahwa presepsi terhadap stresor  lebih penting dari pada realita objektif dan dengan mengidentifikasi sumber dan kekuatan, dapat dibagun pendekatan keperawatan keluiarga yang memberdayakan keluiarga

6.        Teori Berubah
Manuranna (1978) menyatakan bahwa perubahan adalah suatu perubahan dalam struktur keluarga yang terjadi sebagai kompensasi akibat munculnya kecemasan dan bertujuan untuk mempertahankan struktur (stabilitas).
Menurut Wright dan Watson (1988) perubahan yang paling menonjol dan terjadai secara terus menerus dalam keluarga dalah perubahan yang terjadi dalam sistem kepercayaan keluarga (kognisi).Wright dan Leahey (2000) menawarkan sebuah konsep yang berhubungan dengan teori berubah yang membantu perawat keluarga dalam melaksanakan prakteknya:
a.       Perubahan tergantung pada presepsi terhadap m,asalah
b.      Perubahan ditentukan oleh struktur
c.       Perubahan tergantung pada ruang lingkup
d.      Perubahan tergantung pada tujuan penyerta terapi
e.       Pemahaman itu sendiri tidak menyebabkan perubahan
f.       Perubahan tidak terjadi secara sama pada seluruh anggota keluarga
g.      Perawat bertanggung jawab untuk menfasilitasi perubahan
h.      Perubahan terjadi dfengan adanya “kesesuaian “ antara pemberian terapi (intervensi) dari perawat dan struktur biospikososial-spiritual anggota keluarga.
i.        Perubahan dapat disebabkan oleh banyak sekali penyebab

7.        Teori ilmu sosial Keluarga Lainnya
Hanya kerangka utama yang digunakan sejak lama didalam ilmu sosial keluarga dan relevan untuk praktik keperawatan keluarga  yang dijelaskan disini.Kerangka lain yang memberikan informasi mengenai keperawatan keluarga, yaitu teori kekacauan , teori pertukaran sosial ,teori konflik, kerangka ekologis , pendekatan antropologis, dan teori fenomenologi (Nye & Berardo,1981;Klien & White,1996; Friedman,1992)
3.     Teori terapi keluarga
Teori terapi keluarga adalah campuran dari teori ilmu social dan teori praktik keluarga.teori terapi keluarga disusun guna bekerja dengan keluarga bermasalah dan oleh karena itu sebagian berorientasi pada patologis , juga teori ini menggambarkan dinamika dan pola sistem keluarga yang terdapat dalam semua keluarga sampai derjat tertentu .
Teori terapi keluarga yang dijelaskan semuanya membahas konsep sistem keluarga yang umum.Semua menyatakan bahwa system keluarga mempunyai kesamaan yaitu merupakan system yang terbuka, berkelanjutan, pencarian-tujuan, pengaturan diri sendiri dan juga cirri tambahan system social (Broderick, 1993).Bagi anggota keluarga yang ingin membentuk diri mereka sendiri menjadi satu system, mereka harus berbagi serangkaian tujuan yang umum.Tujuan dikembangkan melalui komunikasi.
Adapun macam-macam teori terapi keluarga :
1.        Teori terapi interaksi/komunikasi keluarga
Pendekatan terapi interaksi / komunikasi sangat dipengaruhi ole ide-ide yang berasal dari teori system umum, sibernetika, dan teori proses informasi (Goldenberg & Goldenberg , 2000).Menurut Watzlawick dan rekan, analisis proses komuikasi melibatkan tiga aspek yang berbeda yaitu sintatik, sematik, dan pragmatik ( watzlawick, Beavin, & Jackson, 1967).Para ahli teori komunikasi telah melekatkan kegunaan yang berbeda terhadap aspek yang berbeda ini dan telah mengembnagkan intervensi berdasarka aspek-aspek ini.Sintetik memeperhatikan tentang bagaimana sebuah pesan secara akurat disampaikan dari satu orang ke orang lainnya ( Broderick, 1993).
Ahli terapi yang menggunakan pendekatan ini berfokus pada bagaimana membantu anggota keluarga saling berkomunikasi dengan jelas sehingga pesan yang disampaikan adalah pesan yang diterima.Sematik memperhatikan tentang makna.Ahli teori keluarga telah menulis tentang tema keluarga, mitos, dan legenda keluarga, serta cerita keluarga sebagai cara untuk membentuk dan mempertahankan mkana yang sama, dan dengan membentuk kembali atau mengubah makna keluarga seseorang dapat mengubah makna interaksi ( Broderick, 1993). Interaksi simbolik juga memerhatikan makna.
Akhirnya, pragmatic berkaitan sendiri dengan dampak komunikasi pada prilaku , dan aspek komunikasi inilah yang paling banyak terungkap secara lengkap. Aturan landasan teori komunikasi yang dikembangkan oleh Watzlawick, Beavin, dan Jackson ( 1967) dalam pragmatics of human communication adalah sebagai berikut :
1)        Setiap orang harus mempunyai prilaku, dengan demikian setiap orang harus berkomunikasi. Semua prilaku adalah komunikasi pada tingkat tertentu. Misalnya, seorang klien yang tidak menjawab pertanyaan tetapi duduk dengan tenang selama wawancara berarti masih berkomunikasi, tetapi perawat harus menemukan makna prilaku bagi klien untuk menemukan apa yang tengah dikomunikasikan.
2)        Semua komunikasi memiliki tingkat laporan (digital) dan tingkat perintah ( analog). Tingkat perintah mendefinisikan sifat hubungan.
3)        Semua prilaku/komunikasi harus dinilai dalam ruang lingkupnya. Tanpa kewaspadaan kontekstual, pemahaman lengkap tidak terjadi.
4)        Semua system ditandai oleh peraturan yang mempertahankan keseimbangan homeostasis dan memelihara system.
5)        Hubungan dapat dideskripsikan baik sebagai sesuatu yang simetris atau sebagai pelengkap.
6)        Setiap oranng menekankan realitasnya menurut realitas diri mereka sendiri.
7)        Masalah dipertahankan dalam lingkaran umpan balik yang terkait degan pola komunikasi berulang.
8)        Keluarga fungsiona maupun normal mampu mempertahankan integritas dasarnya bahkan selama periode stress. Perunbahan diakomodasi sesuai kebuuhan dan terdapat komunikasi yang jelas dan sesuai.
9)        Keluarga yang fungsional dikatakan “ tersangkut “ .Prilaku simtomatik mempertahankan keseimbangan keluarga pada saat itu dan menghindari perubahan yang diprlukan . masalah adalah sebuah gejala kerusakan system tersebut.

Satir (1982) membentuk ide-ide komunikasi diatas dengan menambah empat asumsi dasar. Pertama Pergerakan alamiah semua individu kearah tumbuh kembang yang positif dan suatu gejala menunjukkan suatu kebuntuan dalam proses pertumbuhan. Kedua, semua individu memiliki sumber yang diperlakukan untuk tumbuh kembang. Ketiga, keluarga memiliki pengaruh timbal balik dan tanggung jawab bersama. Keempat , terapi adalah psroes yang melibatkan interaksi antara klien dan ahli terapi , dengan tujuan memindahkan keluarga kearah pertumbuhan yang positif.
Kerusakan fungsi keluarga terjadi jika komunikasi keluarga yang tidak jelas dan jika peraturan fungsi keluarga menjadi ambigu.Fokus intervensi utama adalah penetapan komunikasi yang sesuai dan jelas serta mengklarifikasi dan mengubah aturan keluarga ( Jackson, 1965b ; satir, 1967). Sudut pandang interaksi/komunikasi  memiliki penekanan kuat pada komunikasi diantara anggota keluarga dan focus sudut pandang interaksi yang telah dibahas adalah pada makna bersama. Kekuatan pendekatan ini adalah pada fokusnya terhadap komunikasi didalam lingkunan keluarga.kelemahan teori ini adalah  teori ini melihat terutama pada prilaku internal keluarga dan bukan bagaimana budaya lingkungan yang lebih luas member dampak pada keluarga.

2.        Teori terapi keluarga structural
Empat konsep utama yang penting untuk memahami terapi keluarga structural adalah :
1)         Pola transaksi
Adalah transaksi yang sudah menjadi kebiasaan dan berulang dianggota keluarga yang menjadi hokum tetap yang mengatur interaksi dan prilaku berbagai anggota keluarga.
2)         Adaptasi
Adaptasi menunjukkan kemampuan keluarga untuk menggerakkan pola transaksi alternatif menuju pola yang sudah tetap ini guna memenuhi tuntutan eksterna dan interna akan perubahan.Disfungsi keluarga terjadi ketika pola transaksi tidak lagi berfungsi bagi keluarga dan akibatnya terdapat adaptasi yang buruk.
3)         Subsistem
Adalah cara system keluarga membedakan dan melaksanakan fungsi afektif dan sosialisasinya.Subsistem dalam keluarga ini biasanya adalah subsistem individual atau subsistem hubungan.
4)         Batasan
Memastikan pembedaan antara subsystem keluarga .Minuchin memperkenalkan ide tentang dua patologis ekstrem dalam batasan: batasan lepasan, yang batasnya terlalu kaku dititik tempat kelekatan antara anggota keluarga kecil dan batasan pertautan, dengan batasan yang berdifusi dititik tempat subsistem tidak berfungsi secara otonom atau sama sekali tidak mandiri.

Tujuan terapi keluarga structural adalah memfasilitasi perubahan dalam struktur keluarga. kekuatan pendekatan ini adalah bahwa konsepnya cukup jelas, dipadukan, disusun, dan diuji dengan baik. Pendekatan berpusat saat ini , berorientasi pada tindakan , dan berfokus pada masalah yang sangat konsisten dengan model terapi yang digunakan dalam pelayanan kesehatan saat ini.Keterbatasab model adalh bahwa pendekatan membutuhkan peran yang sangat terarah dan aktif dipihak ahli terapi , yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi beberapa ahli terapi dan bagi keluarga.


3.        Teori Terapi system keluarga
Teori system keluarga Murray Bowen adalah salah satu kerangka teoritis terapi keluarga yang dikembangkan dan diintegrasikan dengan baik ( Goldenberg & Goldenberg , 2000). Bowen menekankan delapan konsep yang saling terkait dalam upaya membahas kecemasan kronik dan proses emosional dam keluarga dan masyarakat ( galdding, 1995).
Kosep utama dalam teorinya adalah diferensiasi diri. Menunjukkan kemampuan seseorang untuk membedakan diri mereka sendiri dari keluarga asal mereka pada tingkat emosional dan intelektual. Semakin besar diferensiasi diri semakin , individu semakin mampu untuk beradaptasi terhadap perubahan dan stress akibat lingkungan mereka sehingga kecenderungan mereka mengalami kesulitan emosional semakin jarang.
Terdapat tujuh konsep terkait lain dalam teori system keluarga bowen.Keluarga inti didefinisikan sebagai system emosional keluarga inti .keluarga menurunkan strategi dan pola koping dari generasi ke generasi, suatu fenomena yang dikenal sebagai proses transmisi multigenerasi.keluarga yang tidak berfungsi dengan baik membawa prilaku bermasalah hingga kebeberapa generasi. Proses proyeksi keluarga
Menunjukkan perpindahan kecemasan dari orang tua dan tingkat diferensiasi yang rendah kepada anak yang rentan. Triangulasi adalah konsep utama lainnya.dalam triangulasi, kecemasan dan ketegangan diantara dua orang diproyeksikan ke objek / orang lain didalam keluarga. Posisi saudara kandung membahas mengenai pentingnya urutan kelahiran. Pemutusan emosional menandakan penarikan emosi dari anggota keluarga yang lain akibat proses pelekatan yang tidak tuntas.Regresi social merupakan analog pada tingkat social untuk diferensiasi diri.
Fokus utama terapi system keluarga bowen adalah peningkatan diferensiasi diri dari keluarga dan diferensiasi intelektual dari emosional ( Becvar & Becvar, 1996) . Logika pendekatan bowen menarik bagi banyak orang yang intelektual mereka lebih mendominasi dari pada perasaan mereka, sehingga logika pendekatan bowen tercatat menarik bagi klien pria . kelemahan utama dari terapi ini adalah sebagian besar individu tidak memiliki kecenderunagan untuk tetap menjalani terapi dalam waktu yang cukup lama untuk melihatnya sampai lengkap.

4.        Teori terapi keluarga lainnya
Kerangka dan pendekatan lain dari terapi keluarga yang berperan dalam teori keperawatan keluarga mencakup psikodonamik( Ackerman, 966), eksperimental/ humanistic (Whitaker & keith, 1981), strategic ( Madanes, 1991), naratif ( white & epston, 1990) dan berfokus atau berpusat pada masalah ( pinsof, 1995)
4.     Teori Struktural-Fungsional
Kerangka struktural-fungsional adalah sebuah kerangka teoritis acuan yang utama dalam sosiologi (Leslie & Korman, 1989; Smith, 1995), terutama di bidang sosiologi keluarga dan kedokteran. Dalam teori ini dijalaskan bahwa keluarga dipandang sebagai sistem sosial terbuka dan subsistem dalam masyarakat untuk reproduksi dan sosialisasi a       nak serta stabilisasi kepribadian orang dewas (Doherty, Boss, LaRossa, Schumm & Steinmetz, 1993).
Menurut Eshleman (1974), pendekatan struktural fungsional berasal dari cabang fungsional psikologi (terutama psikologi Gestalt), dalam antropologi sosial (seperti yang ditunjukkan dalam teori Malinowski dan Radcliffe-Brown), dan dalam sosiologi (terutama seperti yang dijelaskan oleh ahli teori sistem sosial seperti Parsons). Ahli struktural-fungsional melihat keluarga, salah satu lembaga sosial dalam masyarakat, sebagai sesuatu yang “fungsional” yang sejalan dengan masyarakat.
Perspektif struktural-fungsional merupakan kerangka yang sangat berguna untuk mengkaji kehidupan keluarga karen memungkinkan sistem keluarga dipelajari secara holistik (sebagai sebuah unit), sebagian (sebagai subsistem atau dimensi), dan secara interaksional (sebagai sebuah sistem yang berinteraksi dengan lembaga lain, seperti sistem pendidikandan kesehatan). Dalam hali ini, teori struktural-fungsional berfungsi sebagai sebuah kerangka pengatur, terutama dalam memandu pengkajian keluarga.
Konsep Struktur
Pendekatan struktural-fungsional menganalisis karakteristik struktural keluarga-pengaturan bagian0bagiannya yang membentuk keseluruhan, dan fungsi yang dilakukan baik untuk masyarakat maupun subsistemnya. Struktur keluarga ini menunjukkan cara pengaturan keluarga, cara pengaturan unit-unit, dan bagaimana unit-unit ini saling mempengaruhi. Cara lain memandang struktur keluarga adalah dengan menggambarkan subsistem sebagai dimensi struktural (Minuchin, 1974).
Parad dan Caplan (1965), dalam menganalisis sebuah keluarga yang sedang yang stres, telah mengidentifikasi tiga dimensi struktural, yang mereka sebut sebagai gaya hidup keluarga. Gaya hidup keluarga mengarah pada “pemolaan organisasi keluarga yang stabil dan masuk akal, yang dibagi menjadi 3 unsur yang saling bergantung, yaitu sistem nilai, jaringan komunikasi, dan sistem peran” (Parad dan Caplan, hlm.55). Unsur-unsur ini akan saling berhubungan dan berinteraksi dengan erat. Jika salah satu aspek struktur interna keluarga dipengaruhi oleh input dari lingkungna eksterna, pemprosesan input ini di dalam sistem keluarga juga akan mempengaruhi dimensi struktural lainnya. 
Struktur keluarga terutama dievaluasi dengan mengevaluasi seberapa baik keluarga mampu mencapai fungsi keluarganya terutama bagi anggota keluarga dan masyarakat. Struktur keluarga berfungsi untuk memfasilitasi pencapaian fungsi keluarga, karena penghematan dan alokasi sumber daya adalah tugas utama struktur keluarga. Karena hubungan yang penting ini, fungsi harus dipandang berurutan dengan struktur keluarga.
Konsep Fungsi
Fungsi keluarga secara umum didefinisikan sebagai hasil akhir atau akibat dari struktur keluarga. Walaupun beberapa penulis menggunakan “fungsi” untuk mengartikan “akibat dari atau hasil, dari,” akan lebih mudah untuk memikirkan fungsi keluarga sebagai apa yang dikerjakan keluarga (Friedman, 1992; Ingoldsby, 1995a). “Lembaga sosial ada karena lembaga tersebut menjalankan fungsi tertentu yang bermanfaat untuk anggotanya dan masyarakat di tempat keluarga menjadi bagian darinya” (Ingoldsby, 1995a, hlm. 84).
Fungsi dasar keluarga memenuhi kebutuhan anggota keluarga itu sendiri dan kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Fungsi keluarga menjadi saling berhubungan erat pada saat mengkaji dan melakukan intervensi dengan keluarga. Adapun lima fungsi keluarga tersebut antara lain :
1.        Fungsi afektif (fungsi mempertahankan kepribadian) : Memfasilitasi stabilitas kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis anggota keluarga.
2.        Fungsi sosialisasi dan status sosial : Memfasilitasi sosialisasi primer anak yang bertujuan menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang produktif, serta memberikan status pada anggota keluarga.
3.        Fungsi reproduksi ; untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama beberapa generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.
4.        Fungsi ekonomi : menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi efektifnya
5.        Fungsi perawatan kesehatan : Menyediakan kebutuhan fisik seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan
a.        Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan dasar utama baik untuk pembentukan maupun keberlanjutan unit keluarga itu sendiri, sehingga fungsi afektif merupakan salah satu fungsi keluarga yang paling penting. Duvall (1977), menyatakan bahwa kebahagiaan keluarag diukur oleh kekuatan cinta keluarga. Keluarga harus memenuhi kebutuhan kasih sayang anggota keluarganya karena respons kasih sayang satu anggota keluraga ke anggota keluarga lainnya memberikan dasar penghargaan pada kehidupan keluarga.
Manfaat fungsi afektif di dalam anggota keluarga dijumpai paling kuat di antara keluarga kelas menengah dan kelas atas, karena pada keluarga tersebut mempunyai lebih  banyak pilihan. Pentingnya fungsi afektif kurang ditekankan di banyak keluarga kelas pekerja dan kelas bawah, sebagian besar karena penekanannya lebihpada fungsi dasar seperti penyediaan kebutuhan fisik yang penting dalam hidup.
b.        Fungsi Sosialisasi dan Status Sosial
Sosialisasi anggota keluarga adalah fungsi yang universal dan lintas budaya yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup masyarakata (Lelie & Korman, 1989). Sosialisasi merujuk pada banyaknya pengalaman belajar yang diberikan dalam keluarga yang ditujukan untuk mendidik anak-anak tentang cara menjalankan fungsi dan memikul peran sosial orang dewasa seperti peran yang dipikul suami-ayah dan istri-ibu.
Bagian integral sosialisasi dalam keluarga melibatkan penanaman kendali dan nilai dengan menanamkan perasaan mana yang benar dan salah pada anak yang sedang tumbuh. Kohlberg (1970) menguraikan proses perkembangan moral sebagai pembangunan pondasi dalam keluarga. Dengan mengidentifikasi figur orang tua dan secara pemberian penguatan, positif dan negatif secara konsisten atas perilaku anak, anak membangun sistem nilai personal yang sangat dipengaruhi oleh sistem nilai keluarag.
Status sosial atau pemberian status adalah aspek lain dari fungsi sosialisasi. Pada saat lahir, seorang anak secara otomatis mewarisi status keluarganya seperti etnik, ras, kebangsaan, agama, ekonomi, politik, dan pendidikan.


c.       Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi fisik keluarga dipenuhi oleh orang tua yang menyediakan makanan, pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan, dan perlingdungan terhadap bahaya.
d.      Fungsi Reproduksi
Salah satu fungsi dasar keluarga adalah untuk menjamin kontinuitas antar-generasi keluarga dan masyarakat (Leslie & Korman, 1989). Sampai saat ini reproduksi masih mendominasi fungsi primer keluarga, yang merupakan justifikasi keberadaan keluarga.
Dalam keluarga pasca modern, keluarga didefinisikan dalam konteks pilihan (yi., “siapa yang Anda pilih untuk menjadi bagian dalam keluarga Anda”) (Dunphy, 2001). Sebagai contoh, jumlah kelahiran dari ibu yang tidak menikah meningkat di AS selama dua dekade terakhir, karena ada penerimaan yanh lebih besar dan terjadi kelonggaran kebiasaan seksual. Selain itu, gerakan menuju pengendalian populasi dan keluarga berencana mempengaruhi pentingnya masa menjadi orang tua bagi wanita dan pria.
e.       Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi melibatkan penyediaan keluarga akan sumber daya yang cukup seperti finansial, ruang, dan materi serta alokasinya yang sesuai melalui proses pengambilan keputusan. Dengan memahami bagaimana sebuah keluarga mendistribusikan sumber-sumbernya, perawat yang berpusat pada keluarga juga dapat memperoleh perspektif yang lebih jelas mengenai sistem nilai keluarga (apa yang penting bagi keluarga) dan sumber apa yang dapat dikases guna membantu keluarga memenuhi kebutuhannya.
Perubahan Fungsi Keluarga
Fungsi yang dijalankan keluarga untuk masyarakat dan anggota masyarakat telah berubah seiring dengan perubahan waktu. Jelas bahwa industrialisasi, urbanisasi, dan kemajuan teknologi telah sangat mempengaruhi keluarga, dan lembaga sosial/masyarakat telah memikul banyak fungsi yang pada awalnya merupakan ranah keluarga. Selain perubahan dalam fungsi keluarga, dan waktu transisi keluarga juga mengalami perubahan.
5.     Teori perkembangan keluarga
      Tahap-tahap perkembangan keluarga
 Tahap perkembangan dibagi menurut kurun waktu tertentu yang dianggap stabil. Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama.
Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Milller (Friedman, 1998)
1.        Pasangan Baru
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan orang tuanya.


Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun pagi dan sebagainya.
Tugas perkembangan
1)        Membina hubungan intim danmemuaskan.
2)        Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.
3)        Mendiskusikan rencana memiliki anak.
Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga  suami, keluarga istri dan keluarga sendiri.

2.        Keluarga “child bearing
Kelahiran anak pertama Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun.
Tugas perkembangan kelurga
1)        Persiapan menjadi orang tua
2)        Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan     sexual dan kegiatan.
3)        Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua; bagaiaman orang tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu menfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih saying antara bayi dan orang tua dapat tercapai.
3.        Keluarga dengan anak pra sekolah
Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak berusia 5 tahun.
Tugas perkembangn
1)        Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa aman.
2)        Membantu anak untuk bersosialisasi
3)        Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga harus terpenuhi.
4)        Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun dengan masyarakat.
5)        Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
6)        Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
7)        Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.

4.        Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak.
Tugas perkembangan keluarga
1.        Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.
2.        Mempertahankan keintiman pasangan.
3.        Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat, termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada anak untuk nbersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah.

5.        Keluarga dengan anak remaja
Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.
Tugas perkembangan
1)        Memberikan kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab.
2)        Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
3)        Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua. Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
4)        Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.
Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja.

6.        Keluarga dengan anak dewasa
Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
Tugas perkembangan
1)        Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2)        Mempertahankan keintiman pasangan.
3)        Membantu orang tua memasuki masa tua.
4)        Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5)        Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

7.        Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang tua.
Tugas perkembangan
1)        Mempertahankan kesehatan.
2)        Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-anak.
3)         Meningkatkan keakraban pasangan.
Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.

8.        Keluarga usia lanjut
Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya meninggal.
Tugas perkembangan :
1)        Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
2)        Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan pendapatan.
3)        Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat
4)        Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
5)        Melakukan life review.
6)        Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini.
6.     Teori Sistem
Teori sistem adalah salah satu kerangka yang paling berpengaruh dan produktif. Sebuah sistem terdiri dari serangkaian unsur yang saling terkait, setiap sistem dikenalisebagai sesuatu yang berbeda dari lingkungan tempat munculnya sistem tersebut. Sistem bergantung baik pada umpan balik positif maupun negatif, dalam upaya mempertahankan keadaan homeostatis. Asumsi perspektif sistem yang diterapkan pada sistem keluarga meliputi :
a.         Sistem keluarga lebih besar daripada dan lebih besar dari jumlah bagiannya
b.        Terdapat hirarki dalam sistem keluarga dan antara subsistem dan keluarga serta komunitas
c.         Terdapat batasan di dalam sistem keluarga dan batasan tersebut dapat terbuka, tertutup, atau acak
d.        Sistem keluarga mengalami peningkatan kompleksitas sepanjang waktu, yang terjadi guna memungkinkan kemampuan adaptasi, toleransi terhadap perubahan, dan pertumbuhan melalui diferensiasi yang besar
e.         Sistem keluarga berubah secara konstan sebagai respon terhadap stres dan ketegangan dari lingkungan dalam serta stres dan tekanan dari lingkungan luar. Perubahan di salah satu bagian sistem keluarga memengaruhi keseluruhan sistem
f.         Hubungan sebab-akibat dimodifikasi oleh umpan balik, oleh karena itu hubungan sebab akibat linier tidak pernah terdapat dalam dunia nyata.
g.        Pola sistem keluarga berbentuk sirkuler dan bukan linier, oleh karena itu perubahan harus diarahkan dalam bentuk siklus
h.        Sistem keluarga adalah suatu keseluruhan yang terorganisir, dengan individu dalam keluarga menjadi saling bergantung dan berinteraksi
i.          Sistem keluarga memiliki gambaran homeostatis untuk mempertahankan pola stabil, yang dapat bersifat adaptif maupun maladaptif.

Perspektif sistem keluarga mendorong perawat untuk melihat klien sebagai anggota keluarga yang berpartisipasi. Perawat yang menggunakan perspektif ini mengkaji pengaruh penyakit atau cedera terhadap keseluruhan sistem keluarga dan pengaruh penyakit atau cedera (Wright & Leahey, 2000). Penekanan perspektif ini berfokus pada keluruhan sistem bukan induvidu. Konsep yang relevan dalam teori sistem keluarga mencakup subsistem, batasan, sistem terbuka, lingkaran umpan balik, interaksi keluarga, adaptasi, dan perubahan. Contoh pertanyaan pengkajian mencakup. Siapa yang menyusun sistem keluarga? Bagaimana penyakit kritis yang diderita seorang anggota keluarga memengaruhi keluarga dan anggota keluarga tersebut? Intervensi harus berfokus pada subsistem dan seluruh proses serta fungsi keluarga.
Empat kekuatan utama pada kerangka sistem umum yaitu :
1)        Teori utama yang mencakup rangkaian fenomena yang luas
2)        Teori yang berbasis kontekstual, yang memandang keluarga dalam konteks suprasistemnya (komunitas besar tempat suprasistem berada)
3)        Teori yang berfokus pada interaksi
4)        Teori holistik. Teori ini melihat proses di dalam keluarga bukan konteks dan hubungan antara bagian keluarga (hubungan antara dan di dalam sub-sistem serta hubungan antara keluarga  dan yang memengaruhinya serta suprasi sistem)
Keluarga dipandang sebagai suatu keseluruhan, bukan hanya kumpulan dari bagian-bagiannya.
Dua keterbatasan pemakaian orientasi teoritis ini dalam praktik keperawatan adalah :
01.     Teori ini sangat luas dan sangat umum, dan harus disusun konsep dan pedoman praktik yang lebih spesifik di luar teori

02.     Pendekatan ini mungkin tidak terlalu membantu seperti teori yang ditujukan untuk individu guna membahas masalah klien individu 

1 komentar: