About

Selasa, 04 November 2014

DM Gestasional

DIABETES MELITUS GESTASIONAL

Diabetes adalah suatu penyakit yang melibatkan ketidakmampuan untuk membentuk atau menghasilkan hormone insulin yang gunanya untuk metabolisme glukosa yang menghasilkan energi yang dibutuhkan tubuh. Ini merupakan kondisi yang sudah ada sebelumnya atau berkembang selama kehamilan sebagai hasil dari perubahan metabolism hormone (gestasional diabetes). Diabetes diklasifikasikan pada tiga tipe tergantung dari etiologinya oleh National Diabetes Data Group Clasification.
 Tipe 1 dan tipe 2 diabetes disebut juga pregestasional diabetes  (Diabetes sudah ada sebelum kehamilan. Wanita dengan diabetes tipe 1 membutuhkan insulin karena sel islet dari pancreas tdak menghasilkan insulin karena kerusakan autoimun medium seluler. Wanita dengan diabetes tipe 2 memiliki perlawanan terhadap insulin dan juga mungkin memiliki kerusakan sekresi insulin; mereka umumnya diobati dengan obat oral hipoglikemik dibandingkan dengan insulin.
Diabetes tipe 3 atau gestasional adalah intoleransi karbohidrat yang pertama kali muncul atau dibentuk selama kehamilan. Kerusakan toleransi glukosa dan kerusakan glukosa selama berpuasa adalah tahapan intermediate dalam tahapan-tahapan prediabetik. Kerusakan toleransi glukosa muncul ketika dua jam setelah makan, kadar gula darah tinggi dari 140 mg/dl tapi rendah dari 200 mg/dl. Kerusakan glukosa selama berpuasa terjadi ketika kadar gula darah puasa adalah 100 atau lebih tinggi tapi lebih rendah dari 126 mg/dl. Keduanya ini berhubungan dengan sindrom X atau sindrom metabolic. Sindrom X adalah sekelompok tanda dan gejala yang mencakup penolakan insulin, kompensasi hiperinsulinemia, obesitas, kepadatan lipoprotein kolesterol yang tinggi, kepadatan lipoprotein kolesterol dan trigliserida yang sangat rendah, hipertensi, prothrombotic state, dan kerusakan toleransi glukosa. Bagian ini juga bisa menjadi komplikasi kehamilan.
Pada diabetes yang tidak terkontrol, risiko kehamilan melibatkan peningkatan masalah vaskuler, seperti retinopati, neuropati, dan hipertensi. Wanita dengan risiko hiperglikemia, hipoglikemia, dan diabetes ketoasidosis.
Risiko kehamilan ibu dapat mencakup hal-hal berikut :
1.      Aborsi spontan
2.      Preeklamsi
3.      Persalinan premature
4.      Polihidroamnion atau oligohidramnion
5.      Infeksi, infeksi saluran perkemihan, pilonefritis, korioamnionitis, dan post partum endometritis
6.      Diabetes ketoasidosis, Caesar atau kelahiran dengan instrument, dan induksi
Efek pada janin tergantung pada komplikasi pembuluh darah selama kehamilan dan ketidakadekuatan plasenta dan terbukti oleh pembatasan pertumbuhan intrauterine dan oligohidramnion.
Risiko pada janin adalah sebagai berikut :
1.      Cacat congenital, terutama cacat syaraf, kelainan jantung sejak lahir, malformasi gastrointestinal, dan kelainan ginjal
2.      Makrosomia (umur kehamilan yang lama) dan oleh karena itu memungkinkan trauma kelahiran, distosia bahu, cidera brachial plexus, cidera saraf wajah, dan asfiksia
3.      Hambatan pertumbuhan intrauterine
4.      Penundaan pematangan paru-paru
5.       Kelahiran mati tanpa sebab
Setelah kelahiran, bayi yang yang lahir dari ibu diabetes memiliki keterlambatan pematangan paru-paru dan mungkin memiliki masalah pernapasan. Juga bayi baru lahir berisiko terhadap :
1.      Hipoglikemia
2.      Hipokalsemia
3.      Hipomagnesemia
4.      Hiperbilirubinemia dan polisitemia
5.      Kardiomiopati dan kelainan lainnya
6.       
Etiologi
Etiologi Diabetes Melitus menurut Kapita Selekta Jilid III, 2006, Yaitu :
1.        Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4.
2.        Genetik
Diabetes mellitus dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus. Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.Secara klinis, penyakit DM awalnya didominasi oleh resistensi insulin yang disertai defect fungsi sekresi. Tetapi, pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi defect fungsi sekresi yang disertai dengan resistensi insulin. Kaitannya dengan mutasi DNA mitokondria yakni karena proses produksi hormon insulin sangat erat kaitannya dengan mekanisme proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam sel beta pankreas. Penderita DM proses pengeluaran insulin dalam tubuhnya mengalami gangguan sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa darah. Mitokondria menghasilkan adenosin trifosfat (ATP). Pada penderita DM, ATP yang dihasilkan dari proses OXPHOS ini mengalami peningkatan. Peningkatan kadar ATP tersebut otomatis menyebabkan peningkatan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam ATP. Peningkatan tersebut antara lain yang memicu tercetusnya proses pengeluaran hormon insulin. Berbagai mutasi yang menyebabkan DM telah dapat diidentifikasi. Kalangan klinis menyebutnya sebagai mutasi A3243G yang merupakan mutasi kausal pada DM. Mutasi ini terletak pada gen penyandi ribo nucleid acid (RNA). Pada perkembangannya, terkadang para penderita DM menderita penyakit lainnya sebagai akibat menderita DM. Penyakit yang menyertai itu antara lain tuli sensoris, epilepsi, dan stroke like episode. Hal itu telah diidentifikasi sebagai akibat dari mutasi DNA pada mitokondria. Hal ini terjadi karena makin tinggi proporsi sel mutan pada sel beta pankreas maka fungsi OXPHOS akan makin rendah dan defect fungsi sekresi makin berat.
Prevalensi mutasi tersebut biasanya akan meningkat jumlahnya bila penderita DM itu menderita penyakit penyerta tadi.
1.      Kerusakan / kelainan pangkreas sehingga Kekurangan produksi insulin
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti kolesterol tinggi dan dislipidemia dapat meningkatkan resiko terkema diabetes mellitus.
2.   Meningkatnya hormon antiinsulin seperti GH, glukogen, ACTH, kortisol, dan epineprin.
3.   Obat-obatan.
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan mengakibatkan fungsi pankreas menurun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu yang lama dapat mengiritasi pankreas. Contohnya Minum soda dalam keadaan perut kososng (misalnya stelah berpuasa atau waktu bangun tidur dipagi hari) juga harus dihindari. Sirup dengan kadar fruktosa tinggi, soda, dan pemanis buatan yang terdapat dalam minuman soda dapat merusak pangkreas yang menyebabkan meningkatnya berat badan, jika kebiasaan ini diteruskan, lama kelamaan akan menderita penyakit DM. Penelitian membuktikan bahwa perempuan yang mengkonsumsi soda lebih dari 1 kaleng per hari memiliki resiko 2 kali terkena diabeters tipe 2 dalam jangka waktu 4 tahun kedepannya.
4.   Wanita obesitas
Sebenarnya DM bisa menjadi penyebab ataupun akibat. Sebagai penyebab, obesitas menyebabkan sel beta pankreas penghasil insulin hipertropi yang pada gilirannya akan kelelahan dan “jebol” sehingga insulin menjadi kurang prodeksinya dan terjadilah DM. Sebagai akibat biasanya akibat penggunaan insulin sebagai terapi DM berlebihan menyebabkan penimbunan lemak subkutan yang berlebihan pula.

Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus bukanlah hal baru bagi sebagian besar orang. Bahkan ada teman atau keluarga kita yang terkena diabetes mellitus. Iklan di media berkaitan dengan diabetes juga sudah banyak. Diabetes mellitus sering dikenal dengan nama penyakit kencing manis. Penyakit ini merupakan kelainan atau gangguan metabolisme dalam tubuh.
Dapat disebabkan oleh sekresi hormon insulin atau defisiensi pendistribusian gula dalam tubuh. Dapat pula disebabkan oleh keduanya. Diabetes Mellitus dikenal dengan berbagai tipe yaitu Tipe I yang disebabkan faktor genetik atau karena keturunan, Tipe II, sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup, dan Tipe III yaitu diabetes yang dialami oleh ibu hamil.
Pada diabetes Tipe III, apabila terjadi pada saat kehamilan bukan sejak sebelum hamil, maka hanya bersifat sementara. Berikut beberapa tanda dan gejala diabetes mellitus:
Beberapa tanda yang tampak pada orang yang menderita diabetes:
1.   Sering buang air kecil. Air seni/air kencing orang yang menderita diabetes biasanya dikerumuni semut karena kadar gulanya tinggi. Ganguan ini disebabkan karena hormon insulin dalam darah sedikit atau pada penderita diabetes tipe I tidak ada sehingga ginjal tidak dapat menyaring gula dalam darah jadi gula tersebut keluar bersama air seni.
2.   Mudah haus sehingga banyak minum. Karena sering buang air kecil jadi kita juga gampang haus. Sering kali karena mudah haus air minumnya adalah air dingin (dari kulkas/dengan es) dan sebagian besar orang Indonesia bila minum air dingin/dengan es lebih senang juga menggunakan sirup. Di mana sirup notabene manis.
3.   Mudah lapar. Karena apabila lapar kita makan nasi. Terlalu banyak makan akan dapat menaikkan kadar gula karena didalam karbohidrat yang ada pada nasi mengandung glukosa (gula).
4.   Tanda penting lainnya yang perlu dicermati adalah apabila penderita diabetes mendapat luka ditubuh cenderung membutuhkan waktu lama dalam penyembuhannya. Selain itu ada pula tanda berupa Letih dan lesu. Kondisi ini disebabkan karena produksi gula dalam darah terhambat, sehingga pembuatan energi menjadi ikut terganggu. Pandangan kabur atau tidak jelas juga bisa jadi merupakan gejala diabetes melitus yang perlu diwaspadai.
5.   Sering kesemutan, gejala ini disebut neuropati. Hal ini karena kandungan gula dalam darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan system saraf. Dapat juga terjadi penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.

Gejala klinis yang dialami oleh penderita diabetes dapat diketahui melalui pemeriksaan di laboratorium. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan kadar gula darah. Pada prosesnya pengambilan darah untuk pengecekan ini dilakukan dua kali atau dalam dua kondisi yaitu setelah puasa (8 jam tidak menerima asupan gula baik melalui makanan atau minuman) dan kondisi biasa (tidak puasa atau minimal 2 jam setelah makan). Pada kedua pemeriksaan ini apabila, kadar gula biasa ≥ 120 mg/dl atau kadar gula puasanya ≥ 126 mg/dl, berarti Anda positif (+) menderita Diabetes. Jadi, segelah periksa gula darah Anda. Penanganan yang cepat dan tepat akan memberikan hasil yang lebih baik.



Diagnosa Keperawatan
Dx : Resiko tinggi cedera b.d hiperglikemia
Tujuan adalah untuk mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi.

NOC
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan tidak terjadi trauma pada pasien dengan kriteria hasil :
·         Bebas dari cidera
·         Mampu menjelaskan faktor resiko dari lingkungan dan cara untuk mencegah
·         Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada.
Kontrol Resiko
Indikator :
1.      Memantai faktor resiko lingkungan
2.      Mengembangkan strategi kontrol yang efektif
3.      Menyesuaikan strategi kontrol resiko yang dibutuhkan
4.      Melakukan strategi kontrol resiko
5.      Memodifikasi gaya hidup untuk menurunkan resiko
6.      Menggunakan layanan kesehatan sesuai kebutuhan
7.      Mengenal perubahan status kesehatan
8.      Pantau perubahan status kesehatan

NIC
1.      Manajement hiperglikemia
Aktivitas :
a.       Memonitor kadar glukosa darah.
b.      Memonitor tanda dan gejala hiperglikemia, poliuri, polidipsi, polivagi, malaise.
c.       Memonitor ketonuri
d.      Perintahkan pasien mengenal tanda tanda lain, mengenal hiperglikemia dan manajement.
e.       Berikan insulin sesuai dengan tempatnya.
f.       Monitor status cairan.
g.      Pemberian diet dan latihan
h.      Ajarkan untuk mencatat gas gula darah untuk memonitor dini.

2.      Identifikasi Resiko
Aktivitas :
1.      Lihat kembali riwayat kesehatan yang lalu dan dokumentasi sebagai petunjuk dari diagnosa medis dan keperawatan yang masih ada atau yang dahulu
2.      Pelihara  catatan-catatan akurat dan data-data statistik
3.      Identifikasi pasien dengan kebutuhan perawatan lanjutan
4.      Tentukan dukungan finansial pasien
5.      Tentukan status pendidikan klien
6.      Identifikasi strategi koping klien dan keluarga
7.      Tentukan pemenuhan pengobatan perawatan dan medis
8.      Identifikasi sumber-sumber untuk membantu penurunan factor resiko
9.      Gunakan kontak pasien dengan tepat

0 komentar:

Posting Komentar