About

Selasa, 04 November 2014

Keselamatan Pasien b.d Keperawatan Maternitas

A.    Konsep Dasar Keperawatan Maternitas
Keperawatan Maternitas merupakan persiapan persalinan serta kwalitas pelayanan kesehatan yang dilakukan dan difokuskan kepada kebutuhan bio-fisik dan psikososial dari klien, keluarga , dan bayi baru lahir. (May & Mahlmeister, 1990)
Keperawatan Maternitas merupakan sub system dari pelayanan kesehatan dimana perawat berkolaborasi dengan keluarga dan lainnya untuk membantu beradaptasi pada masa prenatal, intranatal, postnatal, dan masa interpartal. (Auvenshine & Enriquez, 1990)

B.          Patient safety pada keperawatan maternitas
Keperawatan maternitas merupakan salah satu bentuk pelayanan profesional keperawatan yang ditujukan kepada wanita pada masa usia subur (WUS) berkaitan dengan sistem reproduksi, kehamilan, melahirkan, nifas, antara dua kehamilan dan bayi baru lahir sampai umur 40 hari, beserta keluarganya, berfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai kesejahteraan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
Setiap individu mempunyai hak untuk lahir sehat maka setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Keperawatan ibu menyakini bahwa peristiwa kelahiran merupakan proses fisik dan psikis yang normal serta membutuhkan adaptasi fisik dan psikososial dari idividu dan keluarga. Keluarga perlu didukung untuk memandang kehamilannya sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan. Upaya mempertahankan kesehatan ibu dan bayinya sangat membutuhkan partisipasi aktif dari keluarganya.
C.    Peran Perawat Maternitas
Peran perawat dalam keperawatan maternitas menurut Reeder (1997):
a--            Pelaksana
Perawat yang memberi asuhan keperawatan di tempat pelayanan kesehatan, diantaranya :
1--        Meningkatkan kesehatan : Mengidentifikasi dan memaksimalkan kemampuan klien yang spesifik dan unik untuk mencapai hasil maksimal dan hidup yang berkwalitasatau kematian yang tenang
2--      Mencegah penyakit : Sasaran objeknya mengurangi resiko sakit, meningkatkankebiasaan gaya hidup sehat mempertahankan keadaan optimal.
3--      Memulihkan kesehatan/rehabilitasi : fokusnya pada tingkat kesakitan individu darideteksi dini perawat, rehabilitasi dan bimbingan saat pemulihan.
4--      Memfasilitasi koping : Perawat lebih aktif dalam mempersiapkan kematian dankehidupan yang nyaman sebisa mungki
---      Pendidik
Bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan pengajaran ilmu keperawatan dan tenagakesehatan lainnya, bagi klien yang dalam keadaan tidak tahu menjadi tahu, tidak maumenjadi mau dan tidak mampu menjadi mampu
--Konselor
Perawat sebagai seorang yang mempunyai keahlian dalam memberikan konseling kepada klien,konselor bertanggungjawab memberikan layanan dan konseling.
d-- Role Model bagi para ibu
Panutan bagi para ibu-ibu yang sedang menjalankan keperawatan maternitas.
e--     Role model bagi teman sejawat
Panutan sesame perawat atau saling bekerja sama antar perawat.
f.       Perumus masalah
Mengetahui masalah-masalah yang muncul pada pasien dan merumuskan masalah tersebut.
----             Pembela / advocator
Suatu proses menjaga, melindungi, hadir di samping klien saat klien membutuhkanbantuan, bertujuan untuk melindungi hak pasien dalam pelayanan kesehatan melaluikemitraan partnership dan memperlakukan pasien sama sebagai mana ia ingindiperlakukan Gates, 1994)

D.    Tujuan keperawatan maternitas
1.      Membantu klien dalam mengatasi masalah reproduksi dalam mempersiapkan diri untuk kehamilan.
2.      Memberi dukungan agar ibu hamiln memandang kehamilan sebagai pengalaman yang positif dan menyenangkan.
3.      Membantu memberikan informasi yang adekuat untuk calon orang tua.
4.      Memahami social budaya klien.
5.      Membantu mendeteksi secara dini penyimpangan abnormal pada klien.

E.     Model konsep keperawatan maternitas
1.      Melaksanakan kelas untuk pendidikan prenatal orang tua.
2.      Mengikut sertakan keluarga dalam perawatan kehamilan, persalinan dan nifas.
3.      Mengikut sertakan keluarga dalam operasi.
4.      Mengatur kamar bersalin seperti suasana rumah
5.      Menjalankan system kunjungan tidak ketat
6.      Pemulangan secepat mungkin.

F.     Hal Hal Yang Perlu Diperhatikan Pada Keperawatan Maternitas
Untuk mengurangi tuntunan keluarga dan untuk pemikiran, perlu diperhatikan beberapa hal:
a)      Ikut sertakan keluarga dalam pengambilan keputusan, yang artinya dokter dan perawat memberikan informasi mengenai keadaan ibu yang sedang menjalani persalinan, keadaan janin dan kemajuan proses persalinannya.
b)      Informasikan risiko proses persalinan yang untuk beberapa keadaan cukup tinggi akibatnnya.
c)      Dokumentasi dalam catatan medik yang tepat dan kronologik, mencerminkan derajat pelayanan, catatan mana dapat menjadi titik lemah bila tidak dicatat secara cermat, sebaliknya dapat dimanfaatkan untuk menangkis tuduhan-tuduhan bila pencatatannya baik.
d)     Keterampilan dan sopan santun penolong perlu diperhatikan
e)      Kenalilah watak pasien
f)       Ambilah anamnesis dengan baik, lengkap dan tepat
g)      Lakukan prosedur yang anda terampil mengerjakan.
h)      Rujuklah bila terjadi kesulitan
i)        Pengawasan yang selalu teratur
j)        Hargailah pendapat klien untuk menerima atau menolak pengobatan yang akan diberikan.

G.    Insiden
Beberapa kesalahan yang dapat terjadi dalam menjalankan pelayanan obstretrik yang di rekam oleh Florida Medical Association:
Di tinjau dari seringnya kejadian
Di tinjau dari derajat kesalahan
Ditinjau dari segi pembiayaan (Seringnya kejadian kesalahan)
Diagnosis yang kurang tepat
Kesalahan teknik operasi
Kesalahan obat
Perlukaan pada bayi
Infeksi luka operasi
Anestasi yang kurang tepat
Benda asing yang tertinggal
Kesalahan petugas kesehatan
Perlukaan pada bayi
Anestesi yang kurang tepat
Perlukaan jalan lahir
Kesalahan petugas kesehatan
Diagnosis yang kurang tepat
Infeksi luka operasi
Kesalahan teknik operasi
Klien kurang puas terhadap pelayanan
Diagnosis yang kurang tepat
Kesalahan teknik operasi
Perlukaan pada bayi
Anestesi yang kurang tepat
Kesalahan obat


Laporan Insiden
Insiden Maternal
Insiden Neonatus
Insiden organisasional
Kematian ibu
Komplikasi yang tidak terdiagnosa
Distosia
Kehilangan darah > 1500ml
Eklampsia
Histerektomi/laparatomi
Komplikasi anastesi
Emboli pulmoner
Ruptur uterus
Forcep yang tdk berhasil
Kematian neonates
APGAR score <7 dalam 5 menit
Trauma
Laserasi fetal dalam caesar
Asidosis darah arteri
Hipotermi
Anomali fetal

Dokumentasi
Terlambat merespon panggilan darurat
Persalinan mendadak di rumah
Peralatan
Konflik manajemen
Infeksi nosokomial

Mengidentifikasi Kesalahan
Menurut The London Protocol, ada langkah  struktur dan pendekatan sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi kesalahan klinis atau insiden yang terjadi:
1.      Identifikasi insiden dan mengambil keputusan untuk investigasi
2.      memilih anggota tim investigasi
3.      memperoleh data (dokumentasi bukti, wawancara, prosedur) dan poin fisik yang relevan
4.      Mengelompokkan kronologi kejadian
5.      mengidentifikasi masalah dalam  asuhan keperawatan (tindakan yang tidak aman)
6.      mengidentifikasi faktor yang berhubungan (pelatihan yang tidak adekuat, tidak ada supervisi)
7.      Plan of Action

H.    Penerapan Pasien Safety Pada Keperawatan Maternitas

SKP1. Identifikasi pasien
·         Pada ibu hamil maka perlu dilakukan pengkajian dimana menyangkut tentang identitas ibu, baik nama,usia, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan dan kelahiran, obstetri serta kesiapan ibu menerima kehamilan. Pengkajian data yang akurat perlu dilakukan untuk menghidari kesalahan dalam pendiagnosaan, salah identifikasi maupun pemberian tindakan. Selain dilakukannya pengkajian data maka perlu dilakukan pemeriksaan fisik, untuk menentukan status kesehatan ibu dalam menerima kehamilan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada ibu hamil pemeriksaan fisik yang dilakukan seperti, pemeriksaan TTV, pemeriksaan tubuh head to toe, pemeriksaan leopold, Tinggi fundus urteri (TFU), dan juga pemeriksaan laboratorium. Yang dimana seluruh data ini dikumpulkan dalam satu format pengkajian. Format pengkajian inilah yang digunakan untuk identifikasi pasien, dimana dalam tujuan SKP1. Yaitu meningkatkan ketelitian dalam identifikasi pasien.
·         Maksud dan tujuan dari identifikasi klien adalah dilakukannya pengecekan dua kali supaya tidak terjadi kesalahan dalam pelayanan dan pemberian pengobatan maupun terciptanya kesesuaian penerimaan pengobatan kepada pasien dalam hal ini ibu hamil. Pada ibu hamil dengan HIV/AIDS Identifikasi klien sangat penting digunakan dalam prosedur pengambilan darah untuk pemeriksaan lab. Apabila tidak dilakukan identifikasi dan penandaan secara akurat maka dapat mengakibatkan tertukarnya spesimen darah ibu hamil tersebut dengan darah pasien lain, yang mengakibatkan terjadinya kesalahan diagnosis pasien.
·         Salah satu program dalam meminimalisir terjadinya kesalahan identifikasi adalah dengan menggunakan gelang identitas pasien yang dilengkapi dengan bar code, nama, nomor rekam medis dan tanggal lahir. Pada ibu hami yang dirawat menggunakan gelang identitas warna pink, dan dapat ditambahkan dengan gelang warna merah jika ibu memiliki alergi obat tertentu, warna kuning untuk resiko jatuh. Gelang identitas digunakan untuk menghindari kesalah dalam pemberian obat, salah pasien, pemberian produk darah, dan pengambilan spesimen.
SKP.2 Komunikasi Efektif
            Penggunaan komunikasi yang tepat dalam maternitas membantu kefektifan dalam dunia keperawatan maternitas. Komunikasi efektif dapat dilakukan antara perawat ke dokter, perawat ke perawat, perawat ke pasien maupun dokter ke pasien. Di dalam komunikasi efektif ini perawat dapat menjelaskan tentang keadaan kesehatan si ibu dan janinnya kepada suami dan ibu hamil.  Komunikasi efektif antara perawat ataupun dokter ke pasien dalam hal ini ibu hamil dapat membantu ibu sejak pra konsepsi untuk mengorganisasikan perasaannya, pikirannya untuk menerima dan memelihara kehamilannya. Di dalam SKP2. Komunikasi efektif terdapat pula komunikasi antara tim kesehatan melalui komunikasi SBAR.
Komunikasi SBAR dapat digunakan secara efektif untuk meningkatkan serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda, melibatkan semua anggota tim kesehatan untuk memberikan masukan ke dalam situasi pasien termasuk memberikan rekomendasi.
Pada komunikasi SBAR perawat di harapkan dapat berkomunikasi efektif tentang analisa keadaan pasien dan diagnosa keperawatan kepada tim kesehatan lain. Salah satu contoh komunikasi SBAR misalnya pada ibu hamil dengan preklamsia yang perlu mendapatkan perawatan. Di sana perawat membuat suatu bentuk pendokumentasian yang berisi:
·         S (Situation) : merupakan situasi pasien yang dilaporkan seperti :
-          Data dari pasien/ ibu hamil, baik nama, usia, tanggal masuk dan lama perawatan. Lalu nama dokter yang menangani serta nama perawat.
-          Diagnosa medis pasien
-          Apa yang terjadi dengan pasien, menyangkut diagnosa/ masalah keperawatan
·         B (Background) : latar belakang klinis yang berhubungan dengan situasi pasien, seperti : TTV, obat saat ini dan alergi, hasil lab sebelumnya untuk perbandingan, riwayat medis, dan temuan klinis. Misalnya pada TD ibu hamil dengan preklamsia > 160/110 mmhg, terjadinya penambahan berat badan serta edema pada kaki, jari dan muka. Hal seperti ini perlu dilaporkan dan di dokumentasikan dalam SBAR.
·         A (Assassment) : berisi hasil penilalian klinis klie, temuan klinis dari perawat serta analisa dan pertimbangan perawat. Contohnya : hasil laboratorium terbaru, keadaan klien saat ini serta keluhannya.
·         R (recomendation) : berisi rekomendasi yang diperlukan untuk memperbaiki masalah, solusi yang ditawarkan perawat serta apa yang perawat perlukan dari dokter untuk memperbaiki kondisi klien. Seperti rekomendasi pemberian obat serta infus dekstrosa untuk menstabilkan tekanan darah.

Komunikasi efektif dapat digunakan dalam semua tahap keperawatan maternitas, mulai dari tahap kehamilan, melahirkan, dan nifas. Paa tahap kehamilan komunikasi efektif  dilakukukan pada saat kunjungan kehamilan (trimester I,II, dan III, dimana perawat ataupun dokter memberikan penjelasan mengenai perkembangan kehamilan ibu dan pendidikan kesehatan mengenai perawatannya kehamilannya.
Sebelum memasuki masa intranatal, rumah sakit maupun petugas kesehatan melakukan komunikasi efektif baik pada pasien maupun keluarga mengenai bagaimana proses persalinan yang akan dilakukan,apakah pasien bisa melahirkan secara normal ataupun secara secsio ceasaria, itu semua beradasarkan hasil dari identifikasi perawat ataupun dokter selama proses kehamilan klien.
Pada masa intranatal perawat melakukan komunikasi kepada ibu hamil untuk melakukan instruksi cara mengedan dengan benar apabila si ibu melahirkan normal. Pada postnatal komunikasi efektif dilakukan ketika masa perawatan setelah melahirkan, perawat dapat mengkomunikasikan kepada ibu hamil tentang bagaimana car teknik menyusui an perawatan terhadap alat reproduksi ibu pasca melahirkan.
SKP3. Peningkatan keamanan obat
Peningkatan keamanan obat diperlukan pada selama masa konsepsi hingga nifas, saat masa prenatal apabila seorang ibu terindikasi mengalami suatu penyakit misalnya demam tifus, yang memerlukan obat – obatan tertentu seperti antibiotik maka pihak petugas kesehatan harus melakukan identifikasi seksama terhadap obat – obatan yang di berikan, dengan memahami prinsip 6 benar khususnya pada obat – obatan LASA (Look Alike Sound Alike), karena pada ibu hamil sensitiv terhadap obat – obatan karena dapat mengganggu janinnya. Misalkan saja penggunaan obat – obatan yang diberikan kepada ibu hamil dengan demam tifus contohnya Ampisilin dan Amoxcisilin. Kedua obat ini memliki nama yang terdengar sama dan digunakan untuk kasus yang sama tetapi memiliki perbedaan pada penggunaan dosis dan efeknya. Pada Ampicilin digunakan 1gr/oral untuk 4xsehari. Dan Amoxicilin 1gr/oral untuk 3x sehari selama 14 hari. Dimana apabila terjadi kesalahan pemberian dosis atau tertukarnya dosis kedua obat ini dapat memberika efek negativ pada janin dan ibunya.
Pada proses kelahiran memerlukan pemberian injeksi (untuk meningkatkan konstraksi uterus), disini perawat juag harus meningkatkan kewaspadaan 6 benar. Pada masa postnatal diberikan obat – obatan pengontrol nyeri pasca bedah contohnya Paracetamol 500mg/oral sesuai yang dibutuhkan.
SKP4. Tepat – lokasi, Tepat Prosedur, Tepat pasien operasi
Penerapan SKP 4 lebih ditekankan pada masa intranatal khususnya pada prosedur sectio ceasaria. Pada prosedur ini perawat dan tim kesehatan yang bertuagas harus memastikan pasien yang akan di operasi dan tindakan apa yang akan dilakukan. Hal – hal yang perlu dilakukan sebelum operasi sectio ceasaria :
      Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;
      Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil pemeriksaan sepert USG yang relevan tersedia, diberi label dengan baik, dan dipampang;
      Lakukan verifikasi ketersediaan setiap peralatan khusus dan/atau implant-implant yang dibutuhkan.
*   Penilaian SKP 4. Pada keperawatan Maternitas
      Rumah sakit menggunakan suatu tanda yang jelas dan dapat dimengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan.
      Rumah sakit menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi saat preoperasi tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia, tepat, dan fungsional.
      Tim operasi yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur “sebelum insisi / time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur / tindakan pembedahan. 
      Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung keseragaman proses untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien, termasuk prosedur medis.
*   Langkah dan Prosedur SKP.4 dalam Penerapannya Pada Keperawatan Maternitas Khususnya Pada Sectio Ceasaria
Sesuai dengan sepuluh sasaran dalam safety surgery (WHO 2008). Yaitu:
1).Tim bedah akan melakukan operasi pada pasien dan posisi janin di dalam perut ibu.
2).Tim bedah akan menggunakan metode yang sudah di kenal untuk mencegah bahaya dari pengaruh anastesi, pada saat melindungi pasien dari rasa nyeri.
3).Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan bantuan hidup dari adanya bahaya kehilangan atau gangguan pernafasan pada saat proses kelahiran maupun sesudah proses kelahiran.
4).Tim bedah mengetahui dan secara efektif mempersiapkan adanya resiko kehilangan darah.
5).Tim bedah menghindari adanya reaksi alergi obat dan mengetahui adanya resiko alergi obat pada pasien.
6).Tim bedah secara konsisten menggunakan metode yang sudah dikenal untuk meminimalkan adanya resiko infeksi pada lokasi operasi.
7).Tim bedah mencegah terjadinya tertinggalnya sisa kasa dan instrument pada luka pembedahan.
8).Tim bedah akan mengidentifikasi secara aman dan akurat, specimen (contoh bahan) pembedahan.
9).Tim bedah akan berkomunikasi secara efektif dan bertukar informasi tentang hal-hal penting mengenai pasien untuk melaksanakan pembedahan yang aman.
10).Rumah sakit dan system kesehatan masyarakat akan menetapkan pengawasan yang rutin dari kapasitas , jumlah dan hasil pembedahan.


SKP 5. Pengurangan resiko infeksi
Pada masa pranatal, perawat memberikan pendidikan kesehatan untuk menjaga kesehatan selama hamil, dengan mengonsumsi makanan yang bersih dan memenuhi pola diet sehat berimbang, serta minum air dalam jumlah yang cukup.
Pada masa intranatal, petugas kesehatan harus memperhatikan universal precaution dan alat-alat persalinan dan ruang bersalin terjaga kesterilannya
Pada masa postnatal, dengan menjaga kebersihan daerah sekitar vagina dan luka bekas episiotomi (prosedur bedah untuk melebarkan jalan lahir ) karena dapat menjadi pintu masuk kuman dan menimbulkan infeksi, terutama setelah buang air kecil dan buang air besar. Cuci tangan dengan bersih sebelum menyentuh area genital dan anus, basuhlah dengan gerakan dari arah depan ke belakang.
SKP 6. Pengurangan resiko pasien jatuh
Pada masa prenatal, perawat memberikan pendidikan kesehatan kepada klien untuk menggunakan alas kaki yang nyaman dan tidak berhak tinggi, hindari menggunakan tangga, jaga kebersihan lantai, berikan penerangan yang memadai, serta hubungi keluarga jika perlu bantuan.
Pada masa intranatal, perlu ditingkatkan keamanan tempat tidur serta posisi ibu saat melahirkan dengan tujuan supaya menurunkan resiko jatuh, dan perlu diperhatikan posisi ibu dan bayi setelah proses melahirkan agar bayi tidak jatuh. Pada bayi yang lahir prematur perlu diperhatikan pemakaian tabung inkubator, petugas kesehatan perlu meningkatkan keamanan seperti memperhatikan jarak antara bayi dan lampu serta berapa lama anak berada dalam inkubator. Pada masa postnatal, ajarkan keluarga untuk membantu klien dalam melakukan aktivitas karena klien dalam keadaan lemah serta istirahat yang cukup.
Contoh Kebijakan tentang Standar Pelayanan Maternitas-Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Sarasota New Zealand:
  1. Identifikasi Pasien yang jelas dan Selalu dipastikan identitasnya sebelum mendapatkan tindakan
  2. Pasien maupun staff berhak untuk dilindungi dari infeksi dan kontaminasi yang diatur oleh Kebijakan Kontrol Infeksi
  3. Selama Pasien dikondisikan atau tidak ada  intervensi keperawatan, bed selalu dijaga dengan posisi rendah dan terkunci, hanya dinaikkan bila akan melakukan intervensi, tujuannya adalah untuk :
·         Pencegahan jatuh intrapartum, misalnya pada pasien dengan Epidural Infussion yang butuh bed-rest
·         untuk mencegah jatuh setelah mobilisasi dari tempat operasi
  1. Staf Perawat harus menjaga keselamatan pasien pada saat menggunakan peralatan elektrik
  2. Perhatikan label atau daftar alergi pasien
  3. Perawat wajib ikut serta memperhatikan, merawat dan memelihara Peralatan Medis Ruangan baik emergency maupun tidak yang dievaluasi setiap hari
  4. Penilaian keselamatan pasien dapat dilakukan oleh setiap personil/praktisi kesehatan
  5. Medikasi terhadap pasien diikuti oleh intervensi keperawatan dan Standar Operasionel Prosedur yang ada
  6. Kapabilitas untuk memulai operasi Caesar adalah selama 30 menit setelah pengambilan keputusan dan Inform Consent



0 komentar:

Posting Komentar