About

Senin, 03 November 2014

Meningitis pada Anak


1 Definisi Meningitis
Meningitis adalah radang pada meningen ( membrane yang mengelilingi otak dan medula spinalis ) dan disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur (Brunner dan Suddarth, 2002).
Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piameter, arakhnoid dan dalam derajat lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang supervisial. (Harsono, 1996)
Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. (Suriadi & Rita, 2001).
Meningitis adalah radang pada meningen (membran yang mengelilingi otak dan medula spinalis) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur. (Smeltzer, 2001).
            Meningitis adalah inflamasi yang terjadi pada selaput meningen yang mengelilingi sumsum tulang belakang dan otak.
            Klasifikasi meningitis adalah sebagai berikut :
1.      Meningitis asepsis
Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, emsefalitis, limfoma, leukimia, atau darah di ruang subarakhnoid.
2.      Meningitis sepsis
Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus, atau basilus influenza.
3.      Meningitis tuberkulose : disebabkan basilus tuberkel.
1. berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu :
a. Meningitis serosa       
Adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lainnya lues, Virus, Toxoplasma gondhii dan Ricketsia.
b. Meningitis purulenta
Adalah radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebabnya antara lain : Diplococcus pneumoniae (pneumokok), Neisseria meningitis (meningokok), Streptococus haemolyticuss, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Peudomonas aeruginosa.

2. Dan berdasarkan penyebabnya meningitis dibagi menjadi: (Harsono, 1996 )
a.      Meningitis karena bakteri
Meningitis bakterial adalah suatu keadaan ketika meninges atau selaput dari otak mengalami peradangan akibat bakteri. Sampai saat ini, bentuk paling signifikan dari meningitis adalah tipe bakterial. Bakteri paling sering dijumpai pada meningitis bakteri akut, yaitu Neiserria meningitidis (meningitis Menigokokus), Streptococcus pneumoniae (pada dewasa, dan Heamopbilus influebzae (pada anak-anak dan dewasa), ketiga organisme ini menyebabkan sekitar 75% kasus meningitis bakteri. Bentuk penularannya melalui kontak langsung , yang mencakup droplet dan sakret dari hidung dan tenggorak yang membawa kuman (paling sering) atau infeksi dari orang lain. Akibatnya, banyak yang tidak berkembang menjadi infeksi tetapi menjadi pembawa (carrier). Insiden tertinggi pada meningitis disebabkankan oleh bakteri gram negative yang terjadi pada lansia sama seperti pada seorang yang menjalani bedah sarap atau seseorang yang mengalami gangguan respons imun.
b.      Meningitis karena virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut meningitis asepsis. Tipe ini biasanya disebabkan oleh beberapa jenis penyakit yang disebabkan virus seperti gondok, herpes simpleks, dan herpes zooster, eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur jaringan otak.
Peradangan terjadi pada seluruh korteks serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respons dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.

c.       Meningitis karena jamur
Cryptococcus neoformans meningitis adalah infeksi jamur yang paling umum yang mempengaruhi SSP dari penderita dengan acquired immune deficiency syndrome ( AIDS ). Fulminan sinusitis jamur invasif juga diakui sebagai penyebab meningitis jamur .Manifestasi klinis bervariasi karena sistem kekebalan tubuh mempengaruhi respon inflamasi .Sebagai contoh, beberapa pasien mengalami demam dan lainnya tidak. Hampir semua dari mereka memiliki sakit kepala, mual dan muntah dan menunjukkan penurunan status mental . Pengobatan simtomatik dan termasuk zat antijamur IV .

2 Etiologi
Meningitis disebabkan oleh patogen berikut dalam setiap kelompok umur:
1.      Neonatus – Streptococcus grup B, Listeria monocytogenes (monocytogenes L), Escherichia coli.
2.      Bayi dan anak-anakinfluenzae H (Haemophilus influenza) (48%), S pneumoniae (13%), dan meningitidis N(Neisseria meningitidis)
3.      DewasaS pneumoniae, (30-50%), H influenzae (1-3%), N meningitidis(10-35%),-negatif bacilli gram (1-10%), staphylococci (5-15%), streptokokus (5%), dan spesies Listeria (5%)

Sedangkan kondisi dan karakteristik yang dapat meningkatkan risiko meningitis antara lain:
1.      Hidup dalam pengaturan ramai, seperti asrama atau fasilitas perawatan anak (untuk meningitis meningokokus)
2.      Usia - anak-anak, orang muda dan orang dewasa yang lebih tua lebih mungkin mengembangkan meningitis.
3.      Signifikan cedera kepala, trauma tengkorak, atau Rhinorrhea serebrospinal (aliran cairan serebrospinal dari hidung setelah cedera kepala)
4.      Sebuah sistem kekebalan ditekan (untuk meningitis pneumokokus)
5.      Tidak pernah menerima vaksin Hib
6.      Melakukan pekerjaan laboratorium yang memerlukan penanganan tikus, hamster, dan tikus, atau bekerja dengan binatang di pertanian atau peternakan (untuk listeria)

3 Manifestasi Klinis
Gejala mengaju pada reaksi infeksi dan peningkatan TIK, seperti berikut ini :
1.      Sakit kepala dan demam.
2.      Perubahan tingkat kesadaran, disorientasi, gangguan memory merupakan tanda awal.
3.      Pada keadaan berat letargi, tidak responsive, koma.
4.      Iritasi meningen : rigiditas nukal ( kaku leher ), tanda kernig positif, tanda brudzinski.
5.      Fotophobia atau sensitive berlebihan terhadap cahaya.
6.      Kejang
7.      Peningkatan TIK akibat eksudat purulen, edema serebral ditandai dengan :
a.       Bradikardi
b.      Pernafasan irregular
c.       Sakit kepala
d.      Muntah
e.       Penurunan kesadaran
8.      Ruam ( neisseria meningitis ) pada wajah dan ekstremitas.
Menyajikan tanda dan gejala meningitis hasil dari iritasi menigeal . Menilai untuk demam , sakit kepala, dan perubahan status mental . Pasien mungkin juga melaporkan photopobia dan memiliki tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial ( ICP ) , seperti penurunan tingkat kesadaran . Meskipun kaku kuduk klasik ( leher kaku ) , dan positif Kernig , dan gejala brudzinki ini telah digunakan secara tradisional untuk mendiagnosa meningitis , temuan ini hanya terjadi pada sebagian kecil pasien dengan diagnossis definitif . Kejang juga dapat terjadi , terutama pada meningitis bakterial. Orang dewasa yang lebih tua , pasien yang kebal , dan mereka yang telah tidak diobati dengan antibiotik mungkin tidak memiliki demam.
Aktivitas kejang dapat disebabkan oleh iritasi dari korteks serebral . Karena stimulasi abnormal daerah hipotalamus , jumlah berlebihan hormon antidiuretik ( ADH ) ( vasopressin ) yang dihasilkan. Hasil dalam retensi air dan cairan natrium serum yang disebabkan oleh peningkatan natrium kerugian oleh ginjal . Sindrom hormon antidiuretik ( SIADH ) produksi ini dapat menyebabkan kenaikan lebih lanjut dalam ICP .


4 Patofisiologi
Beberapa penyebab dari meningitis dapat dibedakan dari golongan umur antara lain pada neonatus penyebabnya seperti Grup B atau D Streptococcus, nongroup streptococci B, Escherichia coli, danmonocytogenes L, dan pada bayi dan anak-anak  seperti influenzae H(48%), S pneumoniae (13%), dan meningitidis N, sedangkan pada orang dewasa - S pneumoniae, (30-50%), H influenzae (1-3%), N meningitidis(10-35%),-negatif bacilli gram (1-10%), staphylococci (5-15%), streptokokus (5%), dan spesies Listeria (5%), dan ada sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan bakteri meningitis akut dan subakut, termasuk virulensi strain, pertahanan tuan rumah, dan interaksi bakteri-host.
Penyemaian bakteri biasanya terjadi oleh penyebaran hematogen. Dalam tanpa sumber infeksi yang dapat diidentifikasi, jaringan lokal dan invasi aliran darah oleh bakteri jajahan di nasofaring dapat menjadi sumber umum. Jarang, struktur menular terinfeksi menyerang melalui trombi septik atau erosi osteomyelitic; penyemaian meningeal juga dapat terjadi dengan menyuntik bakteri langsung selama trauma, bedah saraf, atau instrumentasi. Meningitis pada bayi baru lahir ditularkan secara vertikal dari patogen terjajah dalam saluran usus atau alat kelamin ibu atau horizontal dari personil pembibitan atau pengasuh di rumah.
Setelah di CSF, kurangnya antibodi, komplemen komponen, dan sel-sel darah putih (leukosit) memungkinkan infeksi bakteri untuk berkembang. komponen dinding sel bakteri memulai kaskade peristiwa melengkapi dan sitokin-dimediasi yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas penghalang darah-otak, edema otak, dan kehadiran mediator toksik dalam CSF.
Replikasi bakteri, meningkatkan jumlah sel-sel inflamasi, cytokine-induced gangguan dalam transportasi membran, dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan selaput mengabadikan proses menular dan account untuk perubahan karakteristik dalam jumlah sel CSF, pH, laktat, protein, dan glukosa. Eksudat memperpanjang seluruh CSF, khususnya ke waduk basal, merusak saraf kranial (misalnya, VIII saraf kranial, dengan gangguan pendengaran resultan), melenyapkan jalur CSF (menyebabkan hidrosefalus obstruktif), dan mendorong vaskulitis dan tromboflebitis (menyebabkan iskemia otak lokal).
Sebagai tekanan intrakranial (ICP) terus meningkat dan edema otak berkembang, SSP proses autoregulatory mulai gagal. Peristiwa penting dapat terjadi ketika kenaikan transien aliran darah serebral (CBF), membalikkan dan mulai menurun. pengurangan CBF berkorelasi dengan kewaspadaan pasien penurunan dan perubahan status mental.

 5 Pemeriksaan Rangsangan Meningeal
1. Pemeriksaan Kaku Kuduk
Pemeriksaan kaku kuduk dilakukan dengan mengatur pasien agar berada dalam posisi telentang, kemudian leher di tekuk. Apabila dagu tertahan dan tidak menempel atau mengenai bagian dada, maka terjadi kaku kuduk (positif).
2. Pemeriksaan Tanda Kernig
Pasien berbaring terlentang, tangan diangkat dan dilakukan fleksi pada sendipanggul kemudian ekstensi tungkai bawah pada sendi lutut sejauh mengkin tanpa rasa nyeri. Tanda Kernig positif (+) bila ekstensi sendi lutut tidak mencapai sudut 135° (kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna) disertai spasme otot paha biasanya diikuti rasa nyeri. Tanda kernig dilakukan dengan mengatur pasien agar ada dalam posisi terlentang, fleksikan tungkai atas tegak lurus, kemudian luruskan tungkai bawah pada sendi lutut. Penilaian dalam keadaan normalnya, tungkai bawah dapat membentuk sudut 135o terhadap tungkai atas.
3. Pemeriksaan Tanda Brudzinski I ( Brudzinski Leher)
Pasien berbaring terlentang dan pemeriksa meletakkan tangan kirinya dibawah kepala dan tangan kanan diatas dada pasien kemudian dilakukan fleksi kepala dengan cepat kearah dada sejauh mungkin. Tanda Brudzinski I positif (+) bila pada pemeriksaan terjadi fleksi involunter pada leher.
4. Pemeriksaan Tanda Brudzinski II ( Brudzinski Kontra Lateral Tungkai)
Pemeriksaan brudzinski II dilakukan dengan mengatur pasien agar berada dalam keadaan telentang, kemudian tungkai atas difleksikan secara pasif pada sendi panggul, dan diikuti dengan fleksi tungkai lainnya. Apabila sendi lutut lainnya dalam keadaan ekstensi, maka terdapat tanda meningeal. 

6 Pemeriksaan Penunjang Meningitis
1. Pemeriksaan Pungsi Lumbal
Pungsi lumbal pada meningitis bakterial akut yang tidak diterapi akan menunjukkan :
·         Cairan serebrospinal keruh,
·         Peningkatan tekanan cairan serebrospinal,
·         Leukositosis polimorfik (ratusan atau ribuan sel per µL )
·         Peningkatan konsentrasi protein ( lebih dari 1 g/ L)
·         Konsentrasi glukosa rendah ( kurang dari setengah konsentrasi glukosa dalam darah, tetapi seringkali tidak terdeteksi).
Organisme kausatif dapat diidentifikasi dengan pewarnaan Gram atau dengan kultur atau teknik molekuler tertentu.
·         Kontraindikasi fungsi lumbal pada pasien dengan kecurigaan meningitis adalah edema papil, penurunan tingkat kesadaran, dan tanda neurologis fokal. Pada pasien dengan gejala tersebut, diperlukan CT scan kranial sebelum fungsi untuk mnyingkirkan adanya lesi massa, misalnya massa pada fosa posterior, yang dapat menyerupai meningitis.
·         Pemeriksaan penunjang lainnya meliputi :
o   Hitung darah lengkap (neutrofilia)
o   Pemeriksaan koagulasi (koagulasi intravaskular disminata)
o   Elektrolit (hiponatremia)
o   Kultur darah (dapat positif walaupun cairan serebrospinal steril)
o   Radiografi dada dan kranium (sinus) untuk mengidentifikasi sumber infeksi primer.

7 Epidemilogi Meningitis
1. Distribusi Frekuensi Meningitis
a. Orang/ Manusia
Umur dan daya tahan tubuh sangat mempengaruhi terjadinya meningitis. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan distribusi terlihat lebih nyata pada bayi. Meningitis purulenta lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh belum terbentuk sempurna.
Puncak insidensi kasus meningitis karena Haemophilus influenzae di negara berkembang adalah pada anak usia kurang dari 6 bulan, sedangkan di Amerika Serikat terjadi pada anak usia 6-12 bulan. Sebelum tahun 1990 atau sebelum adanya vaksin untuk Haemophilus influenzae tipe b di Amerika Serikat, kira-kira 12.000 kasus meningitis Hib dilaporkan terjadi pada umur < 5 tahun.Insidens Rate pada usia < 5 tahun sebesar 40-100 per 100.000.7 Setelah 10 tahun penggunaan vaksin, Insidens Rate menjadi 2,2 per 100.000.9 Di Uganda (2001-2002) Insidens Rate meningitis Hib pada usia < 5 tahun sebesar 88 per 100.000.28
b. Tempat
Risiko penularan meningitis umumnya terjadi pada keadaan sosio-ekonomi rendah, lingkungan yang padat (seperti asrama, kamp-kamp tentara dan jemaah haji), dan penyakit ISPA.16 Penyakit meningitis banyak terjadi pada negara yang sedang berkembang dibandingkan pada negara maju. Insidensi tertinggi terjadi di daerah yang disebut dengan the African Meningitis belt, yang luas wilayahnya membentang dari Senegal sampai ke Ethiopia meliputi 21 negara. Kejadian penyakit ini terjadi secara sporadis dengan Insidens Rate 1-20 per 100.000 penduduk dan diselingi dengan KLB besar secara periodik.Di daerah Malawi, Afrika pada tahun 2002 Insidens Rate meningitis yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae 20-40 per 100.000 penduduk.
c. Waktu
Kejadian meningitis lebih sering terjadi pada musim panas dimana kasus-kasus infeksi saluran pernafasan juga meningkat. Di Eropa dan Amerika utara insidensi infeksi Meningococcus lebih tinggi pada musim dingin dan musim semi sedangkan di daerah Sub-Sahara puncaknya terjadi pada musim kering. Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Sebagian besar kasus terjadi pada musim panas.

2. Determinan Meningitis
a. Host/ Pejamu
Meningitis yang disebabkan oleh Pneumococcus paling sering menyerang bayi di bawah usia dua tahun.7 Meningitis yang disebabkan oleh bakteri Pneumokokus 3,4 kali lebih besar pada anak kulit hitam dibandingkan yang berkulit putih. Meningitis Tuberkulosa dapat terjadi pada setiap kelompok umur tetapi lebih sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan sampai 5 tahun dan jarang pada usia di bawah 6 bulan kecuali bila angka kejadian Tuberkulosa paru sangat tinggi. Diagnosa pada anak-anak ditandai dengan test Mantoux positif dan terjadinya gejala meningitis setelah beberapa hari mendapat suntikan BCG.
Penelitian yang dilakukan oleh Nofareni(1997-2000) di RSUP H.Adam Malik menemukan odds ratio anak yang sudah mendapat imunisasi BCG untuk menderita meningitis Tuberculosis sebesar 0,2. Penelitian yang dilakukan oleh Ainur Rofiq (2000) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) mengenai daya lindung vaksin TBC terhadap meningitis Tuberculosis pada anak menunjukkan penurunan resiko terjadinya meningitis Tb pada anak sebanyak 0,72 kali bila penderita diberi BCG dibanding dengan penderita yang tidak pernah diberikan BCG.
Meningitis serosa dengan penyebab virus terutama menyerang anak-anak dan dewasa muda (12-18 tahun). Meningitis virus dapat terjadi waktu orang menderita campak, Gondongan (Mumps) atau penyakit infeksi virus lainnya. Meningitis Mumpsvirus sering terjadi pada kelompok umur 5-15 tahun dan lebih banyak menyerang laki-laki daripada perempuan.Penelitian yang dilakukan di Korea (Lee,2005) , menunjukkan resiko laki-laki untuk menderita meningitis dua kali lebih besar dibanding perempuan.
b. Agent
Penyebab meningitis secara umum adalah bakteri dan virus. Meningitis purulenta paling sering disebabkan oleh Meningococcus, Pneumococcus dan Haemophilus influenzae sedangkan meningitis serosa disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosa dan virus. 3 Bakteri Pneumococcus adalah salah satu penyebab meningitis terparah. Sebanyak 20-30 % pasien meninggal akibat meningitis hanya dalam waktu 24 jam. Angka kematian terbanyak pada bayi dan orang lanjut usia.
Meningitis Meningococcus yang sering mewabah di kalangan jemaah haji dan dapat menyebabkan karier disebabkan oleh Neisseria meningitidis serogrup A,B,C,X,Y,Z dan W 135. Grup A,B dan C sebagai penyebab 90% dari penderita. Di Eropa dan Amerika Latin, grup B dan C sebagai penyebab utama sedangkan di Afrika dan Asia penyebabnya adalah grup A.Wabah meningitis Meningococcu syang terjadi di Arab Saudi selama ibadah haji tahun 2000 menunjukkan bahwa 64% merupakan serogroup W135 dan 36% serogroup A. Hal ini merupakan wabah meningitis Meningococcus terbesar pertama di dunia yang disebabkan oleh serogroup W135. Secara epidemiologi serogrup A,B,dan C paling banyak menimbulkanpenyakit.
Meningitis karena virus termasuk penyakit yang ringan. Gejalanya mirip sakit flu biasa dan umumnya penderita dapat sembuh sendiri. Pada waktu terjadi KLB Mumps, virus ini diketahui sebagai penyebab dari 25 % kasus meningitis aseptik pada orang yang tidak diimunisasi. Virus Coxsackie grup B merupakan penyebab dari 33 % kasus meningitis aseptik, Echovirus danEnterovirus merupakan penyebab dari 50 % kasus. Resiko untuk terkena aseptik meningitis pada laki-laki 2 kali lebih sering dibanding perempuan.
c. Lingkungan
Faktor Lingkungan (Environment) yang mempengaruhi terjadinya meningitis bakteri yang disebabkan oleh Haemophilus influenzae tipe b adalah lingkungan dengan kebersihan yang buruk dan padat dimana terjadi kontak atau hidup serumah dengan penderita infeksi saluran pernafasan. Risiko penularan meningitis Meningococcus juga meningkat pada lingkungan yang padat seperti asrama, kamp kamp tentara dan jemaah haji.
Pada umumnya frekuensi Mycobacterium tuberculosa selalu sebanding dengan frekuensi infeksi Tuberculosa paru. Jadi dipengaruhi keadaan sosial ekonomi dan kesehatan masyarakat. Penyakit ini kebanyakan terdapat pada penduduk dengan keadaan sosial ekonomi rendah, lingkungan kumuh dan padat, serta tidak mendapat imunisasi.
Meningitis karena virus berhubungan dengan musim, di Amerika sering terjadi selama musim panas karena pada saat itu orang lebih sering terpapar agen pengantar virus. Lebih sering dijumpai pada anak-anak daripada orang dewasa. Kebanyakan kasus dijumpai setelah infeksi saluran pernafasan bagian atas.

2.10 Pengobatan Meningitis
            Untuk menghindari komplikasi yang mengancam kehidupan, penyedia layanan kesehatan menyediakan antibiotik spektrum luas. Setelah informasi ini tersedia, obat anti infeksi yang tepat untuk treathment jenis tertentu meningitis dapat diberikan. Pengobatan meningitis bakteri umumnya membutuhkan 2 minggu antibiotik IV. Therapy obat harus dimulai dalam waktu 1 sampai 2 jam setelah ditentukan.
Memantau dan mendokumentasikan respon pasien. Pasien dengan meningitis bakteri mungkin mengalami kerut ICP, dan aktivitas kejang yang dapat terjadi. Obat yang digunakan oleh dokter untuk mengobati komplikasi ini termasuk agen hiperosmolar dan drugs. Kontroversy antiepilepsi eksis sebagai steroid cuaca sangat membantu dalam treathment dari semua orang dewasa dengan meningitis. Namun pasien dengan meningitis streptokokus pneumoniae juga dianjurkan meminum obat tersebut.
Orang-orang yang telah melakukan kontak dekat dengan pasien dengan Neisseria meningitis harus memiliki profilaksis treathment dengan rifampisin, siprofloksasin, atau ceftri axone. Pencegahan treathment dengan fampin dapat dengan menggunakan resep obat bagi mereka yang kontak dekat dengan pasien dengan meningitis influenza Haemophilus.

8 Pencegahan Meningitis
a. Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor resikomeningitis bagi individu yang belum mempunyai faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat. Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi meningitis pada bayi agar dapat membentuk kekebalan tubuh. Vaksin yang dapat diberikan seperti Haemophilus influenzae type b (Hib),Pneumococcal conjugate vaccine (PCV7), Pneumococcal polysaccaharide vaccine (PPV),Meningococcal conjugate vaccine(MCV4), dan MMR (Measles dan Rubella). Imunisasi HibConjugate vaccine (Hb- OC atau PRP-OMP) dimulai sejak usia 2 bulan dan dapat digunakan bersamaan dengan jadwal imunisasi lain seperti DPT, Polio dan MMR.Vaksinasi Hib dapat melindungi bayi dari kemungkinan terkena meningitis Hib hingga 97%. Pemberian imunisasi vaksin Hib yang telah direkomendasikan oleh WHO, pada bayi 2-6 bulanm sebanyak 3 dosis dengan interval satu bulan, bayi 7-12 bulan di berikan 2 dosis dengan interval waktu satu bulan, anak 1-5 tahun cukup diberikan satu dosis. Jenis imunisasi ini tidak dianjurkan diberikan pada bayi di bawah 2 bulan karena dinilai belum dapat membentuk antibodi.
Meningitis Meningococcus dapat dicegah dengan pemberian kemoprofilaksis (antibiotik) kepada orang yang kontak dekat atau hidup serumah dengan penderita.Vaksin yang dianjurkan adalah jenis vaksin tetravalen A, C, W135 dan Y.meningitis TBC dapat dicegah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan pemberian imunisasi BCG. Hunian sebaiknya memenuhi syarat kesehatan, seperti tidak over crowded (luas lantai > 4,5 m2 /orang), ventilasi 10 – 20% dari luas lantai dan pencahayaan yang cukup.Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara mengurangi kontak langsung dengan penderita dan mengurangi tingkat kepadatan di lingkungan perumahan dan di lingkungan seperti barak, sekolah, tenda dan kapal. Meningitis juga dapat dicegah dengan cara meningkatkan personal hygiene seperti mencuci tangan yang bersih sebelum makan dan setelah dari toilet.5
b. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menemukan penyakit sejak awal, saat masih tanpa gejala (asimptomatik) dan saat pengobatan awal dapat menghentikan perjalanan penyakit. Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan pengobatan segera. Deteksi dini juga dapat ditingkatan dengan mendidik petugas kesehatan serta keluarga untuk mengenali gejala awal meningitis. Dalam mendiagnosa penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan cairan otak, pemeriksaan laboratorium yang meliputi test darah dan pemeriksaan X-ray (rontgen) paru .Selain itu juga dapat dilakukan surveilans ketat terhadap anggota keluarga penderita, rumah penitipan anak dan kontak dekat lainnya untuk menemukan penderita secara dini.
Penderita juga diberikan pengobatan dengan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis penyebab meningitis yaitu :
1) Meningitis Purulenta
1.      Haemophilus influenzae b : ampisilin, kloramfenikol, setofaksim, seftriakson.
2.      Streptococcus pneumonia : kloramfenikol , sefuroksim, penisilin, seftriakson.
3.      Neisseria meningitidies : penisilin, kloramfenikol, serufoksim dan seftriakson.
2) Meningitis Tuberkulosa (Meningitis Serosa)
Kombinasi INH, rifampisin, dan pyrazinamide dan pada kasus yang berat dapat ditambahkan etambutol atau streptomisin. Kortikosteroid berupa prednison digunakan sebagai anti inflamasi yang dapat menurunkan tekanan intrakranial dan mengobati edema otak.


c. Pencegahan Tertier
Pencegahan tertier merupakan aktifitas klinik yang mencegah kerusakan lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit berhenti. Pada tingkat  pencegahan ini bertujuan untuk menurunkan kelemahan dan kecacatan akibat meningitis, dan membantu penderita untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisikondisi yang tidak diobati lagi, dan mengurangi kemungkinan untuk mengalami dampak neurologis jangka panjang misalnya tuli atau ketidakmampuan untuk belajar.38 Fisioterapi dan rehabilitasi juga diberikan untuk mencegah dan mengurangi cacat.

0 komentar:

Posting Komentar