About

Senin, 03 November 2014

Ketidakberdayaan

1 Pengertian
Menurut Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa Syarif, 2008. Ketidakberdayaan atau disfungsionalitas adalah ketidakmampuan melakukan suatu tindakan, dan keberadaan orang tsb akhirnya  menjadi beban bagi orang lain.
Ketidakberdayaan merupakan kondisi ketika individu atau kelompok merasakan kurangnya control personal terhadap sejumlah kejadian atau situasi tertentu yang memengaruhi pandangan, tujuan, dan gaya hidup.
Ketidakberdayaan adalah perasaan yang dialami semua orang dalam derajat yang berbeda pada situasi yang berlainan. Stephenson (1979) menggambarkan dua jenis ketidakberdayaan. Ketidakberdayaan situasional muncul pada sebuah peristiwa spesifik dan mungkin berlangsung singkat. Ketidakberayaan dasar (trait powerlessness)bersifat lebih menyebar, memengaruhi pandangan, tujuan, gaya hidup, dan hubungan. Secara klinis, diagnosis keperawatan ketidakberdayaan mungkin lebih bermanfaat jika digunakan untuk menggambarkan individu yang mengalami ketidakberdayaan dasar dibandingkan ketidakberdayaan situasional.
Keputusasaan berbeda dengan ketidakberdayaan. Dalam hal ini, individu yang putus asa tidak melihat adanya solusi untuk mengatasi masalahnya atau jalan untuk mencapai keinginannnya, bahkan ia sangat merasa ingin memegang kendali atas hidupnnya. Individu yang tidak berdaya mungkin melihat alternative atau jawaban untuk masalahnya, tetapi tidak mampu berbuat apa pun karena persepsi tentang control dan sumber yang ada. Ketidakberdayaan yang berkepanjangan bisa menyebabkan keputusasaan.

2 Etiologi
Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan hospitalisasi
            Hospitalisasi menimbulkan berbagai respons pada masyarakat dan keluarga, termasuk kecemasan, ketakutan, dan ketidakberdayaan. Jika hospitalisasi diduga berlangsung singkat, diagnosis kecemasan yang berhubungan dengan lingkungan yang asing, kehilangan rutinitas yang biasa, dan gangguan privasi mungkin beguna untuk menggambarkan ketidakberdayann situasional. Jika hospitalisasi merupakan upaya perawatan ulang untuk masalah yang berkelanjutan, penggunaan diagnosis ketidakberdayaan mungkin lebih sesuai untuk menggambarkan ketidakberdayaan dasar. Diagnosis tersebut sebaiknya dinyatakan kembali sebagai ketidakberdayaan yang berhubungan dengan perawatan ulang untuk infeksi paru dan pengaruh pada karier dan perkawinan.

3 Jenis-jenis ketidakberdayaan
2.3.1 Mayor
Memperlihatkan atau menutupi (marah, apatis) ekspresi ketidakpuasan atau ketidakmampuan mengontrol situasi (misalnya ; pekerjaan, penyakit, prognosis, perawatan, tingkat penyembuhan) yang mengganggu pandangan, tujuan, dan gaya hidup.
2.3.2 Minor
Kurangnya prilaku mencari informasi
Apatis                          kebergantungan yg tidak memuaskan pada orang lain
Ansietas                      perilaku buruk
Marah                          kegelisahan
Perilaku kekerasan      perilaku menarik diri
Depresi                        pasif

4 Patofisiologis
Setiap proses penyakit, baik akut maupun kronis, dapat menyebabkan ketidakberdayaan atau berperan menyebabkan ketidakberdayaan. Beberapa sumber umum antara lain
1)      Berhubungan dengan ketidakmampuan berkomunikasi, sekunder akibat cedera serebrovaskular (CVA), sindrom Guilain-Barre, intubasi
2)      Berhubungan dengan ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari, sekunder akibta CVA, trauma servikal, infark miokard, nyeri
3)      Berhubungan dengan ketidakmampuan menjalani tanggung jawab peran, sekunder akibat pembedahan, trauma, arthritis
4)      Berhubungan dengan proses penyakit yang melemahkan, sekunder akibat sklerosis multiple, kanker terminal
5)      Berhubungan dengan penyalahgunaan zat
6)      Berhubungan dengan distorsi kognitif, sekunder akibat depresi
Situasional (Personal, Lingkungan)
a)      Berhubungan dengan perubahan status dari kuratif menjadi paliatif
b)      Berhubungan dengan perasaan kehilangan control dan pembatasan gaya hidup, sekunder akibat (sebutkan)
c)      Berhubungan dengan pola makan yang berlebihan
d)     Berhubungan dengan karakteristik personal yang sangat mengontrol nilai (mis,. Lokus control internal).
e)      Berhubunngan dengan pengaruh pembatasan rumah sakit atau lembaga
f)       Berhubungan dengan gaya hidup berupa ketidakmampuan (helplessness)
g)      Berhubungan dengan rasa takut terhadap penolakan (ketidaksetujuan)
h)      Berhubungan dengan kebutuhan dependen yang tidak terpenuhi
i)        Berhubungan dengan umpan balik negative yang terus-menerus
j)        Berhubungan dengan abusive jangka panjang
k)      Berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
l)        Berhubungan dengan mekanisme koping yang tidak adekuat
Maturasional
a)      Anak remaja b.d masalah pengasuhan anak
b)      Dewasa b.d peristiwa kehilangan lebih dari satu kali, sekunder akibat penuan (mis,. Pensiun, deficit sensori, deficit motorik, uang, orang terdekat

5 Intervensi Umum
1. Kaji factor penyebab dan factor penunjang
a)      Kurang pengetahuan
b)      Ketidakadekuatan pola koping sebelumnya (mis,. Depresi; untuk pembahasan, lihat ketidakefektifan koping individu yang berhubungan dengan depresi)
c)      Kurangnya kesempatan untuk membuat keputusan
2. Hilangkan atau kurangi factor penunjang jika memungkinkan
Kurang pengetahuan
a)      Tingkatkan komunikasi yang efektif antara individu dan tenaga kesehatan
b)      Jelaskan seluruh prosedur, peraturan, dan pilihan yang ada pada individu; hindari istilah medis. Bantu individu untuk mengantisipasi sensasi yang akan muncul selama pengobatan (langkah ini meemberikan gambaran kognitif berorientasi-realitas yang memperkuat perasaan control dan strategi koping)
c)      Sediakan waktu untuk menjawab berbagai pertanyaan; minta individu untuk menuliskan pertanyaan tersebut agar tidak lupa.
d)     Sediakan waktu khusus (10-15 menit) setiap sif yang dapat individu gunakan untuk mengajukan pertanyaan atau membahas berbagai topic sesuai keinginan
e)      Antisipasi berbagai pertanyaan/ minat dan berikan informasi. Bantu individu untuk mengantisipasi kejadian atau hasil akhir
f)       Dengan  tetap bersikap realistis, tunjukkan berbagai perubahan positif pada kondisi individu, seperti menurunnya kadar enzim serum setelah peristiwa infark miokard atau membaiknya luka insisi
g)      Jadilah pendengar yang aktif dengan member kesempatan pada individu untuk mengutarakan kekhawatiran dan perasaannya; kaji adanya area kekhawatiran
h)      Buat pengaturan staf yang konsisten
i)        Tetapkan satu orang perawat untuk bertanggungjawab terhadap rencana perawatan selama 24 jam, dan beri kesempatan pada individu dan keluarga untuk melakukan identifikasi bersama perawat teersebut
j)        Hubungi kelompok pendukung swabantu jik ada (mis; mastektomi, klub ostomi, penderita paraplegia)
k)      Jika factor penunjang berupa nyeri atau cemas, berikan informasi tentang cara menggunakan tekhnik control perilaku (mis; relaksasi, imajinasi, nafas dalam)
3.   Berikan kesempatan pada indiviidu untuk mengontrol keputusasaan dan mengidentifikasi tujuan personal perawatan
a)      Beri kesempatan pada individu untuk memanipulasi langkungan sekitar, seperti memutuskan tempat untuk meletakkan barang-barang (mis; sepatu dibawah tempat tidur, lukisan pada jendela).
b)      Jika individu mennginginkan, dan kebijakan rumah sakit mengizinkan, anjurkan individu untuk membawa barang-barang miliknya dari rumah (mis; bantal, foto).
c)      Letakkan barang-barang yang dibutuhkan dalam jangkauan individu (bel pemanggil, urinal, tisu).
d)     Jangan tawarkan pilihan jika memang tidak ada (mis; injeksi IM Z-track yang dalam harus dirotasi). Tawarkan pilihan yang relevan dengan individu.
e)      Diskusikan tentang rencana aktivitas harian dan beri kesempatan pada individu untuk membuat sebanyak mungkin keputusan terkait rencana tersebut.
f)       Tingkatkan peluang individu membuat keputusan setelah kondisinya membaik
g)      Hargai dan ikuti keputusan individu jika Anda telah memberinya pilihan.
h)      Catat pilihan khusus individu pada rencana perawatan untuk memastikan bahwa staf yang lain mengetahui pilhan tersebut (“tidak suka jus jeruk”, “mandi dengan pancuran”, “rencanakan ganti balutan/ pakaian pada pukul 7.30 sebelum mandi”).
i)        Tepat janji
j)        Beri kesempatan pada individu dan keluarga untuk menngutarakan perasaannya.
k)      Beri kesempatan pada individu dan keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan
l)        Waspadai adanya tanda-tanda pternalisme/ maternalisme pada tenaga kesehatan (mis; menetapkan keputusan untuk klien)
m)    Rencanakan suatu ppertemuan asuhan(care conference) guna member kesempatan pada staf untuk mendiskusikan metode individualisasi asuhan, anjurkan setiap perawat untuk menyampaikan setidaknya satu tindakan yang ia ketahui diinginkan oleh individu.
n)      Alihkan perhatian dari hal yang tidak dapat dilakukan individu ke hal yang dapat ia lakukan
o)      Buat tujuan yang bersifat jangka-pendek, teerkait-perilaku, praktis, dan realistis (berjalan lima langkah lagi setiap hari; kemudian dalam satu minggu, klien dapat berjalan keruang televise)
p)      Beri tahu kemajuan klien setiap hari
q)      Puji pencapaian/ prestasi individu
r)       Bantu individu untuk mengidentifikasi factor terkontrol dan factor tak terkontrol. Bantu individu unutk menerima hal yang tidak dapat diiubah dan mengubah hal yang dapat diubah.
s)       Tekankan aspek positif saat individu mulai terfokus pada rasa takut akan hal terburuk (kurangi ketakutan dengan mengganti pandangan dengan member kesempata individu memperoleh kembali kontrolnya).
t)       Beri kesempatan pada individu untuk merasakan hasil dari upayanya sendiri.
4.      Kaji resppon yang biasa individu gunakan dalam menghadapi masalah (lihat criteria pengkajian focus)
a)      Control internal (berupaya mengubah perilaku diri atau linngkungan untuk mengontrol masalah)
b)      Control eksternal (mengharapkan oranng lain atau factor lain-takdir, keberuntungan-untuk mengontrol masalah)
5.      Berikan informasi yang dibutuhkan kepada individu dengan lokus control internal untuk mengubah perilaku atau lingkungan
a)      Jelaskan tentang masalah sedetail yang diinginkan individu
b)      Jelaskan tentang hubungan antara perilaku yang dianjurkan dan hasilnya (mis; perlu pembatasan garam, pengaruh fisiologis dari latihan fisik, pengaruh tirah baring pada fungsi jantung yang terganggu)
6.      Pantau individu dengan lokus control eksternal untuk mendukung partisipasinya
a)      Minta individu untuk membuat catatan (mis,. Asupan makan untuk 1 minggu ; table penurunan berat badan; program latihan fisik-tipe dan frekuensi; obat yang diminum).
b)      Gunakan kontak telepon untuk memantau individu jika memungkinkan.
c)      Berikan petunjuk tertulis yang jelas (mis,. Perencanaan makan; program latihan fisik-jenis frekuensi, durasi; pelajaran latihan berbicara-untuk pasien afasia).
d)     Ajarkan orang terdekat klien tentang berbagai metode untuk memanipulasi perilaku jika dibutuhkan.
e)      Berikan penghargaan untuk setiap tujuan yang tercapai.

1 komentar:

  1. kak untuk dapus tidak disertakan ya? trs bagaimana kita tahu sumber aslinya :')

    BalasHapus