About

Senin, 03 November 2014

Osteoporosis


1 Definisi

Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal (Brunner&Suddarth, 2000).
Menurut WHO pada International Consensus Development Conference, di Roma, Itali, 1992 Osteoporosis adalah penyakit dengan sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai perubahan mikroarsitektur tulang, dan penurunan kualitas jaringan tulang, yang pada akhirnya menimbulkan akibat meningkatnya kerapuhan tulang dengan resiko terjadinya patah tulang (Suryati, 2006).
Osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang sehingga masa tulang berkurang. Resorpsi terjadi lebih cepat dari pada formasi tulang, sehingga tulang menjadi tipis (Pusdiknakes, 1995). Jadi osteoporosis adalah kelainan atau gangguan yang terjadi karena penurunan masa tulang total.

2 Jenis – Jenis Osteoporosis
1. Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan proses penuaan. Sampai saat ini osteoporosis primer masih menduduki tempat utama karena lebih banyak ditemukan dibanding dengan osteoporosis sekunder. Proses ketuaan pada wanita menopause dan usia lanjut merupakan contoh dari osteoporosis primer.
2. Osteoporisis sekunder didefinisikan sebagai kehilangan massa tulang akibat hal hal tertentu. mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu termasuk kelainan endokrin, epek samping obat obatan, immobilisasi, Pada osteoporosis sekunder, terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk menimbulkan fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid, artritis reumatoid, kelainan hati/ginjal kronis, sindrom malabsorbsi, mastositosis sistemik, hiperparatiroidisme, hipertiroidisme, varian status hipogonade, dan lain-lain.

3 Etiologi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usialanjut:
a.      Determinan Massa Tulang
Faktor genetik
Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajatkepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukupbesar dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam padaumumnya mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari paciabangsa Kaukasia. Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat(terutama kulit Hitam Amerika), relatif imun terhadap fraktur karenaosteoporosis.
Faktor mekanis
Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di sampingfaktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa tulangdan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya massatulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa adahubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang.Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanikBeban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besardan juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemaintenis atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baikpada otot maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya;sebaliknya atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpaipada pasien yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yanglama, poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupundemikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanisyang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulangdi sampihg faktor genetik.

Faktor makanan dan hormon
Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan nutrisi yangcukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang akan mencapaimaksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang bersangkutan.Pemberian makanan yang berlebih (misainya kalsium) di ataskebutuhan maksimal selama masa pertumbuhan, disangsikan dapatmenghasilkan massa tulang yang melebihi kemampuanpertumbuhan tulang yang bersangkutan sesuai dengan kemampuangenetiknya.
b.      Determinan penurunan Massa Tulang
Faktor genetik
Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur. Padaseseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapatrisiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampaisaat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagaiukuran tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normalsesuai dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besarbadannya. Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudianterjadi proses penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungandengan lanjutnya usia, maka individu tersebut relatif masihmempunyai tulang tobih banyak dari pada individu yang mempunyaitulang kecil pada usia yang sama.
Faktor mekanis
Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yangterpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungandengan lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa adainteraksi panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisihormonal. Pada umumnya aktivitas fisis akan menurun denganbertambahnya usia; dan karena massa tulang merupakan fungsibeban mekanis, massa tulang tersebut pasti akan menurun denganbertambahnya usia.
Kalsium
Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam prosespenurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya Lisia,terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan nutrisiyang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause,dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak,akan mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif,sedang mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinyajuga baik, menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaanini jelas, bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yangerat antara masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalamtubuhnya. Pada wanita dalam masa menopause keseimbangankalsiumnya akan terganggu akibat masukan serta absorbsinyakurang serta eksresi melalui urin yang bertambah. Hasil akhirkekurangan/kehilangan estrogen pada masa menopause adalahpergeseran keseimbangan kalsium yang negatif, sejumiah 25 mgkalsium sehari.
Protein
Protein juga merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhipenurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein akanmengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfatmelalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapibersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandungfosfor, maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsiummelalui urin. Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluarankalsium melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandungprotein berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadikeseimbangan kalsium yang negatif
Estrogen
Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akanmengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal inidisebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium darimakanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.
Rokok dan kopi
Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung akanmengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertaimasukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokokterhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafeindapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.
Alkohol
Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang seringditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderunganmasukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yangmeningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti .

4 Patofisiologi
Dalam keadaan normal, tulang dalam keadaan seimbang antara proses pembentukan dan penghancuran. Fungsi penghancuran (resorpsi) yang dilaksanakan oleh osteoklas, dan fungsi pembentukan yang dijalankan oleh osteoblas senantiasa berpasangan dengan baik. Fase yang satu akan merangsang terjadinya fase yang lain. Dengan demikian tulang akan beregenerasi. Keseimbangan kalsium, antara yang masuk dan keluar, juga memiliki peranan yang penting, bahkan merupakan faktor penentu utama untuk terjadinya osteoporosis adalah kadar kalsium yang masih terdapat pada tulang. Seseorang memiliki densitas tulang yang tinggi (tulang yang padat), mungkin tidak akan sampai menderita osteoporosis. Kehilangan kalsium tidak akan mencapai tingkat dimana terjadi osteoporosis. Lebih kurang 99% dari keseluruhan kalsium tubuh  berada di dalam tulang dan gigi. Apabila kadar kalsium darah turun di bawah normal, tubuh akan mengambilnya dari tulang untuk mengisinya lagi.
 Dengan bertambahnya usia, keseimbangan sistem mulai terganggu. Tulang kehilangan kalsium lebih cepat dibanding kemampuannya untuk mengisi kembali. Secara umum, osteoporosis terjadi saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih dominan dibanding fungsi pembentukan sel-sel tulang, karena pola pembentukan dan resopsi tulang berbeda antar individu. Para ahli memperkirakan ada banyak faktor yang berperan mempengaruhi keseimbangan tersebut. Kadar hormon tiroid dan paratiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dalam jumlah yang lebih banyak. Obat-obat golongan steroid pun dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dari tulang.
Description: C:\Users\user\Documents\funliciousanggrisya  PATOFISIOLOGI OSTEOPOROSIS_files\preview_html_m2b652d23.gif

Proses pembentukan dan penimbunan sel-sel tulang mencapai  kepadatan maksimal berjalan paling efisien sampai umur mencapai 30 tahun, dengan bertambahnya usia, semakin sedikit jaringan tulang yang dibuat. Dengan usia yang lanjut, jaringan tulang yang hilang semakin banyak. Penelitian memperlihatkan bahwa setalah mencapai usia 40 tahun, akan kehilangan tulang sebesar 0,5% setiap tahunnya. Pada wanita dalam masa pascamenopause, keseimbangan kalsium menjadi negatif dengan tingkat 2 kali lipat dibanding sebelum menopause. Faktor hormonal menjadi sebab mengapa wanita dalam masa pascamenopause mempunyai resiko lebih besar untuk menderita osteoporosis. Pada masa menopause, terjadi penurunan kadar hormon estrogen. Estrogen memang merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencegah hilangnya kalsium tulang. Selain itu, estrogen juga merangsang aktivitas osteoblas serta menghambat kerja hormon paratiroid dalam merangsang osteoklas.

5 Manifestasi Klinis
1.      Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat
2.      Fraktur kompressi pada vertebra (paling sering Th 11 dan 12 )
3.      Nyeri timbul mendadak
4.      Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang
5.      Nyeri berkurang pada saat istirahat di tempat tidur
6.      Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambahkarena melakukan aktivitas
7.      Deformitas vertebra thorakalis
8.      Penurunan tinggi badan

6 Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan

 7 Pemeriksaan Diagnostik
a.    Pemeriksaan radiologik
Dilakukan untuk menilai densitas massa tulang sangat tidak sensitif. Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah penipisan korteks dan daerah trabekuler yang lebih lusen.Hal ini akan tampak pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame vertebra.
b.    Pemeriksaan densitas massa tulang (Densitometri)
Densitometri tulang merupakan pemeriksaan yang akurat dan untuk menilai densitas massa tulang, seseorang dikatakan menderita osteoporosis apabila nilai BMD ( Bone Mineral Density ) berada dibawah -2,5 dan dikatakan mengalami osteopenia (mulai menurunnya kepadatan tulang) bila nilai BMD berada antara -2,5 dan -1 dan normal apabila nilai BMD berada diatas nilai -1.
Beberapa metode yang digunakan untuk menilai densitas massa tulang:
1.    Single-Photon Absortiometry (SPA)
Pada SPA digunakan unsur radioisotop I yang mempunyai energi photon rendah guna menghasilkan berkas radiasi kolimasi tinggi. SPA digunakan hanya untuk bagian tulang yang mempunyai jaringan lunak yang tidak tebalseperti distal radius dan kalkaneus.
2.    Dual-Photon Absorptiometry (DPA)
Metode ini mempunyai cara yang sama dengan SPA. Perbedaannya berupa sumber energi yang mempunyai photon dengan 2 tingkat energi yang berbeda guna mengatasi tulang dan jaringan lunak yang cukup tebal sehingga dapat dipakai untuk evaluasi bagian-bagian tubuh dan tulang yang mempunyai struktur geometri komplek seperti pada daerah leher femur dan vetrebrata.
3.    Quantitative Computer Tomography (QCT)
Merupakan densitometri yang paling ideal karena mengukur densitas tulang secara volimetrik.
c.    Sonodensitometri
Sebuah metode yang digunakan untuk menilai densitas perifer dengan menggunakan gelombang suara dan tanpa adanya resiko radiasi.
d.   Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI dalam menilai densitas tulang trabekula melalui dua langkah yaitu pertama T2 sumsum tulang dapat digunakan untuk menilai densitas serta kualitas jaringan tulang trabekula dan yang kedua untuk menilai arsitektur trabekula.
e.    Biopsi tulang dan Histomorfometri
f.     Merupakan pemeriksaan yang sangat penting untuk memeriksa kelainan metabolisme tulang.
g.    Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan lokasi yang paling berat. Penipisa korteks dan hilangnya trabekula transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nukleus pulposus ke dalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
h.    CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm3baisanya tidak menimbulkan fraktur vetebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dibawah 65 mg/cmada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.
i.      Pemeriksaan Laboratorium
1.    Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
2.    Kadar HPT (pada pascamenoupouse kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi ekstrogen merangsang pembentukkan Ct)
3.    Kadar 1,25-(OH)2-D3 absorbsi Ca menurun.
4.    Eksresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

8 Penatalaksanaan Medis
Adapun penatalaksanaan osteoporosis adalah sebagai berikut.
1.Prinsip Pengobatan
a.       Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapatmeningkatkan pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroidanabolik
b.      Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapatmengahambat resorbsi tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogendan difosfonat.
2. Pencegahan
Pencegahan sebaiknya dilakukan pada usia pertumbuhan/dewasa muda,hal ini bertujuan:
a.       Mencapai massa tulang dewasa Proses konsolidasi) yang optimal
b.      Mengatur makanan dan life style yang menjadi seseorang tetap bugar, seperti:
1. Diet mengandung tinggi kalsium (1000 mg/hari)
2. Latihan teratur setiap hari
3. Hindari :
a.       Makanan tinggi protein
b.      Minum alkohol
c.       Merokok
d.      Minum kopi
e.       Minum antasida yang mengandung aluminium.

0 komentar:

Posting Komentar