About

Senin, 03 November 2014

Teori Kewirausahaan

Entrepreneurship merupakan kemungkinan untuk mendapatkan dorongan khusnya pada nilai-nilai social budaya masyarakat manusia, agama (kepercayaan), adat istiadat yang dapat mempengaruhi perilaku individu dalam masyarakat. Pengusaha social adalah individu dengan inovasi untuk masyarakat pada masalah social yang paling terkini. Mereka ambisius dan gigih dalam menanggulangi masalah social dan menawarkan ide-ide baru untuk perubahan. Juga memecahkan masalah dengan mengubah system, menyebarkan solusi dan membujuk seluruh masyarakat mamengambil lompatan baru.
Setiap pengusaha social menyajikan ide-ide yang mudah dimengerti dan melibatkan dukungan yang luas untuk memaksimalkan jumlah orang local yang akan diberdayakan.
Pengusaha social bertindak sebagai agen perubahan bagi masyarakat, memanfaatkan peluang, perbaikan system, memunculkan pendekat baru, dan menciptakan solusi untuk mengubah masyarakat.
Sosiologi memfokuskan pada teori yang ditujukan ada peran, norma-norma social, legitimasi, serta mobilitas social. Dalam memahami kewirausahaan dalam masyarakat.
Menurut sosiologi tidak atau adanya umpan social dapat meotivasi individu unuk mengambil usaha kewirausahaan. Beberapa hal yang penting yang meneterbelakangi ;
1.      Keluarga
 factor ini berarti memperhatikan umlah anggota keluarga, jenis keluarga, berdasarkan situasi ekonominya. Hal ini menyediakan keamanan keungan yag lebih baik dalam bentuk kepemilikan harta bersama, yang memungkinkan seorang individu elakukan resiko bisnis. System keluarga bersama juga membantu dalam ekstani bisnis. Kekurangan usaha keluarga bersama adalah kurangnya kemandirian dalam hal pengambilan keputusa.

2.      Agama
Dalam masyarakat tertentu agama memiliki pengaruh kuat pada diri seseorang untuk kehidupan sehari-hari  Agama bertindak sebagai factor yang mempengaruhi kewirausahaan.
Agama Islam Misalnya : Allah telah memberikan kemampuan untuk bekerja dan dilarang untuk mengemis. Hal ini mengakibatkan seseorang harus bisa berusaha. 
Prinsip keagamaan yang berhubungan dengan kewirausahaan yaitu ;
a.       Persaudaraan universal manusia
b.      Pengabdian kepada tuhan sebagai kekuatan social untuk pelayanan social
c.       Semua usaha pribadi dan social merupakan persembahan efisiensi seseorang pada Tuhannya
d.      Pembangunan dan pemeliharaan obligasi antara manusia untuk meningkatkan kualitas, martabat manusia dan kasih saying antar makhluk.
Jadi berdasarkan prinsip-prisip tersebut, seseorang yang taat beragama akan termotivasi untuk membuka dan mengembangkan suatu peluang kewirausahaan yang akan memberikan kesempatan atau lowongan pekerjaan bagi masyarakat banyak. Minimal wirausaha tersebut berguna untuk mengembangkan potensi diri sendiri.  setelah wirausaha itu berhasil, barulah bisa dikembangkan dan menghasilkan lowongan pekerjaan bagi orang lain.
3.      Usia
Produktivitas kerja dipengaruhi oleh usia seseorang dalam berwirausaha dimana semakin mud seseorang maka produktivitasnya semakin baik karena orang muda memiliki stamina yang lebih di banding yang sudah berumur.

4.      Tempat Tinggal
Latar belakang lingkungan tempat tinggal seseorang sangat mempengaruhi dimana biasanya seseorang yang tinggal di lingkungan yang memiliki tingkat pendidikan yagn lebih tinggi akan lebih kreatif dan termotivasi untuk berwirausaha dibanding dengan seseorang yang tinggal di daerah yang tingkat pendidikannya kurang.
Selain itu, seseorang yang tinggal di lingkungan yang lokasi geografinya strategis untuk memiliki peluang baik dalam berwirasaha. Misalnya, di Kota Padang, masyarakat Padang lebih berpeluang untuk membuka usaha rumah kontarakan atau sewaan

5.      Pekerjaan
Pekerjaan seseorang dapat mengantarkan seseorang untuk menemukan peluang baru. Sebagai contoh, ahli kimia atau fisika lebih dulu dalam menemukan teknologi dibandingkan ahli sejarah karena penelitian memberikan mereka akses pada informasi tentang peluang dimana orang lain tidak mendapatkannya (Freeman, 1982). Diantara tipe-tipe pekerjaan yang menyediakan akses pada informasi, yang paling signifikan adalah Research and Development (Klepper dan Sleeper, 2001). Karena penelitian dan pengembangan menciptakan sebuah informasi baru yang menyebabkan perubahan teknologi, sehingga menjadi sebuah sumber utama dari peluang (Aldrich, 1999) maka orang yang bekerja dalam bidang penelitian dan pengembangan akan lebih cepat mengetahui tentang adanya peluang dan perkembangan teknologi dibandingkan orang lain.
Contoh yang paling dekat dengan kita adalah penemuan VCO oleh dosen MIPA Kimia UGM, Bapak Bambang Prastowo. Beliau adalah seorang peneliti. Beliau menemukan cara untuk mengambil minyak kelapa tanpa ada proses pemanasan. Hasilnya, ternyata minyak tersebut memiliki khasiat yang banyak dan lebih baik. Hasilnya penelitiannya beliau jual dan mendapatkan keuntungan banyak.

6.      Tingkat pendidikan
Seseorang ag meiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih bisa mengeksploitasikan kesempatan untuk berwirausaha karena mereka lebih mengetahui peluang-peluang wirausaha yang mungkin dijalankan sesuai dengan bidangnya. Contohnya seorang sarjana perawat bisa membuka home care karena dia mempunyai skill di sana. Jadi, seseorang yang hanya lulusan SMA kecil kemugkinan terpikir untuk membuka usaha home care.

7.      Budaya

8.      Ikatan Sosial
Salah satu cara yang penting agar individu bisa mendapatkan akses informasi tentang peluang kewirausahaan adalah melalui interaksi dengan orang lain atau jejaring sosial mereka. Struktur dari jejaring sosial seseorang akan mempengaruhi informasi apa yang mereka terima dan mengkategorikan informasi tersebut.
Ikatan yang kuat pada seseorang yang kita percayai sepenuhnya, juga sangat menguntungkan dalam menemukan peluang. Dalam ikatan yang kuat, terdapat kepercayaan sehingga individu dapat mempercayai sepenuhnya keakuratan informasi yang datang dari orang tersebut. Kepercayaan dalam keakuratan informasi merupakan hal yang penting untuk penemuan peluang karena wirausahawan membutuhkan akses informasi, dan selanjutnya mensintesiskannya.
Beberapa penelitian mendukung pendapat ini bahwa ikatan sosial meningkatkan kemungkinan seseorang dalam menemukan peluang kewirausahaan. Sebagai contoh, Zimmer dan Aldrich (1987) mempelajari kelompok etnik yang bekerja secara mandiri di tiga kota di Inggris dan menemukan bahwa kebanyakan pemilik usaha mendapatkan informasi tentang peluang kewirausahaan melalui channel mereka.

9.      Akses Informasi
Beberapa orang mampu mengenali peluang lebih baik karena mereka memiliki informasi lebih dibandingkan orang lain (Hayek, 1945; Kirzner, 1973). Informasi ini memungkinkan seseorang untuk mengetahui bahwa sebuah peluang adalah sebuah anugerah ketika orang lain mengabaikan situasi tersebut. Informasi pengalaman hidup yang spesifik, seperti pekerjaan atau kehidupan sehari-hari dapat memberikan akses pada informasi dimana orang lain belum tentu mendapatkannya (Venkataraman, 1997). Pengalaman hidup ini memberikan proses permulaan pada informasi bahwa orang lain telah menggunakan sumberdaya secara tidak lengkap atau tidak proporsional, seperti perubahan teknologi atau perkembangan peraturan yang baru.
  1. Pengalaman hidup
Aktivitas tertentu memberikan referensi pada pengatahuan yang dibutuhkan untuk mengetahui peluang. Dalam faktanya, penelitian sebelumnya telah menunjukkan kejadian dari dua aspek pengalaman hidup yang meningkatkan probabilitas seseorang untuk mengetahui peluang yaitu pekerjaan dan pengalaman yang berbeda.
Variasi dalam pengalaman hidup menyediakan akses pada informasi yang baru dan dapat membantu seseorang dalam menemukan peluang. Penemuan peluang ini kadang seperti menyusun puzzle, karena sebuah kepingan informasi yang baru kadang memiliki elemen yang hilang dan membutuhkan kecermatan bahwa peluang baru telah hadir. Variasi dalam pengalaman menyebabkan seseorang akan menerima informasi yang baru. Selanjutnya, dari hal tersebut individu dapat menemukan kepingan peluang (Romanelli dan Schoonhoven, 2001) karena individu dengan pengalaman hidup dan pekerjaan yang banyak akan memiliki akses dalam pengalaman yang beranekaragam (Casson, 1995).
Delmar dan Davidsson (2000) telah membandingkan sampel secara acak dari 405 orang yang memiliki bisnis dengan sebuah kelompok kontrol yang juga dipilih secara acak dan menemukan bahwa dalam proses memulai sebuah bisnis umumnya mereka adalah orang yang sering berpindah-pindah kerja dibandingkan kelompok kontrol.
Teori Budaya
Kewirausahaan merupakan produk budaya. Wirausaha berasal dari nilai-nilai budaya dan system budaya yang telah tertanam dalam lingkungan masyarakat. Menurut teori Hoselistz pasokan kewirausaahaan diatur oleh factor budaya, dan kelompok budaya minoritas dari kewirausahaan dan ekonomi pembangunan. Di banyak Negara pengusaha telah muncul dari social ekonomi kelas tertentu.
Teori nilai budaya dikemukakan oleh Cochran Thomas—Pengusaha itu adalah bukan individu super normal tetapi mereka adalah anggota masyarakat yang memiliki modal kepribadian.
Kinerja pengusaha dipengaruhi oleh tiga factor :
  1. Sikap diri terhadap pekerjaan
  2. Keutuhan Operasional kerja
  3. Harapan peran yang dimintai oleh kepuasan kelompok
Dimensi budaya memberikan landasan pengembangan nilai-nilai individu yang tercermin dalam sifat dan prilakunya. Dalam studi baru-baru ini kewirausahaan dan kebudayaan telah dikaitkan di tingkat makro dan miokro sebagai contoh kebudayaan nasional mempengaruhi pembentukan aliansi teknologi oleh perusahaan kewirausahaan ( steensmaet al 2000).  Atau bentuk manifestasi dari prilaku kewirausahaan, seperti perjuangan dalam organisasi ( shane 1994). Pada tingkat mikro pengaruh nilai budaya tentang kewirausahaan telah ikut mengambil andil. Beberapa studi menunjukan bahwa pengusaha memiliki daya jarak yang lebih tinggi, individualism, maskulinitas dan menghindari ketidakpastian lebih rendah, dibandingkan dengan manajer (Mc.Grathet Al, 1992;.Busenitz dan Lau,1996). Disisi lain, studi yang dilakukan diportugal (Al Morriset, 1994) atau Israel (al Baumet.,1993) menemukan tidak adanya hubungan antara individualism dan kewirausahaan.
Inkonsistensi ini menunjukkan kebutuhan untuk mengeksplorasi kemungkinan efek mediasi atau moderasi. Nilai – nilai budaya yang dianggap memiliki pengaruh yang signifikjan terhadap sikap-sikap kepribadian (Hofstede dan Mc Crae,2004) sehingga memberikan kita dengan mediator potensial yang penting. Secara khusus, mengandaikan bahwa budaya individu mempengaruhi kecenderungan nilai kewirausahaan individu, tidak secara langsung tetapi melalui kognisi individu.
PELUANG KEWIRAUSAHAAN DI BIDANG SOCIAL DAN ANTROPOLOGI
Kewirausahaan mengalami perubahan seiring dengan kemajuan teknologi, agama, dan perubahan system nilai social.
Pembelajaran untuk mencapai kesuksesan menurut Murphy seseorang harus bias membuat komitmen, mampu menemukan masalah dan menyelesaikannya, berfikir luas, up date, keyakinan pada diri sendiri, berani mengambil resiko, belajar memimpin, bertahan, dan siap untuk menang.
Faktor-faktor social yang menghambat kewirausahaan. Kegiatan kewirausahaan tidak terbatas dan harus diperluas ke berbagai konteks. Ada banyak peluang antara lain :
  1. Bidang pendidikan. Merupakan sector yang sudah menunggu pengusaha untuk mengeksploitasi berbagai kemungkinan. Pendidikan yang belum merata dan banyaknya sekolah-sekolah yang tidak memiliki insfrastruktur yang lengkap.
  2. Bidang kesehatan. Pengadaan alat-alat kesehatan, pengelolaan ketenagakerjaan dan lain-lain.
  3. Bidang Pertanian. Inovasi metode-metode pertanian, irigasi, teknologi pertanian,
  4. Bidang pariwisata


0 komentar:

Posting Komentar